Dengarkan Artikel
Oleh Heri Iskandar
Cara Mudah Merawat Logika
–‐————‐————————————
Jum’at, 27/3/2026 (Edisi 1683)
"Apa kesimpulan kau tentang materi khutbah Jum'at tadi Bib? Ada hal yang khusus tidak?"
"Itu sebuah sindiran bahwa kita hanya takut kepada yang belum pasti tapi melupakan sesuatu yang pasti."
"Yang belum pasti itu apa?"
"Akhir dari perjalanan kita di dunia ini."
"Yang beliau maksudkan tentang kematian bukan?"
"Ya, betul!"
"Yang bisa kau simpulkan seperti apa?"
"Ada dua hal!"
"Boleh juga kalau kau mau menguraikan kembali."
"Pertama kita tidak pernah menjadikan kematian orang lain sebagai pelajaran."
"Pelajaran bagaimana yang dimaksudkan itu?"
"Bercontohlah pada kematian yang menimpa orang-orang hebat."
"Maksudnya bagaimana itu Bib?"
"Di saat-saat terakhir apa yang bisa ia banggakan? Hanya ditangisi secara singkat saja oleh orang-orang yang dicintainya. Tapi setelah dimasukan ke liang lahat bisa apa dia? Semua yang ditinggalkan di dunia akan melupakan dia begitu saja."
"Terus..?"
"Pelajarannya adalah, ketika masih di dunia ingatlah semua akan kita tinggalkan? Yang kita cari hingga menghalalkan segala cara tidak bisa menerangi gelapnya kubur atau melapangkan sempitnya liang lahat."
"Terus?"
"Apa yang kita bawa ke alam baqa nanti? Bisakah yang kita banggakan di dunia membantu kita di sana?"
"Satunya lagi apa..?"
"Sadarkah kita bahwa pencapaian yang kita banggakan di dunia semuanya bersifat semu?Tidak ada yang akan membuat kita terhormat di alam kubur selain amal ibadah. Dua pelajaran itulah yang menurut khatib tadi sering kita lupakan karena kita sibuk mengejar dunia."
"Hubungannya dengan perang Iran dengan negara laknatullah Israel apa? Kalau aku tidak salah dengar ada beliau kaitkan ke sana tadi."
"O itu sebagai salah satu contohnya saja!"
"Contoh bagaimana?"
"Semua kita takut akan terjadi perang dunia ketiga gara-gara perang Teluk. Tapi kita tidak pernah takut berbuat dosa yang membuat Allah murka."
"Di luar itu apa lagi?"
"Kita takut akan terjadi Perang Dunia Ketiga tapi tidak pernah takut menghadapi alam kubur."
"Kalau itu ada sempat kudengar."
"Kita juga sibuk membicarakan kehancuran Iran maupun Israel akibat saling serang. Tapi kita tidak pernah menyimak kehancuran moral yang terjadi di dalam keluarga kita."
"Itu juga ada aku dengar!"
"Yang terakhir adalah masing-masing kita sibuk memberi dukungan kepada negara yang berperang. Tapi kita malah melupakan cinta dan kepedulian terhadap negara sendiri."
"Kaitannya dengan tema kematian yang beliau kupas apa Bib?"
"Menurut ustad tadi ada dua kematian yang akan dihadapi oleh setiap jiwa."
"Itu yang tidak sempat aku simak. Jabarannya bagaimana itu?"
"Pertama kematian yang sifatnya pasti dan satunya lagi kematian hati nurani."
"Bagaimana itu..?"
“Orang hanya memikirkan tentang diri dan kepentingannya sendiri sana. Masalah inilah yang sedang melanda bangsa kita menurut khatib tadi. Akibatnya makin banyak anak bangsa yang rela menjadi pengkhianat asal kepentingan pribadinya tercapai..!”
🙏Heri Iskandar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 253x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 225x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 207x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 143x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.










