Dengarkan Artikel
Oleh: Rassyad Daffa Hanna
Siswa kelas XII Mas Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Banda Aceh, Ex ketua Humas OSMADA, yang berdomisili di Pantonlabu,Kecamatan Tanah Jambo Aye.
Pascabanjir bandang yang melanda sebagian wilayah Sumatra pada tahun 2025, ada jejak yang tidak mudah hilang begitu saja. Bukan hanya bekas lumpur yang mengering di dinding rumah, tetapi juga rasa kehilangan yang menetap di hati banyak orang.
Dari sekian banyak tempat yang terdampak, perhatian saya tertuju pada masyarakat Aceh Utara, tepatnya di Kecamatan Jambo Aye, Gampong Biara Timur dan Alue Papeun. Di sana, saya melihat langsung bagaimana hidup bisa berubah tanpa aba-aba.
Air datang bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai penguji. Ia merusak rumah, memadamkan listrik, dan memutus kepastian hidup yang sebelumnya terasa biasa. Malam menjadi lebih panjang dari biasanya, gelap bukan hanya karena lampu yang padam, tetapi juga karena masa depan yang belum jelas arahnya. Makanan menjadi sesuatu yang tidak selalu tersedia, dan bertahan hidup berubah menjadi usaha yang harus diperjuangkan setiap hari.
Saya menyaksikan itu semua dengan mata saya sendiri. Ada lelah yang tidak diucapkan, ada sedih yang disembunyikan, dan ada kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Beberapa dari mereka harus merelakan orang yang dicintai pergi tanpa sempat berpamitan. Namun di tengah semua itu, saya melihat sesuatu yang tidak ikut hanyut yaitu keyakinan.
Dalam keterbatasan, mereka tetap mengingat Sang Pencipta. Doa-doa tetap terangkat, meskipun suara kadang bergetar. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah mereka memahami bahwa di balik ujian, selalu ada makna yang sedang disiapkan. Dari situ saya belajar, bahwa tidak semua kekuatan terlihat, dan tidak semua harapan harus diucapkan.
Empat bulan setelah bencana, keadaan perlahan berubah. Tidak langsung pulih, tetapi cukup untuk memberi ruang bagi harapan tumbuh kembali. Listrik mulai menyala, bantuan mulai lebih terarah, dan kehidupan mulai menemukan ritmenya lagi. Rumah yang rusak belum sepenuhnya kembali seperti semula, tetapi semangat untuk memperbaikinya sudah lebih dulu hadir.
Yang paling membekas bagi saya adalah cara mereka menyambut bulan Ramadan. Dalam keadaan yang masih terbatas, mereka tetap menjalankannya dengan ketulusan. Sahur yang sederhana terasa cukup, berbuka yang apa adanya terasa berarti. Tidak ada yang berlebihan, tetapi justru di situlah letak kehangatannya. Kebersamaan terasa lebih jujur, dan syukur terasa lebih dekat.
Ketika Idul Fitri datang, suasananya berbeda. Bukan tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang apa yang berhasil dilewati. Ada senyum yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan cerita panjang tentang bertahan. Ada haru yang tidak perlu diperlihatkan, karena cukup dirasakan.
Dari apa yang saya lihat dan saya rasakan, saya memahami bahwa bencana memang bisa mengubah banyak hal, tetapi tidak selalu mampu mengubah arah hati seseorang. Harapan tetap ada, selama manusia memilih untuk tidak menyerah. Dan dari mereka, saya belajar bahwa bertahan bukan hanya soal kuat, tetapi juga tentang tetap percaya, meskipun keadaan tidak selalu berpihak.
Jln. Medan Banda Aceh, 24 Maret 2026, 10.44 – 14.31
Rassyad Daffa Hanna, Siswa kelas XII Mas Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Banda Aceh, Ex ketua Humas OSMADA, yang berdomisili di Pantonlabu,Kecamatan Tanah Jambo Aye.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










