HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Di Antara Takbir dan Keranda

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Maret 23, 2026
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Di Antara Takbir dan Keranda
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ADVERTISEMENT
🔊

Dengarkan Artikel

‎Oleh: Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
‎
‎(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari kisah yang viral di media sosial tentang seorang anak yang kehilangan ibunya menjelang Hari Raya Idul Fitri.) (1)
‎
‎—ooo—
‎
‎Pagi itu takbir menggema,
‎mengalir dari pengeras suara
‎ke dada yang berdebar pelan.
‎
‎Orang-orang mengenakan baju baru,
‎menjahit senyum
‎di wajah yang sudah lama
‎menunggu hari raya tiba.
‎
‎Di rumah-rumah,
‎ibu menata ketupat,
‎ayah membentangkan karpet,
‎menyambut tangan-tangan
‎yang akan datang bersalaman.
‎
‎Anak-anak berlari,
‎dengan sepatu baru
‎yang masih kaku menyentuh halaman.

‎Hari raya selalu tentang opor hangat,
‎tentang peluk yang ditunggu datang,
‎tentang perayaan
‎yang sarat kebersamaan
‎
‎Namun tidak bagi Ardi.
‎
‎Di sudut masjid yang lengang,
‎seorang anak duduk diam
‎di depan keranda.
‎
‎Tatapannya kosong,
‎Tubuhnya kehilangan jiwa
‎seolah dunia baru saja dicabut
‎dari dalam dirinya.
‎Air matanya jatuh
lepas tanpa kendali.
‎
‎Ia tak mengenakan baju baru.
‎Tak ada tangan yang merapikan kerahnya.
‎Tak ada suara yang tergesa
‎menyuruhnya bersiap berangkat.
‎
‎Yang tersisa hanya tubuh kaku
‎terbaring dalam balut putih.
‎
‎Sunyi.
‎
‎—ooo—
‎
‎“Bu, bangun… ini hari raya.
‎Aku rindu ketupat buatanmu.”
‎
‎Tak ada jawaban.
‎
‎Hanya tangis
‎yang berbaur dengan takbir
‎yang terus menggema.
‎
‎Tangis itu runtuh.
‎Kehilangan itu datang
‎tanpa aba-aba.
‎
‎Dunianya mendadak kosong,
‎saat semua orang merayakan isi
‎
‎—ooo—
‎
‎Sejak kecil,
‎Ardi terbiasa kehilangan.
‎
‎Ayahnya pergi,
‎meninggalkan rumah
‎tanpa jejak kembali.
‎
‎Tak ada tangan yang menuntunnya tumbuh,
‎tak ada bahu tempatnya menopang
‎selain satu nama: ibu.
‎
‎Perempuan itu
‎menjahit luka menjadi sabar,
‎menanak harapan
‎di dapur yang nyaris padam,
‎Ibu menjadi alasan
‎Ardi bertahan.
‎
‎Namun tumpuan itu kini runtuh
‎Ia kehilangan
satu-satunya tempat bersandar
‎
‎—ooo—
‎
‎Ardi berdiri tegap
‎meski lututnya gemetar
‎ia ikut mengangkat keranda
‎bersama tangan-tangan dewasa.
‎
‎Di pundaknya,
‎bukan hanya beban kayu
‎dan tubuh yang membeku,
‎tetapi seseorang
‎yang paling ia sayang
‎
‎Setiap langkah
‎adalah perpisahan
‎yang dipaksa diikhlaskan
‎
‎Ia menatap wajah ibunya,
‎mencium kening
‎yang telah tertutup kafan.
‎
‎Tak ada lagi yang bisa dipeluk,
‎selain dingin
‎yang tak menjawab.
‎
‎Saat liang itu terbuka,
‎waktu seperti ditahan.
‎
‎Orang-orang menunduk.
‎Ardi berdiri paling dekat.
‎
‎Dengan suara yang pecah,
‎ia melangkah maju,
‎mengumandangkan adzan terakhir
‎ke telinga bumi
‎yang akan memeluk ibunya.
‎
‎Allahu Akbar… Allahu Akbar…
‎
‎Suaranya bergetar,
‎namun tidak roboh.
‎
‎Seolah ia ingin memastikan:
‎bahkan di peristirahatan terakhir,
‎ibunya tidak sendiri.
‎
‎Bahwa dari seluruh yang hilang,
‎ia masih bisa memberi
‎doa untuk mengantarnya pulang.
‎
‎—ooo—
‎
‎Pemakaman itu berlangsung
‎di antara gema hari raya.
‎
‎Tanah dibuka,
‎dan dunia Ardi
‎ditutup perlahan.
‎
‎Ia menaburkan bunga di pusara
‎tangisan tak lagi bersuara
‎Air mata tak lagi bisa mengobati
Luka itu tetap ada,
‎menganga
‎di tengah dunia yang bersuka cita.
‎
‎Lebaran bagi Ardi
‎bukan lagi kemenangan.
‎
‎Ia adalah hari
‎ketika segalanya
‎diambil dalam satu waktu.
‎
‎Takbir tetap berkumandang,
‎namun di telinganya
‎ia pecah menjadi retak
‎
‎diam,
‎menetap,
‎dan tak pernah benar-benar hilang.
‎
‎Catatan:
‎(1)https://www.instagram.com/reel/DWLQ86uDPey/?igsh=MWp4YXBuODFtNnd6dQ==
‎

Baca Juga

Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026
Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang

Serakah Teguk Derita

Januari 3, 2026
Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Desember 31, 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 173x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 159x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 146x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 126x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 121x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli
Iran

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026
Budaya

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026
Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?
Kebencanaan

Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?

Maret 22, 2026
Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang
Bencana

Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang

Maret 22, 2026
Next Post
Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com