Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Pagi ini, hari raya ke tiga, pagi-pagi usai olahraga ringan di depan rumah, saya mengajak isteri pergi ke Bate Iliek yang lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari rumah. Saya menghidupkan mobil dan bergerak menuju Bate Iliek. Hanya dalam hitungan menit, kami tiba di kepala jembatan Bate Iliek.
Saya mengambil handphone dan meminta istri membuat video dari atas jembatan yang kami lewati. Mata mengarah ke bagian hilir sungai seraya mengungkap perasaan kaget.
Ya, rasa kaget melihat perubahan sungai Bate Iliek yang begitu drastis. Ya, bagi masyarakat Aceh atau luar Aceh yang pernah singgah menikmati keindahan sungai dan menikmati sajian kuliner yang disajikan para penjaja makanan di kawasan Bate Iliek, pasti punya memori tentang Bate Iliek sebelumnya.
Kita coba cari tahu lebih jauh tentang eksistensi Bate Iliek dari beberapa referensi. Berdasarkan amatan dan cerita lisan dari orang-orang yang mengenal Bate Iliek. Ya, sungai Bate Iliek selama ini dikenal sebagai kawasan wisata atau objek wisata sungai yang selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung dari lokal, maupun dari luar wilayah Bireun dan Pidie Jaya. Bagi masyarakat Kabupaten Bireun dan Pidie Jaya, yang lokasinya berdekatan, kawasan ini tentu menjadi kawasan yang sangat sering dikunjungi, sebab letaknya hanya beberapa ratus meter dari kecamatan Bandardua, Ule Gle, Pidie Jaya yang berbatas dengan desa Meurandeh Alue, dengan desa Bate Iliek yang masuk ke wilayah administratif Kecamatan Samalanga, Bireun.
Sehingga , apa yang tersimpan dalam memori orang-orang yang sudah pernah singgah dan berwisata di Bate Iliek, adalah sungai yang dipenuhi oleh batu-batu gajah. Ya, batu-batu besar dan licin yang memenuhi sungai. Bate Iliek mungkin dikenang juga dengan air sungai yang jernih dan sejuk yang mengalir di antara batu-batu gajah sepanjang sungai.
Maka, bila kita telusuri dari sejarah Batee Iliek, dalam lintasan sejarah seperti dalam catatan Wikipedia memaparkan bahwa Bate Iliek yang terletak di Samalanga, Kabupaten Bireuen. Bate Iliek adalah benteng pertahanan legendaris pejuang Aceh melawan Belanda. Sehingga tempat ini dikenal sebagai medan pertempuran yang sulit ditembus Belanda hingga tahun 1901. Jadi, Bate Iliek kala itu menjadi pusat pertahanan gunung, keagamaan, dan gerilya yang dipimpin oleh para ulama dalam Perang Aceh.
Nah, sebagai benteng pertahanan selama Perang Aceh (1873-1912), Batee Iliek menjadi benteng pertahanan utama yang sangat sulit dikalahkan oleh pasukan Belanda karena lokasinya strategis di perbukitan dan sungai.
Konon secara historis menyebutkan bahwa Belanda berkali-kali mencoba menaklukkan benteng ini. Tercatat pula ekspedisi besar-besaran terjadi pada 30 Juni 1880 dan 13 Juli 1880, di mana pasukan Belanda banyak yang tewas. Pertahanan ini akhirnya berhasil ditembus oleh Belanda pada 3 Februari 1901, namun kisah kepahlawanannya tetap melegenda.
Bukan hanya itu, Bate Iliek juga dikenal sebagai kubu Syuhada Lapan. Hal ini ditandai dengan adanya lokasi historis “Kubu Syuhada Lapan” di Simpang Mamplam, tempat 8 pejuang syahid pada tahun 1902 saat melawan pasukan Marsose Belanda.
Sebagai lokasi Kubu Syuhada Lapan, sudah pasti kawasan ini juga dikenal sebagai pusat keagamaan. Maka, selain medan perang, kawasan ini merupakan pusat keagamaan, salah satunya ditandai dengan berdirinya Dayah Jamiah Al-Aziziyah.
Sementara sebutan Bate Iliek secara etimologis berasal dari kata batee (batu) dan iliek (mengalir). Makna kedua kata tersebut, menggambarkan sekumpulan batu yang dialiri air. Batu -batu yang ada di sungai Bate Iliek adalah batu-batu besar yang kita kenal dengan sebutan batu gajah. Batu-batu gajah itu ada di sepanjang sungai mulai dari hulu.
Keberadaan batu-batu gajah itu menjadi ciri khas Bate Iliek dengan arus air yang mengalir deras di sela-sela batu-batu gajah. Para pengunjung kawasan ini menikmati sejuknya air di antara batu-batu gajah itu. Para pengunjung harus melawan arus air kala mandi dan berenang. Namun para pengunjung juga bisa berenang di kawasan kuliner di arah hilir dari jembatan Bate Iliek.
Tidak jauh dari jembatan Bate Iliek dibangun irigasi untuk mengairi sawah-sawah yang berada di kecamatan Samalanga dan juga kecamatan Ule Gle. Dekat tanggul itu airnya dalam dan menjadi tempat pengunjung mandi dan berenang bersama keluarga. Karena ini adalah tempat permandian keluarga, maka di tempat ini banyak orang yang menyewakan ban untuk pengunjung berenang. Selain itu juga banyak pedagang makanan yang menjajakan makanan-makan kecil dan minuman yang dibutuhkan para pengunjung. Sehingga geliat ekonomi masyarakat sekitar terjadi dan memberdayakan mereka.
Sejak terjadinya bencana banjir badang dan tanah longsor yang berupa bencana hidrometeorologi, pada tanggal 25 November 2025 selama beberapa hari. Wajah Bate Iliek kemudian berubah 180 derajat. Banjir bandang dan tanah longsor itu telah menyebabkan batu-batu gajah hilang dari sungai. Apakah hanyut dibawa air atau memang tertimbun oleh batu-batu kerikil atau corak yang juga menutupi tebing-tebing sungai.
Apa yang kita saksikan adalah permukaan sungai sudah tinggi dan membentuk tampilan sungai baru dengan batu-batu kerikil. Tidak lagi kita saksikan air mengalir di sela-sela batu gajah seperti sebelum bencana. Bate Iliek telah kehilangan ciri khasnya dengan batu-batu gajah dan berganti dengan kerikil atau coral. Permukaan sungai pun sudah terlihat sama dengan sungai-sungai lain dengan batu-batu kecil.
Perubahannya bukan hanya itu. Ternayata, kawasan yang airnya dalam dan sebelumnya menjadi tempat mandi dan berenang, kini telah hilang. Artinya sudah tidak ada lagi tempat mandi dan berenang dengan menggunakan ban-ban mobil yah disewakan oleh para pengelola kawasan itu.
Sedihnya, bukan hanya itu, secara ekonomi ketika tidak ada lagi tempat berenang, maka kegiatan sewa menyewa ban juga hilang. Hilangnya kegiatan sewa menyewa ban, berarti hilang pula sumber pencaharian masyarakat yang biasanya bisa mengumpulkan rezeki dari penyewaan ban tersebut.
Hal lain yang juga menyedihkan adalah ketika nuansa Bate Iliek kehilangan ciri khas dan tempat rekreasi mandi dan berenang, membuat para pengunjung berkurang. Dampak dominonya adalah masyarakat pelaku usaha di kawasan Bate Iliek pun ikut merasakan dampak panjang.
Oleh sebab itu, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Bate Iliek, bukan saja menghilangkan batu-batu gajah, tempat pemandian dan sewa menyewa ban, tetapi juga kehilangan sumber kehidupan masyarakat sekitar.
Kondisi ini, tentu akan mempersulit dan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat, khususnya pelaku ekonomi di kawasan ini. Pemerintah daerah khususnya harus lebih peka melihat kondisi ini dan harus melakukan intervensi agar tidak membuat masyarakat hidup dalam kesulitan. Pemerintah provinsi dan kabupaten Bireun tidak boleh diam dan hanya menonton. Sebab, ketika masyarakat kehilangan sumber pencaharian, masalah sosial yang bakal muncul. Oleh sebab itu, bergerak lah, sebelum Bate Iliek juga berubah menjadi Bate Kerikil atau Bate Coral.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








