HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Maret 23, 2026
in Cerita Perjalanan
Reading Time: 5 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Pagi ini, hari raya ke tiga, pagi-pagi usai olahraga ringan di depan rumah, saya mengajak isteri pergi ke Bate Iliek yang lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari rumah. Saya menghidupkan mobil dan bergerak menuju Bate Iliek. Hanya dalam hitungan menit, kami tiba di kepala jembatan Bate Iliek. 

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Niat Bertugas di Daerah Bencana itu Terwujud 

Maret 20, 2026

Di Jalan Pulang

Oktober 15, 2025

Rahasia Di Balik Pulau Terpencil

Agustus 8, 2025

Saya mengambil handphone dan meminta istri membuat video dari atas jembatan yang kami lewati. Mata mengarah ke bagian hilir sungai seraya mengungkap perasaan kaget. 

Ya, rasa kaget melihat perubahan sungai Bate Iliek yang begitu drastis. Ya, bagi masyarakat Aceh atau luar Aceh yang pernah singgah menikmati keindahan sungai dan menikmati sajian kuliner yang disajikan para penjaja makanan di kawasan Bate Iliek, pasti punya memori tentang Bate Iliek sebelumnya.

Kita coba cari tahu lebih jauh tentang eksistensi Bate Iliek dari beberapa referensi. Berdasarkan amatan dan cerita lisan dari orang-orang yang mengenal Bate Iliek. Ya, sungai Bate Iliek selama ini dikenal sebagai kawasan wisata atau objek wisata sungai yang selalu ramai dikunjungi oleh para pengunjung dari lokal, maupun dari luar wilayah Bireun dan Pidie Jaya.  Bagi masyarakat Kabupaten Bireun dan Pidie Jaya, yang lokasinya berdekatan, kawasan ini tentu menjadi kawasan yang sangat sering dikunjungi, sebab letaknya hanya beberapa ratus meter dari kecamatan Bandardua, Ule Gle, Pidie Jaya  yang berbatas  dengan desa Meurandeh Alue, dengan desa Bate Iliek yang masuk ke wilayah administratif Kecamatan Samalanga, Bireun.

Sehingga , apa yang tersimpan dalam memori orang-orang yang sudah pernah singgah dan berwisata di Bate Iliek, adalah sungai yang dipenuhi oleh batu-batu gajah. Ya, batu-batu besar dan licin yang memenuhi sungai. Bate Iliek mungkin dikenang juga dengan air sungai yang jernih dan sejuk yang mengalir di antara batu-batu gajah sepanjang sungai.

Maka, bila kita telusuri dari sejarah Batee Iliek,  dalam  lintasan sejarah seperti dalam catatan  Wikipedia memaparkan bahwa Bate Iliek yang terletak di Samalanga, Kabupaten Bireuen. Bate Iliek adalah benteng pertahanan legendaris pejuang Aceh melawan Belanda. Sehingga tempat ini dikenal sebagai medan pertempuran yang sulit ditembus Belanda hingga tahun 1901. Jadi, Bate Iliek kala itu menjadi pusat pertahanan gunung, keagamaan, dan gerilya yang dipimpin oleh para ulama dalam Perang Aceh. 

Nah, sebagai benteng pertahanan selama Perang Aceh (1873-1912), Batee Iliek menjadi benteng pertahanan utama yang sangat sulit dikalahkan oleh pasukan Belanda karena lokasinya strategis di perbukitan dan sungai.

Konon secara historis menyebutkan bahwa Belanda berkali-kali mencoba menaklukkan benteng ini. Tercatat pula ekspedisi besar-besaran terjadi pada 30 Juni 1880 dan 13 Juli 1880, di mana pasukan Belanda banyak yang tewas. Pertahanan ini akhirnya berhasil ditembus oleh Belanda pada 3 Februari 1901, namun kisah kepahlawanannya tetap melegenda.

Bukan hanya itu, Bate Iliek juga dikenal sebagai kubu Syuhada Lapan. Hal ini ditandai dengan adanya lokasi historis “Kubu Syuhada Lapan” di Simpang Mamplam, tempat 8 pejuang syahid pada tahun 1902 saat melawan pasukan Marsose Belanda.

Sebagai lokasi Kubu Syuhada Lapan, sudah pasti kawasan ini juga dikenal sebagai pusat keagamaan. Maka, selain medan perang, kawasan ini merupakan pusat keagamaan, salah satunya ditandai dengan berdirinya Dayah Jamiah Al-Aziziyah. 

Sementara sebutan Bate Iliek secara etimologis berasal dari kata batee (batu) dan iliek (mengalir). Makna kedua kata tersebut, menggambarkan sekumpulan batu yang dialiri air. Batu -batu yang ada di sungai Bate Iliek adalah batu-batu besar yang kita kenal dengan sebutan batu gajah. Batu-batu gajah itu ada di sepanjang sungai mulai dari hulu.

ADVERTISEMENT

Keberadaan batu-batu gajah itu menjadi ciri khas Bate Iliek dengan arus air yang mengalir deras di sela-sela batu-batu gajah. Para pengunjung kawasan ini menikmati sejuknya air di antara batu-batu gajah itu. Para pengunjung harus melawan arus air kala mandi dan berenang.  Namun para pengunjung juga bisa berenang di kawasan kuliner di arah hilir dari jembatan Bate Iliek.

Tidak jauh dari jembatan Bate Iliek dibangun irigasi untuk mengairi sawah-sawah yang berada di kecamatan Samalanga dan juga kecamatan Ule Gle.  Dekat tanggul itu airnya dalam dan menjadi tempat pengunjung mandi dan berenang bersama keluarga. Karena ini adalah tempat permandian keluarga, maka di tempat ini banyak orang yang menyewakan ban untuk pengunjung berenang. Selain itu juga banyak pedagang makanan yang menjajakan makanan-makan kecil dan minuman yang dibutuhkan para pengunjung. Sehingga geliat ekonomi masyarakat sekitar terjadi dan memberdayakan mereka.

Sejak terjadinya bencana banjir badang dan tanah longsor yang  berupa bencana hidrometeorologi, pada tanggal 25 November 2025 selama beberapa hari. Wajah Bate Iliek kemudian berubah 180 derajat. Banjir bandang dan tanah longsor itu telah menyebabkan batu-batu gajah hilang dari sungai. Apakah hanyut dibawa air atau memang tertimbun oleh batu-batu kerikil atau corak yang juga menutupi tebing-tebing sungai.

Apa yang kita saksikan adalah  permukaan sungai sudah tinggi dan membentuk tampilan sungai baru dengan batu-batu kerikil. Tidak lagi kita saksikan air mengalir di sela-sela batu gajah seperti sebelum bencana. Bate Iliek telah kehilangan ciri khasnya dengan batu-batu gajah dan berganti dengan kerikil atau coral. Permukaan sungai pun sudah terlihat sama dengan sungai-sungai lain dengan batu-batu kecil.

Perubahannya bukan hanya itu. Ternayata, kawasan yang airnya dalam dan sebelumnya menjadi tempat mandi dan berenang, kini telah hilang. Artinya sudah tidak ada lagi tempat mandi dan berenang dengan menggunakan ban-ban mobil yah disewakan oleh para pengelola kawasan itu.

Sedihnya, bukan hanya itu, secara ekonomi ketika tidak ada lagi tempat berenang, maka kegiatan sewa menyewa ban juga hilang.  Hilangnya kegiatan sewa menyewa ban, berarti hilang pula sumber pencaharian masyarakat yang biasanya bisa mengumpulkan rezeki dari penyewaan ban tersebut.

Hal lain yang juga menyedihkan adalah ketika nuansa Bate Iliek kehilangan ciri khas dan tempat rekreasi mandi dan berenang, membuat para pengunjung berkurang. Dampak dominonya adalah masyarakat pelaku usaha di kawasan Bate Iliek pun ikut merasakan dampak panjang.

Oleh sebab itu, bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Bate Iliek, bukan saja menghilangkan batu-batu gajah, tempat pemandian dan sewa menyewa ban, tetapi juga kehilangan sumber kehidupan masyarakat sekitar.

Kondisi ini, tentu akan mempersulit dan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat, khususnya pelaku ekonomi di kawasan ini. Pemerintah daerah khususnya harus lebih peka melihat kondisi ini dan harus melakukan intervensi agar tidak membuat masyarakat hidup dalam kesulitan. Pemerintah provinsi dan kabupaten Bireun tidak boleh diam dan hanya menonton. Sebab, ketika masyarakat kehilangan sumber pencaharian, masalah sosial yang bakal muncul. Oleh sebab itu, bergerak lah, sebelum Bate Iliek juga berubah menjadi Bate Kerikil atau Bate Coral.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 171x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 154x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 134x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: Artikel
SummarizeShare236
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

Artikel

Ketika Anak Luput dari Kebijakan

Maret 23, 2026
Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi, ART Dijadikan Direktur Perusahaannya
# Koruptor

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi, ART Dijadikan Direktur Perusahaannya

Maret 10, 2026
Kampus

Dialetika Kampus

Februari 27, 2026
Artikel

Ngapain Menulis?

Februari 23, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com