​TEOLOGI LIMBAH

Maret 2026

Hu, sirna hu…

Tanahku dalam Hu

Napas di kerongkongan Hu

Yang fana peluk yang baka.

Hap, telan hap…

Aku menelan matahari

Menjadi api dalam daging

Membakar dosa-dosa sisa kemarin.

​Tuhan,

Pecahkan cermin-Mu

Biar aku lihat wajah-Mu

Di retakan semen trotoar

Yang basah oleh air mata buruh harian.

Detak, pudar detak…

Jantungku berdentang logam

Pabrik di dada, asap di kepala

Aku adalah mesin yang berdoa.

​Matahari hari ini warnanya karat

Meneteskan nanah ke atas seng rumah

Tempat anak-anak mengeja lapar

Sambil menghafal nama-nama menteri

Besi, karam besi…

Tuhan tak lagi duduk di singgasana awan

Dia sedang menyamar jadi kuli panggul

Di pelabuhan yang baunya busuk

Mencari keadilan di sela-sela peti kemas.

Lir, guling lir…

Hutan jadi debu

Sungai jadi air raksa

Langit warnanya abu-abu janda

Wutilang wut

Burung-burung lupa terbang

Sebab udara adalah racun yang wangi

Di mana pintu surga?

Sudah digembok oleh korporasi.

Cari Tuhan?

Tanya pada beton yang angkuh

Dia tahu segalanya, tapi diam membatu.

​Wahai penguasa langit dan bumi

Gadaikan saja nyawa kami

Pada bank-bank dunia yang kelaparan

ADVERTISEMENT

Biar kami jadi bertaqwa

Dalam limbah pabrik milik negara.

Tentang Penulis
Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.