• Latest
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026
Apa Kata Dunia?

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026

Tatanan Global Bergeser: Apakah Timur Tengah Siap Memasuki Era Post-American Security Order?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
March 13, 2026
in # kolonial, #Ekonomi
0
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Pertemuan Sederhana yang Membuka Renungan

Baca Juga

Tertibkan Monopoli Pasar Ritel

March 1, 2026
Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

Partai Pendukung Mulai Berani Menyerang Kebijakan Prabowo

February 28, 2026
Impor 105 Ribu Pick-Up CBU dari India: Jalan Pintas yang Mengancam Industrialisasi Nasional

Impor 105 Ribu Pick-Up CBU dari India: Jalan Pintas yang Mengancam Industrialisasi Nasional

February 23, 2026

Hari ini saya bertemu dengan beberapa rekan kerja untuk membahas persiapan sebuah acara internasional yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada 1–7 November 2026. Pertemuan tersebut membahas berbagai hal, mulai dari agenda kegiatan, daftar peserta internasional, hingga kesiapan logistik dan koordinasi penyelenggaraan.

Setelah pertemuan selesai, saya memutuskan pulang menggunakan ojek daring. Pilihan ini cukup umum bagi banyak warga Jakarta karena moda transportasi tersebut relatif cepat dan mampu menembus kemacetan yang kerap terjadi di berbagai ruas jalan ibu kota.

Ketika tiba di tujuan, pengemudi ojek tersebut meminta maaf karena tidak memiliki uang kembalian. Ia menjelaskan bahwa ia baru saja keluar rumah untuk mulai bekerja. Dalam percakapan singkat itu, ia juga bercerita bahwa anaknya sedang sakit sehingga ia berusaha segera mencari penghasilan untuk membeli obat.

Percakapan singkat seperti ini sering kali menjadi gambaran kecil dari kondisi ekonomi masyarakat pekerja sektor informal. Berbagai penelitian mengenai ekonomi informal di Indonesia menunjukkan bahwa kelompok pekerja seperti pengemudi ojek, pedagang kecil, atau buruh harian sering berada dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil karena penghasilan mereka sangat bergantung pada jumlah pekerjaan yang diperoleh setiap hari.

Pengalaman sederhana ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana kondisi ekonomi masyarakat kecil dipengaruhi oleh kebijakan, struktur ekonomi, dan dinamika sosial yang lebih besar.

Suara Rakyat yang Terluka

Beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang mewajibkan penggunaan identitas seperti KTP untuk pembelian LPG 3 kilogram. Kebijakan ini bertujuan agar subsidi energi tersebut dapat lebih tepat sasaran, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan usaha mikro.

Namun dalam praktiknya, sejumlah warga di berbagai daerah menyampaikan keluhan karena prosedur administratif tersebut dianggap menyulitkan. Di beberapa tempat, warga harus melakukan pencatatan tambahan atau menghadapi keterbatasan stok akibat proses distribusi yang belum sepenuhnya stabil.

Keluhan seperti ini memperlihatkan bagaimana kebijakan yang dirancang dengan tujuan baik terkadang menghadapi tantangan dalam implementasi di lapangan. Dalam studi kebijakan publik, kondisi ini sering disebut sebagai policy implementation gap, yaitu jarak antara desain kebijakan di tingkat pemerintah dengan pengalaman masyarakat dalam praktik sehari-hari.

Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan reflektif mengenai makna kesejahteraan dan keadilan sosial bagi masyarakat yang masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Mengingat Luka Sejarah Kolonialisme

Renungan mengenai keadilan sosial juga membawa ingatan pada pengalaman sejarah kolonialisme di Nusantara. Selama lebih dari tiga abad, sebagian besar wilayah kepulauan Indonesia berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Dalam struktur sosial kolonial, masyarakat dibagi ke dalam beberapa kategori hukum dan sosial, seperti Eropa, Timur Asing, dan pribumi. Istilah “inlander” sering digunakan dalam praktik kolonial untuk merujuk pada penduduk pribumi, dan dalam banyak konteks istilah tersebut memiliki konotasi merendahkan.

Salah satu kebijakan kolonial yang paling banyak dibahas dalam sejarah ekonomi Indonesia adalah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diperkenalkan pada tahun 1830 oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Sistem ini mewajibkan petani di Jawa untuk menanam komoditas ekspor seperti kopi, tebu, atau nila di sebagian lahan mereka, yang kemudian diserahkan kepada pemerintah kolonial.

Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa sistem ini memberikan keuntungan besar bagi pemerintah Belanda melalui ekspor komoditas tropis. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menimbulkan tekanan ekonomi bagi petani karena mereka kehilangan sebagian lahan untuk menanam tanaman pangan.

Kritik moral terhadap praktik kolonial tersebut kemudian muncul dalam karya sastra terkenal Max Havelaar (1860) yang ditulis oleh Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker. Novel tersebut menggambarkan kritik terhadap praktik korupsi dan eksploitasi dalam administrasi kolonial di Hindia Belanda.

Gold, Glory, dan Gospel dalam Sejarah Dunia

Fenomena kolonialisme di Nusantara merupakan bagian dari proses sejarah global yang lebih luas. Dalam historiografi Barat, ekspansi bangsa-bangsa Eropa sejak abad ke-15 sering dijelaskan melalui konsep Gold, Glory, Gospel.

Gold merujuk pada motivasi ekonomi, yaitu keinginan memperoleh kekayaan melalui perdagangan, emas, dan sumber daya alam. Glory berkaitan dengan ambisi politik negara-negara Eropa untuk memperluas kekuasaan dan meningkatkan prestise kerajaan mereka. Sementara Gospel merujuk pada misi penyebaran agama Kristen yang sering menyertai ekspansi kolonial.

📚 Artikel Terkait

Potret Kejahatan Seksual Online di Indonesia

Sepeda Ontel; Saksi Bisu Sejarah di Tengah Kepopulerannya

Diana dan DNA_STORE

Aku dan Sepedaku, Antara Harapan dan Kenyataan

Motivasi ini mendorong negara-negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Prancis melakukan eksplorasi samudra dan membangun koloni di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika.

Di benua Amerika, kedatangan bangsa Eropa sejak akhir abad ke-15 membawa perubahan besar bagi masyarakat penduduk asli. Sejumlah penelitian sejarah menunjukkan bahwa selain konflik dan pengusiran, populasi penduduk asli juga mengalami penurunan drastis akibat penyakit yang dibawa dari Eropa serta proses kolonisasi yang berlangsung selama berabad-abad.

Dunia Modern dan Paradoks Hak Asasi Manusia

Memasuki abad ke-20 dan ke-21, komunitas internasional mulai mengembangkan kerangka hukum global mengenai hak asasi manusia. Salah satu tonggaknya adalah Universal Declaration of Human Rights (1948) yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah Perang Dunia II.

Deklarasi ini menegaskan berbagai hak dasar manusia, seperti hak hidup, kebebasan berpendapat, dan perlindungan dari diskriminasi.

Namun dalam praktik hubungan internasional, penerapan prinsip-prinsip tersebut sering menjadi perdebatan. Sejumlah ilmuwan hubungan internasional menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri negara-negara besar sering dipengaruhi oleh kepentingan geopolitik dan ekonomi, sehingga penerapan prinsip hak asasi manusia dapat bersifat selektif.

Perdebatan ini menjadi bagian penting dalam studi politik global dan etika hubungan internasional.

Keadaban dan Kekuasaan di Tingkat Nasional

Di tingkat nasional, hubungan antara kekuasaan politik, ekonomi, dan masyarakat juga menjadi perhatian banyak peneliti.

Ilmuwan politik Ian Douglas Wilson dalam bukunya Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia (2015) menjelaskan bagaimana jaringan kekuasaan informal, kelompok kepentingan, dan aktor non-negara dapat memainkan peran dalam dinamika politik lokal di Indonesia setelah reformasi 1998.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, hubungan antara elite politik, kelompok ekonomi, dan aktor informal dapat memengaruhi proses politik dan distribusi kekuasaan.

Kajian semacam ini memperlihatkan bahwa demokrasi tidak hanya ditentukan oleh institusi formal seperti pemilu, tetapi juga oleh relasi kekuasaan yang berkembang dalam masyarakat.

Makna Inlander dalam Renunganu Sosial

Istilah inlander yang pernah digunakan dalam sistem kolonial memiliki makna simbolik yang kuat dalam sejarah Indonesia. Istilah tersebut tidak hanya menunjukkan kategori administratif, tetapi juga mencerminkan hubungan kekuasaan yang tidak setara antara penjajah dan masyarakat pribumi.

Sejumlah penulis dan jurnalis Indonesia, termasuk Rosihan Anwar, pernah menyinggung bagaimana istilah tersebut menggambarkan sikap paternalistik dalam pemerintahan kolonial.

Meskipun Indonesia telah merdeka sejak 1945, refleksi mengenai keadilan sosial tetap relevan. Dalam berbagai studi pembangunan, kesenjangan ekonomi dan sosial masih menjadi tantangan bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ketamakan sebagai Akar Ketidakstabilan

Banyak ilmuwan sosial berpendapat bahwa konflik dalam sejarah manusia sering dipicu oleh persaingan sumber daya, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi. Teori-teori dalam ekonomi politik internasional menunjukkan bahwa perebutan sumber daya alam, jalur perdagangan, atau pengaruh geopolitik sering menjadi faktor penting dalam konflik antarnegara.

Meskipun demikian, konflik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Unsur identitas, ideologi, dan keamanan juga dapat memainkan peran penting dalam dinamika politik global.

Menemukan Kembali Kemanusiaan

Pengalaman singkat dengan pengemudi ojek tadi pagi memberikan pengingat sederhana bahwa di balik berbagai teori besar tentang ekonomi dan politik, kehidupan manusia tetap bergantung pada hal-hal mendasar yaitu kesehatan keluarga, pekerjaan yang layak, dan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak teori pembangunan modern, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melalui kualitas hidup, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta perlindungan sosial bagi kelompok yang rentan.

Daftar Pustaka

Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten. (2022). Max Havelaar: Kisah yang membunuh kolonialisme (Multatuli). https://batupusaka.bantenprov.go.id/resensi/MjUy/max-havelaar-kisah-yang-membunuh-kolonialisme-multatuli

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. (n.d.). Katalog detail: Max Havelaar. https://sipus.surabaya.go.id/katalog/detail/118316

Multatuli. (n.d.). Max Havelaar: Of de koffiveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij [PDF]. https://multatuli.online/bibliotheek/dwmult001maxh043.pdf

Sindonews. (2022, November 4). Kisah pembantaian dan terusirnya suku Indian di tanah Amerika. https://international.sindonews.com/read/932415/42/kisah-pembantaian-dan-terusirnya-suku-indian-di-tanah-amerika-1667567462

Tirto.id. (2021, March 23). Arti gold, glory, gospel (3G): Sejarah, latar belakang, & tujuan. https://tirto.id/arti-gold-glory-gospel-3g-sejarah-latar-belakang-tujuan-f9FJ

Wilson, I. D. (2015). The politics of protection rackets in post-new order Indonesia: Coercive capital, authority and street politics. Routledge. https://www.researchgate.net/publication/401578046_Ian_Douglas_Wilson_The_Politics_of_Protection_Rackets_in_Post-New_Order_Indonesia_Coercive_Capital_Authority_and_Street_Politics_Oxon_NY_Routledge_2015_xxii198p

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 78x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 66x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Apa Kata Dunia?
# Ironi

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Perempuan

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026
Anak Cerdas

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

March 13, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

March 12, 2026
Next Post
Apa Kata Dunia?

Apa Kata Dunia?

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com