Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Di kota yang tak pernah tidur, Lisa duduk di depan layar ponsel. Namanya muncul di setiap beranda media sosial, dibicarakan tanpa ampun. Semua bermula ketika rekaman hubungannya dengan seorang pejabat bernama Ridwan terkuak. Bukan skandal biasa, tapi cerita itu menyeret masa lalunya, dan anak kecil berusia tiga tahun. Ridwan menjadi sasaran kritik, sementara Lisa menjadi objek ejekan publik.
Ia menatap cermin. Sosok di hadapannya tampak asing. Apakah aku hanya tubuh yang bisa dinilai orang lain? bisik hatinya.
“Lisa, kau baik-baik saja?” suara sahabatnya, Rina, terdengar di telepon.
“Sejujurnya, aku tidak tahu,” jawab Lisa pelan. “Setiap kali aku melihat komentar itu, rasanya… hancur.”
Rina menenangkan. “Aku tahu dunia kejam, tapi kau bukan tontonan. Tubuhmu milikmu, hidupmu milikmu.”
Percakapan itu membuat Lisa menangis, bukan karena lemah, tapi karena akhirnya ada yang mendengar tanpa menilai dari fisik.
Beberapa hari kemudian, Lisa bertemu Sheila di warung kopi. Sheila menatap kopi panasnya, lalu berkata:
“Kau tahu, aku selalu heran. Kenapa prestasi perempuan tidak pernah viral? Tapi skandal mereka selalu jadi headline.”
Lisa menghela napas. “Itu memang menyakitkan. Rasanya dunia hanya ingin menertawakan tubuh perempuan.”
“Dan orang-orang lupa melihat manusia di balik tubuh itu,” lanjut Sheila. “Kau harus kuat, Lisa. Suaramu bisa lebih besar daripada komentar-komentar itu.”
Di desa, seorang nenek tua duduk di beranda rumahnya. Ia mengenang masa ketika perempuan berkumpul, berbicara tentang pendidikan, buruh, dan masa depan generasi. “Dulu, dunia menghargai perempuan bukan karena rupa mereka,” gumam nenek itu sendiri, “tapi karena gagasan dan tindakan mereka.”
Lisa kembali ke kota, berjalan ke taman. Di bawah pohon rindang, Rina menunggu. “Aku senang kau datang,” kata Rina sambil tersenyum.
“Kau tidak menilai aku?” Lisa bertanya, ragu.
“Tidak. Aku hanya ingin kau tahu, tubuhmu bukan milik siapa pun selain dirimu,” jawab Rina tegas.
Lisa menatap mata Rina. “Aku ingin bisa berdiri lagi, tapi rasanya dunia terus menekan.”
Rina menggenggam tangannya. “Mulai dari langkah kecil. Setiap kata yang kau ucapkan, setiap tulisanmu, itu perlawanan.”
Hari-hari berlalu, Lisa mulai menulis cerita-cerita pendek, berbicara di komunitas perempuan, dan membuka kelas menulis untuk anak-anak muda. Ia berbagi pengalaman, bukan sebagai panggung popularitas, tapi sebagai pelajaran.
Di satu kelas, seorang peserta bertanya, “Lisa, bagaimana rasanya menghadapi ejekan orang?”
Lisa tersenyum tipis. “Awalnya berat. Tapi aku belajar, tubuhku bukan panggung. Suaraku adalah ceritaku. Dan itulah yang penting.”
Peserta itu menatapnya kagum. “Aku ingin punya keberanian sepertimu.”
“Setiap perempuan punya kekuatan itu,” kata Lisa. “Kita hanya perlu percaya pada diri sendiri.”
📚 Artikel Terkait
Suatu sore, Sheila menemui Lisa. “Aku membaca tulisanmu di media online. Kau menulis dengan berani,” katanya.
Lisa tersenyum. “Aku ingin suara perempuan lain juga terdengar. Kita tidak boleh dibungkam hanya karena takut dikomentari.”
“Bagus sekali. Kau memberi contoh nyata,” Sheila menepuk bahunya.
“Ini baru permulaan,” kata Lisa. “Aku ingin membuktikan bahwa dunia bisa melihat perempuan bukan dari fisik, tapi dari cerita dan perjuangan mereka.”
Di kantor komunitas, Lisa berdiskusi dengan teman-temannya. “Kita perlu kampanye kesadaran,” katanya. “Bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk mengubah cara pandang masyarakat.”
Seorang relawan mengangguk. “Aku setuju. Orang sering menilai perempuan hanya dari penampilan. Kita harus mengedukasi.”
“Betul. Dan kita bisa mulai dari sekolah dan komunitas lokal,” lanjut Lisa. “Setiap anak perempuan harus tahu bahwa tubuhnya bukan panggung, tapi haknya.”
Hari-hari berikutnya, Lisa menghadapi wartawan. Salah seorang bertanya, “Lisa, apakah kau menyesal rekaman itu tersebar?”
Lisa menatap kamera dengan tenang. “Aku tidak menyesal. Apa yang terjadi memang tidak adil, tapi itu membentukku. Aku belajar untuk berbicara, untuk memperjuangkan perempuan lain.”
Wartawan itu terdiam sejenak, lalu menulis laporan dengan nada berbeda. Tidak lagi mengejek, tapi menyampaikan perspektif Lisa.
Malamnya, Lisa duduk di balkon apartemennya, memandang lampu kota yang berkelap-kelip. Aku telah melewati badai, pikirnya. Tapi ini baru permulaan.
Rina mengirim pesan: Besok ada pertemuan komunitas perempuan di balai kota. Aku ingin kau hadir.
Lisa tersenyum. Ia membalas: Aku akan datang. Saatnya suara perempuan didengar.
Di balai kota, Lisa melihat perempuan dari berbagai usia dan latar belakang. Mereka berkumpul, berbagi cerita, dan menatap dunia dengan keberanian. Salah seorang ibu muda bertanya, “Bagaimana cara mengatasi komentar jahat di media sosial?”
Lisa menjawab, “Kita tidak bisa mengontrol kata orang lain. Tapi kita bisa mengontrol diri sendiri. Kita bisa berbicara, menulis, dan melawan stereotip. Jangan biarkan mereka mendefinisikan kita.”
Seorang siswi remaja menambahkan, “Aku ingin menulis, tapi takut dicemooh.”
Lisa tersenyum. “Mulailah menulis. Kata-katamu punya kekuatan. Ceritamu bisa menginspirasi orang lain. Jangan biarkan ketakutan menghentikanmu.”
Sore itu, Lisa pulang dengan langkah ringan. Ia menatap anak perempuannya, yang menunggu di rumah. “Bu, apakah aku bisa menulis seperti ibu?” tanya anak itu.
“Tentu,” jawab Lisa sambil memeluknya. “Tubuhmu bukan panggung. Suaramu adalah ceritamu. Jangan biarkan orang lain mendikte siapa dirimu.”
Anak itu tersenyum lebar. “Aku akan menulis ceritaku sendiri, Bu.”
Lisa menatap langit sore yang cerah. Ia tahu perjalanan masih panjang, tetapi langkah pertama telah diambil. Ia belajar bahwa keberanian tidak selalu datang dari dunia luar, tapi dari diri sendiri. Suaranya kini di kenal luas tentang cerita hidupnya, dan tubuhnya bebas dari hinaan.
Beberapa bulan kemudian, kampanye kesadaran perempuan yang diprakarsai Lisa mulai terlihat hasilnya. Sekolah-sekolah mulai mengadakan diskusi tentang objektifikasi tubuh, komunitas media memperhatikan perspektif perempuan, dan banyak perempuan muda mulai berbicara.
Di sebuah kafe, Sheila berkata, “Kau telah mengubah banyak hal. Bahkan orang yang dulu mengejekmu kini melihat dengan berbeda.”
Lisa tersenyum. “Perubahan lambat, tapi nyata. Kita memberi ruang bagi perempuan lain untuk berdiri dan bersuara.”
Seorang peserta lain menambahkan, “Aku berani berbicara sekarang karena kau memulai langkah itu.”
Lisa menatap mereka semua. “Kita semua bisa jadi perubahan itu. Tubuh kita bukan panggung. Suara kita adalah cerita.”
Dan di tengah kota yang ramai, Lisa melangkah dengan keyakinan baru. Tidak ada kamera, tidak ada komentar pedas yang membelenggu. Ia adalah perempuan yang berdiri, berani, dan bersuara. Tubuhnya bebas dari hinaan, dan ceritanya menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






