POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ketika Ibu Turun ke Jalan

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
March 4, 2026
Ketika Ibu Turun ke Jalan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Novita Sari Yahya

Pagi itu udara terasa padat oleh lalu lintas dan suara klakson. Matahari belum tepat di atas kepala, tetapi panasnya sudah memantul dari permukaan jalan. Di antara arus kendaraan yang melambat, orang-orang berjalan menuju satu arah dengan langkah mantap. Di tangan mereka terbentang kain bertuliskan tuntutan.

Nadira berdiri di tepi trotoar, menarik napas panjang sebelum menyatu dengan kerumunan. Ia mengenakan pakaian sederhana dan sepatu datar yang biasa dipakai ke pasar. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Ia tampak seperti ibu lain yang hendak berbelanja atau mengantar anak sekolah.

Sehari-hari Nadira menjahit pesanan tetangga. Mesin jahitnya diletakkan di dekat jendela agar cahaya cukup menerangi kain yang ia kerjakan. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup untuk membantu kebutuhan rumah. Suaminya bekerja serabutan. Kadang mendapat panggilan memperbaiki atap, kadang membantu proyek kecil di pinggir kota.

Beberapa bulan terakhir, pengeluaran rumah tangga meningkat. Harga bahan pokok naik tanpa peringatan. Uang belanja yang biasa cukup untuk seminggu kini habis sebelum hari kelima. Nadira mulai mencatat setiap pengeluaran di buku kecil. Ia mengurangi jatah lauk dan menunda membeli pakaian baru untuk anak-anaknya.

Di warung dekat gang, warga sering membicarakan keadaan. Mereka tidak lagi sekadar berbincang ringan. Topik berubah menjadi kebijakan dan masa depan. Nadira jarang ikut berpendapat, tetapi ia mendengar dengan saksama.

Suatu sore, seorang pemuda membagikan selebaran tentang aksi damai di pusat kota. Isinya ajakan menyampaikan aspirasi terkait kenaikan harga dan kebijakan yang dianggap memberatkan rakyat kecil. Nadira membaca kertas itu berkali-kali di ruang tamu.

Ia menimbang keputusan tersebut semalaman. Ia sadar risiko selalu ada ketika orang banyak berkumpul menyuarakan pendapat. Namun ia juga merasa tidak adil jika hanya mengeluh di dalam rumah tanpa mencoba melakukan sesuatu.

Pagi ini ia akhirnya berangkat setelah menyiapkan sarapan dan bekal anak-anaknya. Ia berpesan kepada suaminya agar menjemput mereka sepulang sekolah. Suaminya memandangnya sejenak sebelum berkata, “Hati-hati di jalan.” Nadira mengangguk.

Di lokasi aksi, barisan manusia memenuhi ruas jalan. Spanduk diangkat tinggi. Tulisan di atasnya tegas dan jelas. Suara dari pengeras terdengar teratur, tidak terburu-buru, tetapi penuh keyakinan.

Seorang perempuan muda berdiri di atas mobil komando. Ia berbicara tentang beban hidup yang semakin berat dan pentingnya kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil. Kalimatnya runtut dan mudah dipahami.

Nadira berdiri di antara ibu-ibu lain. Ada yang membawa tas kain, ada yang menggandeng anak remaja, ada pula yang datang bersama teman sekantor. Mereka saling berbagi air minum dan mengipasi wajah dengan selebaran.

Seorang perempuan paruh baya di sampingnya membuka percakapan. “Saya tidak pernah ikut aksi seperti ini sebelumnya,” katanya.

“Saya juga,” jawab Nadira jujur.

“Kita datang untuk menyampaikan suara, bukan mencari masalah,” lanjut perempuan itu.

Nadira mengangguk. “Semoga ada perubahan setelah hari ini.”

Di seberang jalan, aparat berjajar membentuk pagar. Mereka berdiri tenang dengan perlengkapan lengkap. Jarak antara kedua kelompok dijaga dengan tertib. Tidak ada dorongan atau teriakan yang berlebihan.

Orasi berlangsung bergantian. Seorang buruh berbicara tentang penghasilannya yang tak lagi cukup. Seorang mahasiswa menyampaikan data dan angka. Seorang pedagang kecil mengungkapkan harapannya agar usahanya tidak semakin terpuruk.

Nadira mendengarkan semuanya. Ia merasa kisah-kisah itu tidak jauh dari kehidupannya sendiri. Ia menyadari bahwa masalah yang ia hadapi bukan persoalan pribadi semata.

Ketika kesempatan berbicara diberikan kepada perwakilan ibu rumah tangga, seorang panitia mendekatinya. “Bu, apakah bersedia menyampaikan pendapat?” tanyanya.

Nadira terdiam sejenak. Ia tidak pernah berbicara di depan banyak orang. Namun entah mengapa ia melangkah maju.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang mikrofon. Ia menatap wajah-wajah di hadapannya. “Saya bukan ahli,” ucapnya pelan namun jelas. “Saya hanya ibu yang ingin anak-anaknya tumbuh tanpa rasa khawatir tentang makan dan sekolah.”

Kerumunan hening.

“Kami bekerja keras di rumah. Kami mengatur uang belanja sehemat mungkin. Kami tidak menuntut kemewahan. Kami hanya ingin kebijakan yang adil,” lanjutnya.

Tepuk tangan terdengar dari berbagai arah. Nadira menyerahkan kembali mikrofon dengan napas berat, tetapi hatinya terasa ringan.

📚 Artikel Terkait

Poo Makna

Ulama, Keadilan, dan Jalan Dewasa Aceh di Abad ke-21

WAKTU SENJA, INGAT ITU SEMUA

Carilah Beasiswa Untuk Pendidikan Yang Lebih Baik

Waktu bergerak menuju siang. Matahari semakin terik. Beberapa relawan membagikan air minum dan roti. Orang-orang duduk di trotoar sambil berdiskusi.

Perwakilan massa kemudian dipersilakan berdialog dengan pihak terkait di sebuah gedung tak jauh dari lokasi. Kerumunan menunggu dengan sabar. Tidak ada kericuhan. Semua menjaga sikap.

Nadira duduk di tepi jalan, memandangi lalu lintas yang dialihkan. Ia teringat pesan ibunya dahulu bahwa martabat harus dijaga dengan keberanian dan akal sehat. Hari ini ia mencoba menjalankan nasihat itu.

Setelah beberapa waktu, perwakilan kembali dan menyampaikan hasil pertemuan. Tuntutan akan ditindaklanjuti melalui pembahasan resmi. Belum ada keputusan akhir, tetapi jalur komunikasi dibuka.

Sorak terdengar, bukan sebagai perayaan, melainkan sebagai tanda harapan. Nadira berdiri bersama yang lain. Ia menyadari perubahan tidak datang dalam sehari. Namun langkah kecil tetap berarti.

Menjelang sore, massa membubarkan diri dengan tertib. Jalanan perlahan kembali normal. Pedagang kaki lima kembali menata dagangan. Kendaraan melintas tanpa hambatan berarti.

Nadira berjalan menuju halte dengan langkah pelan. Keringat membasahi pelipisnya. Kakinya terasa pegal, tetapi ia tidak menyesal telah datang.

Di dalam angkutan umum, ia memandang keluar jendela. Gedung-gedung tinggi tampak kokoh. Ia berpikir tentang betapa banyak orang kecil yang menopang kehidupan kota ini.

Sesampainya di rumah, anak bungsunya menyambut di pintu. “Ibu dari mana?” tanyanya.

“Ibu pergi menyampaikan pendapat,” jawab Nadira.

“Apa itu penting?” lanjut anaknya polos.

“Ibu ingin masa depanmu lebih baik,” katanya sambil tersenyum.

Suaminya menatapnya dengan rasa ingin tahu. Nadira menceritakan jalannya aksi secara singkat. Ia tidak melebih-lebihkan keadaan. Ia hanya menyampaikan bahwa semuanya berlangsung tertib.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Nadira duduk di dekat mesin jahitnya. Ia memeriksa kain pesanan yang harus selesai esok hari. Hidup tetap berjalan dengan rutinitas yang sama.

Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi kekhawatiran. Ia tahu banyak orang memiliki tujuan yang serupa.

Ia menyadari bahwa turun ke jalan bukan berarti meninggalkan peran sebagai ibu. Justru dari peran itulah keberaniannya muncul. Ia datang bukan untuk mencari perhatian, melainkan untuk menjaga hak keluarganya.

Beberapa hari kemudian, kabar tentang tindak lanjut kebijakan mulai dibahas di media. Prosesnya panjang dan memerlukan waktu. Nadira tidak berharap hasil  cepat dan tuntutan di penuhi segera. Ia hanya ingin suara yang disampaikan tidak diabaikan.

Setiap kali Nadira kembali duduk di depan mesin jahit, ia teringat hari ketika ia berdiri di tengah kerumunan. Ia mengingat panas jalan dan wajah-wajah yang penuh tekad. Kenangan itu menjadi pengingat bahwa ia pernah mengambil langkah di luar kebiasaan.

Ketika ibu turun ke jalan, ia tidak meninggalkan rumahnya. Ia membawa nilai-nilai rumah itu ke ruang publik. Ia membawa kepedulian, tanggung jawab, dan harapan.

Nadira memahami bahwa perubahan lahir dari keberanian yang disertai keyakinan. Ia tidak tahu bagaimana akhir dari perjuangan itu. Namun ia yakin satu hal: bahwa suara yang disampaikan dengan niat baik akan menemukan jalannya.

Malam semakin larut. Nadira mematikan lampu ruang tamu dan masuk ke kamar. Ia berbaring di samping anak-anaknya yang tertidur pulas.

Hari itu mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Tidak ada penghargaan yang menantinya. Namun bagi dirinya sendiri, hari ketika ia turun ke jalan adalah bukti bahwa ia berani berdiri demi masa depan keluarganya.

Dan dari keberanian sederhana itulah, harapan tumbuh pelan tetapi pasti.

Profil Novita Sari Yahya

Penulis dan Peneliti

Buku yang Diterbitkan:

1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen

2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

3. Novita & Kebangsaan

4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa

5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa

6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri

7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi

8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu

Pemesanan Buku: 089520018812

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 63x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 62x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

BLBI : Drama Panjang Negara Yang Tak Kunjung Sudah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00