POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 4, 2026
Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Di mana-mana perang itu menyakitkan. Imbasnya ke mana-mana. Termasuklah jamaah umrah kita, mereka terkatung-katung di Jeddah. Kasihan tengoknya. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Di bawah langit Timur Tengah yang sedang murka oleh konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat, ada 58.873 jamaah umrah Indonesia yang kini bukan sedang thawaf, bukan sedang sa’i, melainkan sedang menunggu kepastian di antara jadwal penerbangan yang runtuh satu per satu. Mereka datang dengan niat suci, pulang dengan harapan sederhana, tiba di rumah sebelum takbir menggema. Namun takdir menahan mereka di ruang tunggu, di lorong-lorong panjang Bandara Internasional King Abdulaziz, yang dinginnya bukan hanya karena pendingin udara, tetapi karena ketidakpastian.

Tidak ada larangan resmi umrah dari pemerintah Arab Saudi. Visa tetap berlaku. Pintu Tanah Suci tidak ditutup. Secara administratif, semuanya sah. Namun langitlah yang terkunci. Ruang udara di sejumlah kawasan ditutup, maskapai membatalkan rute, ribuan penerbangan berguguran. Kata “cancelled” di layar keberangkatan lebih sering muncul dari senyum di wajah para jamaah. Pemerintah Indonesia sudah memulangkan sekitar 6.047 orang secara bertahap. Angka itu terdengar seperti kabar baik. Namun di baliknya, puluhan ribu lainnya masih menunggu giliran pulang, menunggu nama mereka dipanggil oleh pengeras suara yang tak kunjung menyebut Indonesia.

Di lantai marmer bandara itu, pemandangan yang terhampar bukan lagi rombongan penuh semangat dengan koper berwarna seragam. Kini mereka berseragam khas Indonesia, batik travel yang mulai kusut, jilbab putih yang tak lagi rapi, peci hitam yang tergeletak di atas tas. ID card umrah masih tergantung di dada, menjadi saksi, mereka datang sebagai tamu Allah, bukan sebagai pengungsi penerbangan. Namun tubuh-tubuh itu kini berbaring di lantai, memeluk koper seperti memeluk sisa kepastian.

Seorang bapak duduk bersandar pada tiang, menatap layar ponsel dengan mata sembab. Di layar itu, mungkin cucunya di kampung melambaikan tangan. “Kapan pulang, Kek?” Pertanyaan polos itu lebih berat dari koper 30 kilogram yang ia seret sejak Madinah. Seorang ibu membentangkan mukena putihnya, bukan untuk salat, tetapi untuk selimut darurat. Mukena yang tadi dipakai dengan air mata haru di Masjidil Haram kini menjadi penahan dingin bandara. Ia memejamkan mata, tetapi rindu tidak pernah benar-benar tidur.

Lebaran tinggal menghitung hari. Di rumah, toples kue mungkin sudah tersusun. Ketupat mungkin sudah dipesan. Anak-anak mungkin sudah membayangkan pelukan di pintu kedatangan. Namun di Jeddah, waktu seperti berhenti. Siang dan malam tak lagi berbeda. Lampu bandara tidak pernah padam, seperti mengolok-olok mereka yang berharap hari cepat berganti. Pengumuman maskapai dalam bahasa asing terdengar seperti mantra yang tak pernah membawa kabar baik.

📚 Artikel Terkait

Indahnya Pulau Impian Bersama Kekasih Halal

RIZAL RAMLI DALAM KENANGAN

Ingin Mewujudkan Niat Membuka Usaha Stick Kentang Goreng

Keresahan Tokoh Muda Tentang Black Campaign di Pilkada Aceh Tenggara 2024.

Mereka pergi untuk mencari kedamaian, tetapi justru dipaksa belajar sabar di atas lantai marmer yang dingin. Dunia menyebutnya gangguan operasional akibat eskalasi geopolitik. Bagi keluarga di Indonesia, ini adalah ujian rindu yang paling menyakitkan. Setiap berita tentang konflik terasa seperti jarum yang menusuk dada para penunggu di rumah.

Di antara koper berisi kurma dan air zamzam yang sudah siap dibagikan, para jamaah itu terbaring dengan satu doa yang sama, pulang tepat waktu. Mereka tidak menuntut kemewahan. Mereka tidak meminta keajaiban besar. Mereka hanya ingin mendengar takbir di kampung sendiri, bukan di ruang tunggu bandara asing.

Jika konflik ini adalah permainan para pemimpin dunia, maka pion-pionnya kini sedang berbaring lelah di Jeddah, merindukan tanah air dengan air mata yang ditahan. Lebaran seharusnya tentang kembali. Bagi mereka, kembali kini terasa seperti doa yang digantung di langit yang belum mau terbuka.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 63x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 61x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Ramadan dan Titik Balik Aceh: Dari Ritual ke Arsitektur Keadilan Sosial

Ramadan Berpihak pada Kebenaran: Berkat bagi Kemanusiaan, Keteguhan bagi Muslim yang Sabar di Tengah Tatanan Global

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00