• Latest
Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata

Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata

Maret 4, 2026
IMG_0523

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 4, 2026
in # Kebijakan Trump, #Perang, Amerika, Artikel, Inspirasi, Iran, Israel, Konflik
Reading Time: 3 mins read
0
Imbas Perang, 58.873 Jamaah Umrah Masih Diwarnai Cancel, Delay, dan Air Mata
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Di mana-mana perang itu menyakitkan. Imbasnya ke mana-mana. Termasuklah jamaah umrah kita, mereka terkatung-katung di Jeddah. Kasihan tengoknya. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Baca Juga

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026

Di bawah langit Timur Tengah yang sedang murka oleh konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat, ada 58.873 jamaah umrah Indonesia yang kini bukan sedang thawaf, bukan sedang sa’i, melainkan sedang menunggu kepastian di antara jadwal penerbangan yang runtuh satu per satu. Mereka datang dengan niat suci, pulang dengan harapan sederhana, tiba di rumah sebelum takbir menggema. Namun takdir menahan mereka di ruang tunggu, di lorong-lorong panjang Bandara Internasional King Abdulaziz, yang dinginnya bukan hanya karena pendingin udara, tetapi karena ketidakpastian.

Tidak ada larangan resmi umrah dari pemerintah Arab Saudi. Visa tetap berlaku. Pintu Tanah Suci tidak ditutup. Secara administratif, semuanya sah. Namun langitlah yang terkunci. Ruang udara di sejumlah kawasan ditutup, maskapai membatalkan rute, ribuan penerbangan berguguran. Kata “cancelled” di layar keberangkatan lebih sering muncul dari senyum di wajah para jamaah. Pemerintah Indonesia sudah memulangkan sekitar 6.047 orang secara bertahap. Angka itu terdengar seperti kabar baik. Namun di baliknya, puluhan ribu lainnya masih menunggu giliran pulang, menunggu nama mereka dipanggil oleh pengeras suara yang tak kunjung menyebut Indonesia.

Di lantai marmer bandara itu, pemandangan yang terhampar bukan lagi rombongan penuh semangat dengan koper berwarna seragam. Kini mereka berseragam khas Indonesia, batik travel yang mulai kusut, jilbab putih yang tak lagi rapi, peci hitam yang tergeletak di atas tas. ID card umrah masih tergantung di dada, menjadi saksi, mereka datang sebagai tamu Allah, bukan sebagai pengungsi penerbangan. Namun tubuh-tubuh itu kini berbaring di lantai, memeluk koper seperti memeluk sisa kepastian.

Seorang bapak duduk bersandar pada tiang, menatap layar ponsel dengan mata sembab. Di layar itu, mungkin cucunya di kampung melambaikan tangan. “Kapan pulang, Kek?” Pertanyaan polos itu lebih berat dari koper 30 kilogram yang ia seret sejak Madinah. Seorang ibu membentangkan mukena putihnya, bukan untuk salat, tetapi untuk selimut darurat. Mukena yang tadi dipakai dengan air mata haru di Masjidil Haram kini menjadi penahan dingin bandara. Ia memejamkan mata, tetapi rindu tidak pernah benar-benar tidur.

Lebaran tinggal menghitung hari. Di rumah, toples kue mungkin sudah tersusun. Ketupat mungkin sudah dipesan. Anak-anak mungkin sudah membayangkan pelukan di pintu kedatangan. Namun di Jeddah, waktu seperti berhenti. Siang dan malam tak lagi berbeda. Lampu bandara tidak pernah padam, seperti mengolok-olok mereka yang berharap hari cepat berganti. Pengumuman maskapai dalam bahasa asing terdengar seperti mantra yang tak pernah membawa kabar baik.

Mereka pergi untuk mencari kedamaian, tetapi justru dipaksa belajar sabar di atas lantai marmer yang dingin. Dunia menyebutnya gangguan operasional akibat eskalasi geopolitik. Bagi keluarga di Indonesia, ini adalah ujian rindu yang paling menyakitkan. Setiap berita tentang konflik terasa seperti jarum yang menusuk dada para penunggu di rumah.

Di antara koper berisi kurma dan air zamzam yang sudah siap dibagikan, para jamaah itu terbaring dengan satu doa yang sama, pulang tepat waktu. Mereka tidak menuntut kemewahan. Mereka tidak meminta keajaiban besar. Mereka hanya ingin mendengar takbir di kampung sendiri, bukan di ruang tunggu bandara asing.

Jika konflik ini adalah permainan para pemimpin dunia, maka pion-pionnya kini sedang berbaring lelah di Jeddah, merindukan tanah air dengan air mata yang ditahan. Lebaran seharusnya tentang kembali. Bagi mereka, kembali kini terasa seperti doa yang digantung di langit yang belum mau terbuka.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 279x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 262x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 224x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 167x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 156x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare237
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

IMG_0523
Sejarah

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026
Pendidikan karakter

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077
Antologi Puisi

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
Next Post

Ramadan Berpihak pada Kebenaran: Berkat bagi Kemanusiaan, Keteguhan bagi Muslim yang Sabar di Tengah Tatanan Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com