Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
Salah satu metode dalam pembelajaran yang populer dan sering digunakan adalah memberikan reward atau hadiahsetelah tujuan pembelajaran tertentu tercapai. Memberikanreward yang benar diyakini mampu memberikan dampakyang signifikan dalam meningkatkan motivasi belajar, melatihdisiplin, kepercayaan diri, serta membentuk perilaku baik.
Tentunya pemberian reward ini harus disesuaikan dengantingkat usia anak agar tepat sasaran. Tidak terkecuali dalammengajarkan anak berpuasa, juga bisa menerapkan metodeini. Kita sebagai orangtua tentu bisa memilih caramemberikan reward agar lebih meninggalkan kesanmendalam dan membekas di jiwa anak, bahkan akan denganbangga diceritakan dan diterapkan kelak bagi anak cucu. Bukankah kita juga akan kecipratan pahalanya? Dan yang paling penting mereka akan menikmati proses belajarberpuasa yang menyenangkan.
Seperti pengalaman yang dirasakan oleh seorang teman. Saat ia kecil, ia dan adik-adiknya akan sangat bersemangat dan bahagia ketika bulan Ramadhan tiba. Ayah mereka akanmemberikan uang Rp 1.000 (nilainya tentu saat besar kala itu) setiap kali mereka mampu berpuasa sampai magrib. Dan kumpulan rupiah itu akan diberikan saat Idul Fitri tiba. Yang paling banyak berpuasa tentu akan mendapatkan lebih banyakrupiah. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan.
Sedikit berbagi pengalaman saat kami mengajarkan puasapada anak-anak ketika mereka berusia 5-8 tahun, yang awalnya terinspirasi dari postingan seorang teman (semogabisa menjadi tabungan pahala baginya). Kami menyiapkanhadiah kecil sebanyak tiga puluh hadiah sejumlah hari dalamsebulan puasa untuk setiap anak. Dikarenakan kami mempunyai dua anak pada waktu itu yang akan kami ajarkanuntuk berpuasa, maka kami harus menyiapkan enam puluhhadiah. Ketika si anak mampu berpuasa sampai waktunyaberbuka maka mereka boleh mengambil satu hadiah.
Cara pengambilannya pun kami buat unik dan tidak biasa. Kami menyiapkan gulungan kertas kecil-kecil yang sudahkami beri nomor 1-30 sesuai dengan jumlah hadiah untuksetiap anak. dan setiap hadiahpun, juga kami tuliskan nomor. Nantinya mereka akan mengambil hadiah sesuai dengannomor yang tertera di gulungan kertas kecil yang merekadapatkan. Saat berbuka tiba mereka lebih menikmati agenda membuka hadiah dari pada berbuka puasa. Pasti seru, kebahagiaan terlihat jelas dari wajah-wajah kecil mereka. Kita sebagai orangtua juga ikut merasakan kebahagiaan itu.
📚 Artikel Terkait
Isi hadiah kecil tersebut sebenarnya adalah kebutuhan sehari-hari mereka seperti perlengkapan sekolah, dalaman, mainan, atau snack yang disukai.
Pada dasarnya hal ini juga mengandung misi terselubungorangtua. Sebab sebenarnya mereka sedang menyicilkebutuhan masuk sekolah anak. Biasanya tidak lama setelahRamadhan usai, pergantian tahun ajaran baru sudah menanti, dan tentunya banyak perlengkapan sekolah yang harus dibeli.
Untuk hadiah berupa dalaman itu sebenarnya juga bagian daripersiapan Idul Fitri. Sudah menjadi tradisi bahwa setiaplebaran tiba, pakaian harus serba baru. Terlepas dari pro dan kontra terhadap tradisi tersebut, nyatanya tradisi itu tetapberlaku setiap lebaran tiba.
Untuk hadiah berupa mainan, biasanya kami membeli mainanyang berkapasitas sedikit lebih besar seperti lego atau bongkarpasang. Kemudian kami bagi menjadi beberapa bungkushadiah, jadi lebih hemat dan membuat anak-anak lebihbersemangat berpuasa demi untuk mendapatkan bagianmainan berikutnya. Dan khusus hadiah yang berisi snack, ituhanya sebagai pelengkap. Biasanya kami menyiapkan hanyadua atau tiga bungkus saja untuk setiap anak.
Kumpulan bungkusan hadiah tersebut kami diletakkan di tempat yang tinggi tapi terlihat oleh anak-anak. Setiap kali terbersit untuk membatalkan puasa sebelum tiba waktunya,mereka akan melihat hadiah yang akan mereka dapatnantinya. Bahkan anak kami yang masih TK B kala itu tetapbeberapa hari bersikukuh untuk berpuasa sampai magrib. Padahal saat itu kami masih mengajarkan ia berpuasa hanyasampai siang (tentunya tetap boleh mengambil hadiah). Tapi katanya tidak seru kalau buka hadiahnya sendirian, tidakbersamaan dengan abang.
Mengingat jumlah hadiah yang disiapkan lumayan banyak, tentu biaya juga terkuras lebih banyak dibandingkan jikahanya dengan memberikan satu hadiah seletah puasaRamadhan berakhir. Maka kami mensiasati dengan menyicilRp 50.000 sampai Rp 70.000 perbulan sejak selesai Idul Fitri untuk persiapan Ramadhan berikutnya. Bukankah untuksebuah keteraturan dibutuhkan perencanaan yang baik dan matang?
Untuk menghindari ketergantungan pada hadiah setiapmelakukan sesuatu, maka kami menerapkannya bertahap. Tahap pertama adalah hadiah harian dan ini kami terapkansaat mereka berusia lima sampai delapan tahun, dilanjutkantahap kedua adalah hadiah 10 harian yaitu 10 hari berpuasamaka akan mendapatkan satu hadiah (ukurannya sedikit lebihbesar dari hadiah harian sebelumnya) misalnya jika hadiahharian berisi dua buku tulis perhadiahnya maka fase ini berisilima atau enam buku tulis per hadiahnya. Tahap ini kami berlakukan saat mereka berumur 10-11 tahun. Sementara saatmereka berumur 12 tahun mereka hanya mendapatkan satuhadiah selesai menjalankan serangkaian ibadah puasa, dan mereka boleh menyebutkan gambaran hadiah yang merekainginkan.
Saat ini si sulung kami sudah berusia 11 tahun dan kami sedang menerapkan tahap ke dua kepadanya. Dan semogakami masih bisa menerapkan tahap ke tiga pada Ramadhan berikutnya. Mari kita terus berproses menjadi orangtua shalihdan terus berinovasi menjadi orangtua yang kreatif bagi anak-anak kita sebagai ikhtiar untuk mewujudkan generasi emasyang bertakwa di masa mendatang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






