Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan.
“Apa yang dapat ditawarkan kritik kepada kita di dunia gambar generatif yang tak terkendali dan media sintetis? Bahasa tepat apa yang dapat kita gunakan untuk menggambarkan dampak pembelajaran mesin, atau akibat dari sebuah algoritma?” — Nora Nahid Khan(43), Discipline and Critique in Digital Art(2025).
Alih wahana dalam seni dan sastra makin menegaskan bagaimana produk kreativitas manusia terus bereskalasi.
Lebih khusus, bagaimana membaca trauma paska bencana Sumatra 2025 yang dilahirkan dari lanskap realitas dan direkam pada kanvas digital?
Ramadan kali ini, setelah menghasilkan lebih dari 20 lukisan digital dan buku puisi esai ke-18, Atas Nama Bencana, Denny JA menyelenggarakan Pameran Lukisan Denny JA Menyambut Ramadhan dengan tema Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.
Di Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat, lebih dari seratus karya terpajang di dinding-dinding galeri. Di antaranya, terdapat 27 lukisan dalam serial Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.
Dalam catatan pengantarnya pada buku Atas Nama Bencana: Kumpulan Puisi Esai dan Lukisan Drama Manusia Dalam Bencana Sumatra 2025(Tim CBI 2026), Denny antara lain mengatakan:
„Di situlah Atas Nama Bencana berdiri.
Buku ini tidak ingin menjadi arsip data. la memilih menjadi ruang gema bagi suara yang tercecer setelah kamera pergi. la menyimpan getar yang tak
masuk tabel.
Atas Nama Bencana menghimpun dua
belas puisi esai dan lebih dari dua puluh lukisan drama yang merekam tragedi Sumatra 2025-2026. Di dalamnya, manusia biasa berdiri di pusat pusaran.“
Sebagai apresiasi atas kiprah dalam transformasi kebudayaan melalui gerakan seni dan sastra baru(new art and literary works), pameran ini perlu ditilik dari kritik seni digital(digital art).
Kritik ini tentu untuk menempatkan bagaimana karya seni digital(digital art) yang telah dihasilkan lebih dari 20 lukisan Denny JA dengan asisten AI bisa merekam sekaligus mengekspresikan luka trauma bencana.
Dengan kritik seni digital, perlu untuk membaca kedua pakar seni digital berikut.
Pertama, Chris Skinner(67), dikenal sebagai pengulas independen pasar keuangan dan tekfin melalui blognya, @Finanser.com, serta sebagai penulis buku-buku terlaris seperti Digital Bank dan Value Web.
Value Web mendeskripsikan dampak: tekfin melalui blognya, serta bagaimana teknologi mobile dan blockchain mengubah wajah keuangan dalam membangun Internet untuk Nilai.
Sebagai hasil dari kemunculan Internet untuk Nilai, bank harus didigitalkan.
Digital Bank menyediakan ulasan dan analisis komprehensif tentang pertempuran untuk perbankan digital, serta strategi bagi perusahaan untuk bersaing.
Dalam bukunya, Digital Human(2018), Skinner mengulas:
Kita hidup di tahap keempat kemanusiaan.
📚 Artikel Terkait
Fase pertama adalah tentang menjadi manusia. Ketika uang diciptakan, fase kedua
tentang menjadi beradab dimulai.
Ketika bank diciptakan, komersialiasi membimbing
kita memasuki fase ketiga.
Kemudian, di fase keempat ini, kita telah berubah menjadi Manusia Digital.
Teknologi telah mengubah cara kita bicara, berdagang, dan bertransaksi.
Sekarang kita berhadapan dengan teknologi setiap melakukan bisnis, berkenalan dengan orang baru hingga membuat hidup kita terus berjalan.
Apa artinya semua ini dalam bisnis, perbankan masyarakat, dan pemerintahan? Apa artinya semua ini untuk Anda?
Manusia Digital mengeksplorasi transformasi yang meliputi seluruh lapisan kehidupan: dominasi raksasa digital global; kemunculan struktur finansial baru(TekFin); disrupsi yang membawa Bitcoin; kebangkitan robot; dan kejatuhan bank.
Kritik Skinner lebih mengambil porsi bagaimana teknologi digital, diterapkan pada apapun, akan mengubah persepsi dan hasil kreativitas manusia.
Dalam arti lain, seni digital yang merekam bencana alam Sumatra dan Aceh dalam puisi esai dan lukisan Denny JA, harus diapresiasi dari kandungan estetika dan algoritme digital.
Kedua, Nora Nahid Khan, lahir pada 23 Oktober 1983 di Warwick, Rhode Island dan berprofesi sebagai seni, kurator, penulis, dan pendidik.
Ia pernah mengajar di UC Riverside dan RISD, menjabat sebagai Direktur Eksekutif Project X Foundation for Art & Criticism(2022–2023), dan saat ini menjabat sebagai Profesor Dewan Kesenian di UCLA di bidang Desain Media Seni.
Fokus kritiknya pada budaya visual digital, politik perangkat lunak, dan filsafat teknologi baru.
Dalam Discipline and Critique in Digital Art(2025), Khan mengeksplorasi bagaimana seni digital dan generatif menantang kerangka kerja kritik seni tradisional.
Merujuk pada lukisan yang tak terkendali dan media sintesis, Khan berpendapat bahwa gambar-gambar saat ini, yang dibentuk oleh AI dan algoritma, bersifat “kacau” dan menuntut bentuk-bentuk pembedaan baru.
Gambar-gambar tersebut diciptakan oleh banyak tangan di luar bingkai atau kanvas dan lanskap itu sendiri, seringkali mensimulasikan kehidupan(realitas) dan kemiripan(imitasi).
Untuk masuk pada Kritik di Era AI, ia bertanya apa yang dapat ditawarkan kritik di dunia yang didominasi oleh pembelajaran mesin dan sistem prediktif, dan bagaimana bahasa harus berevolusi untuk menggambarkan estetika algoritmik?
Menurutnya, seni digital, yang lahir dari algoritma dan media sintetis, bersifat kacau dan tak terkendali.
Karena itu, kritik seni harus berevolusi, mencari kosakata baru yang mampu menjelaskan estetika algoritmik dan dampak teknologi pada budaya visual.
Sebagai praktik kritik yang tangguh, Khan mengusulkan bahwa para kritikus harus mengembangkan metode yang lebih responsif dan tangguh untuk terlibat dengan seni komputasi, melihat “melalui sistem” daripada hanya pada keluaran tingkat permukaan.
Dimensi filosofisnya, Khan menempatkan seni digital dalam pertanyaan yang lebih luas tentang persepsi, agensi, dan politik perangkat lunak.
Dengan kata lain, kritik Khan bersifat filosofis dan praktis serta menantang para kritikus untuk memikirkan kembali alat dan kosakata mereka di era di mana seni semakin dibentuk oleh algoritma, media sintetis, dan sistem yang digerakkan oleh AI.
Walhasil, membaca bencana dari kanvas digital Denny JA, telah membentuk satu genre estetika yang dikelola oleh kombinasi ketrampilan manusia dan mesin. Seperti apakah itu, persepsi estetika algoritme kita bisa menebaknya sendiri.
coversongs:
Lagu “Digital Man” adalah kolaborasi antara Manudigital dan Daddy Freddy(61), dirilis pada 21 Juni 2024 sebagai bagian dari Digital UK Session EP.
Manudigital, yang dikenal dengan produksi berbasis mesin dan beat elektronik, menggandeng Daddy Freddy—ikon raggamuffin dengan gaya vokal cepat—untuk menegaskan bagaimana identitas manusia kini juga dibentuk oleh teknologi.
credit foto lukisan Sumatra Menangis dari Denny JA dan diambil dari postingan WAG Satupena.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






