• Latest
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott - IMG_0084 | #Perang | Potret Online

Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Maret 1, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
IMG_0904

Cahaya di Balik Luka

April 23, 2026
35b66c8c-a220-4f11-8e9a-6fccf401ca7b

Arsitektur Linguistik: Menelusuri Ontologi Kata dan Logika Taqsim dalam Ilmu Nahwu.

April 23, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | #Perang | Potret Online

Perserikatan Bangsa-Bangsa Tanpa Kompas Arah di Tengah Gejolak Dunia Global

April 22, 2026
d1791700-9d77-4212-83e6-eb00db9a7ade

Dari Lumbung ke Etalase: Pergeseran Nalar Hidup Masyarakat Desa

April 22, 2026
2ba083ca-6b42-4301-9181-39025ceadd55

Hikayat Negeri Para Kuli dan Berhala Hijau

April 22, 2026
9155c5eb-ca3b-4638-879b-31953e632691

Antara Retorika dan Realitas: Pendidikan Kepemimpinan Perempuan Indonesia

April 22, 2026
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.

Akal Waras di Era Digital

April 22, 2026
Kamis, April 23, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Maret 1, 2026
in #Perang, Amerika, Analisis, Iran, Konflik
Reading Time: 4 mins read
0
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott - IMG_0084 | #Perang | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Peran Israel dan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran dapat dibaca secara tajam melalui dua karya James C. Scott—Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985) dan The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia (2009).

Meskipun kedua buku ini lahir dari studi antropologi pedesaan dan sejarah kawasan pegunungan Asia Tenggara, konsep-konsepnya menawarkan lensa yang sangat produktif untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ia dipaksakan, dan bagaimana ia dihindari. Dalam konteks perang Iran–Israel/AS, teori Scott membantu melihat dinamika yang tidak tampak dalam analisis geopolitik konvensional: bagaimana negara kuat berupaya menutup ruang resistensi, dan bagaimana aktor yang ditekan menciptakan ruang-ruang alternatif untuk bertahan.

Baca Juga
  • Kembalinya Jalur Sutera: Strategi Tersembunyi di Balik Manuver Global
  • Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

Israel/AS sebagai kekuatan hegemonik dan logika resistensi terselubung
Dalam Weapons of the Weak, Scott menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya dilawan melalui pemberontakan terbuka, tetapi melalui bentuk-bentuk resistensi kecil, terselubung, dan berisiko rendah. Ia menulis bahwa kelompok lemah sering memilih “everyday forms of resistance” seperti disimulasi, sabotase kecil, atau kepatuhan pura-pura.


“Everyday forms of resistance… include foot-dragging, dissimulation, false compliance, pilfering, feigned ignorance, slander, arson, sabotage.”
— Weapons of the Weak, p. 29
Dan lebih jauh:
“The powerless are often obliged to adopt strategies that minimize the risks of open confrontation.”
— p. 32

Baca Juga
  • Tidak Semua Anak Menjadi Berita: Bias Media Barat di Gaza, Iran, dan Ukraina
  • Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli


Jika konsep ini dipindahkan ke konteks Timur Tengah, Israel dan AS tampil sebagai kekuatan dominan yang berupaya mengatur tatanan keamanan regional. Mereka memaksakan batasan terhadap program nuklir Iran, mengawasi pergerakan militernya, dan menargetkan jaringan proksi yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Dalam struktur kekuasaan seperti ini, Iran tidak dapat selalu merespons secara frontal. Maka, ia mengembangkan bentuk-bentuk resistensi yang sangat mirip dengan apa yang digambarkan Scott: penggunaan milisi proksi, operasi siber, sabotase, dan diplomasi ambigu yang memungkinkan “kepatuhan pura-pura” terhadap tekanan internasional.

Baca Juga
  • Mengenal Zohran Mamdani yang Dituduh Trump Komunis
  • Ketika Senjata Tarif Presiden Trump Dianggap Illegal Oleh Mahkamah Agungnya


Israel dan AS, dalam kerangka ini, berperan sebagai aktor yang berusaha menutup celah-celah resistensi tersebut. Serangan presisi terhadap fasilitas militer Iran, operasi intelijen terhadap ilmuwan nuklir, dan tekanan diplomatik untuk transparansi adalah upaya untuk menghilangkan ruang bagi strategi “weapons of the weak” yang digunakan Iran.

Dengan demikian, konflik ini dapat dipahami sebagai pertarungan antara kekuatan hegemonik yang ingin mempertahankan tatanan dan aktor yang berusaha menghindari dominasi melalui taktik-taktik terselubung.

Ruang tak tergovernansi dan jaringan proksi sebagai “Zomia modern”
Jika Weapons of the Weak menjelaskan dimensi mikro resistensi, The Art of Not Being Governed menawarkan kerangka makro tentang bagaimana kelompok-kelompok tertentu menghindari kontrol negara. Scott menggambarkan kawasan Zomia sebagai wilayah yang secara geografis dan politis memungkinkan masyarakatnya untuk “menghindari negara” alih-alih melawannya secara langsung. Ia menulis:
“State evasion rather than state confrontation.”


— The Art of Not Being Governed, p. x
Dan:
“The people of Zomia have chosen to be ungoverned… through mobility, dispersion, and avoidance.”
— p. 9
Dalam konteks Iran, konsep ini sangat relevan. Iran membangun jaringan proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman—wilayah yang secara struktural lemah, terfragmentasi, atau berada dalam kondisi perang berkepanjangan.

Ruang-ruang ini berfungsi sebagai “Zomia modern”: wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara besar, tempat aktor non-negara dapat beroperasi dengan otonomi relatif. Scott menegaskan bahwa:
“Nonstate spaces are created by geography, but also by political choices.”
— p. 13


Iran secara sadar menciptakan dan memelihara ruang-ruang non-negara ini sebagai strategi untuk menghindari dominasi Israel/AS. Dengan memindahkan sebagian kekuatan militernya ke jaringan proksi, Iran mengurangi risiko konfrontasi langsung dan memperluas kedalaman strategisnya. Israel dan AS, sebaliknya, berupaya menutup ruang-ruang ini melalui serangan udara di Suriah, operasi intelijen di Irak, dan dukungan militer kepada negara-negara yang berupaya menahan pengaruh Iran.


Dalam kerangka Scott, Israel dan AS berperan sebagai negara sentral yang ingin memperluas kontrolnya ke wilayah-wilayah yang dianggap “tidak tergovernansi”, sementara Iran memanfaatkan ruang-ruang tersebut untuk mempertahankan otonomi dan memproyeksikan kekuatan tanpa harus menanggung biaya perang terbuka.

Kekuasaan, ruang, dan seni menghindari dominasi


Dua karya Scott ini, ketika dibaca bersama, mengungkapkan bahwa konflik Iran–Israel/AS bukan hanya soal misil, diplomasi, atau nuklir. Konflik ini adalah pertarungan tentang ruang—ruang fisik, ruang politik, dan ruang strategis. Israel dan AS berupaya mengatur, mengawasi, dan mengontrol ruang tersebut, sementara Iran berusaha menciptakan celah-celah di mana ia dapat bertahan dan memperluas pengaruhnya tanpa tunduk pada tatanan hegemonik.


Scott membantu melihat bahwa resistensi tidak selalu muncul dalam bentuk perang besar; ia muncul dalam bentuk jaringan proksi, operasi siber, diplomasi ambigu, dan pemanfaatan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara. Dalam perspektif ini, perang Iran–Israel/AS adalah contoh kontemporer dari dinamika klasik antara kekuasaan yang ingin memusat dan aktor yang berusaha menghindari pusat tersebut.

Share234SendTweet146Share
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Next Post
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott - IMG_0082 | #Perang | Potret Online

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com