POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

DI Balik Kartu PBI

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
March 1, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Hujan turun tipis sejak pagi, membasahi halaman puskesmas yang dikelilingi pohon ketapang tua. Air menetes dari ujung daun, jatuh perlahan ke tanah yang mulai berubah menjadi lumpur tipis. Di ruang tunggu, kursi plastik berderet hampir penuh. Sebagian orang menatap layar ponsel, sebagian lagi memandangi lantai dengan wajah lelah.

Di ruang kerjanya, dr. Novi memandangi layar laptop yang menampilkan tabel panjang. Baris demi baris nama, nomor identitas, status kepesertaan, dan catatan verifikasi. Semua tampak rapi, tetapi terasa jauh dari kehidupan yang sebenarnya.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” ujarnya.

Rina, pendamping kesehatan komunitas, melangkah masuk sambil membawa map cokelat tebal. Ia menaruhnya di meja.

“Ini hasil kunjungan minggu lalu, Dok. Ada beberapa perubahan kondisi keluarga.”

Novi mengangguk sambil membuka map itu.
“Terima kasih, Rin. Setiap kali lihat laporan, rasanya seperti membaca potongan cerita yang belum selesai.”

Rina tersenyum tipis.
“Karena memang begitu, Dok. Hidup seperti perputaran roda.”

Novi menutup map sejenak, lalu memandang ke luar jendela. Hujan masih turun pelan, seolah menunda sesuatu yang belum sempat terjadi.

Kartu yang Beemakna

Seorang ibu muda masuk sambil menggendong anak balita yang tampak pucat. Bajunya sedikit basah oleh hujan.

“Silakan duduk, Bu,” kata Novi.

Ibu itu mengeluarkan kartu dari dompet plastik.
“Saya mau periksa anak, Dok. Sudah dua hari demam.”

Novi menerima kartu itu dan sekilas membaca statusnya: PBI aktif.

“Namanya siapa?” tanya Novi.

“Rafi,” jawab ibu itu pelan.

Novi memeriksa anak tersebut dengan hati-hati. Setelah selesai, ia menulis resep dan memberikan penjelasan.

Ibu itu tampak ragu sebelum berdiri.
“Dok… kartu ini masih bisa dipakai, kan?”

“Tentu, Bu. Masih aktif,” jawab Novi.

Perempuan itu menghela napas lega.
“Soalnya kemarin ada yang bilang saya sudah tidak berhak. Katanya suami saya sekarang kerja di bengkel.”

Novi menatapnya dengan lembut.
“Pekerjaannya tetap setiap hari?”

Ibu itu menggeleng.
“Kadang ada, kadang tidak. Kalau lagi sepi, kami cuma mengandalkan tabungan kecil.”

Novi mengangguk perlahan.
“Kartu ini ada supaya ibu tidak perlu khawatir saat anak sakit.”

Perempuan itu tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Terima kasih, Dok. Rasanya seperti punya pegangan.”

Setelah mereka keluar, Rina yang sedari tadi mencatat di sudut ruangan berkata,
“Kasus seperti ini sering sekali. Dari luar kelihatan baik-baik saja.”

Novi menyandarkan punggung ke kursi.
“Ya. Kadang orang menilai hidup dari tampilan, bukan dari ketidakpastian yang dijalani.”

Jalan Menuju Kampung Cempaka

Keesokan harinya, Novi dan Rina berangkat ke kampung Cempaka untuk kunjungan lapangan. Jalan kecil menuju kampung itu melewati sawah yang baru ditanami. Angin membawa bau lumpur dan daun muda.

Di rumah pertama, mereka disambut seorang bapak tua yang tinggal bersama cucunya.

“Kami hanya ingin memperbarui data, Pak,” jelas Rina.

Bapak itu mengangguk sambil mempersilakan mereka masuk. Rumahnya sederhana, dindingnya masih papan, tetapi bersih dan rapi.

Novi memperhatikan sekeliling: rak buku kecil, foto keluarga, dan kalender lama yang masih tergantung.

“Sehari-hari Bapak kerja apa?” tanya Novi.

“Saya menjaga kebun orang. Upahnya tidak tentu,” jawabnya.

Cucunya yang duduk di lantai menatap mereka dengan rasa ingin tahu.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Berpikir Kritis sebagai Benteng Moral di Tengah Sensasi Seksual dan Objektifikasi Tubuh

HARGA NAIK, DAYA BELI RENDAH

Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri

Setelah mencatat beberapa hal, Rina menutup buku catatannya.
“Terima kasih, Pak. Kami hanya ingin memastikan semua tercatat sesuai kondisi.”

Bapak itu tersenyum.
“Yang penting kami masih bisa berobat kalau perlu. Itu saja sudah sangat membantu.”

Saat berjalan keluar, Novi berbisik,
“Kalimat sederhana, tapi berat maknanya.”

Rina mengangguk.
“Karena bagi mereka, jaminan kesehatan itu bukan konsep. Itu rasa aman.”

Percakapan yang Membuka Mata

Sore hari, mereka berhenti di warung kecil untuk beristirahat. Langit mulai berubah senja, dan suara anak-anak bermain terdengar dari kejauhan.

Novi menyeruput teh hangat.
“Kadang saya berpikir, kenapa polemik soal bantuan ini tidak pernah selesai.”

Rina menatap jalan yang mulai sepi.
“Mungkin karena orang melihat dari jarak jauh. Mereka melihat kategori, bukan perjalanan hidup.”

Novi tersenyum kecil.
“Di kantor, yang dibahas angka. Di lapangan, yang kita temui cerita.”

Rina tertawa pelan.
“Dan cerita tidak pernah sesederhana angka.”

Mereka terdiam sejenak, menikmati angin sore yang sejuk.

Data yang Mulai Berbicara

Beberapa hari kemudian, Novi menghadiri rapat koordinasi secara daring. Di layar, wajah-wajah pejabat dan tenaga kesehatan dari berbagai daerah muncul bergantian.

Salah satu peserta menyampaikan,
“Kita harus meningkatkan validasi agar tidak ada kesalahan sasaran.”

Novi menunggu giliran bicara.
“Saya sepakat soal pentingnya validasi. Namun saya ingin menambahkan, data yang akurat perlu didukung pemahaman lapangan. Banyak keluarga berada di di atas garis kemiskinan, tidak miskin sekali, tetapi sangat rentan.”

Beberapa peserta mengangguk.

“Pendekatan komunitas membantu melihat perubahan kondisi lebih cepat,” lanjutnya. “Dengan begitu, kebijakan tidakk hanya tepat secara administratif, tetapi juga adil secara sosial.”

Rapat berlanjut dengan diskusi panjang. Namun bagi Novi, satu hal terasa jelas: angka-angka di layar itu mulai memiliki konteks.

Soee yang Tenang

Soee itu, Novi duduk sendirian di ruang kerjanya. Puskesmas sudah sepi, hanya suara kipas angin yang terdengar pelan.

Ia membuka kembali daftar peserta PBI. Kali ini, setiap nama terasa berbeda. Ia teringat wajah ibu muda, bapak penjaga kebun, dan anak-anak yang mereka temui.

“Setiap baris ini adalah kehidupan,” gumamnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Rina muncul.

“Kunjungan hari ini terasa berat, tapi juga menguatkan,” tulis Rina.

Novi membalas,
“Karena kita diingatkan bahwa pekerjaan ini tentang manusia, bukan hanya sistem.”

Ia menutup laptop dan mematikan lampu ruangan. Di luar, malam terasa hangat dan sunyi.

Kesadaran yang Tumbuh

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa: pasien datang, laporan ditulis, rapat dihadiri. Namun ada sesuatu yang berubah dalam cara Novi memandang pekerjaannya.

Ia tidak lagi melihat kartu PBI sebagai simbol bantuan semata, melainkan sebagai jembatan antara kebijakan dan kehidupan nyata.

Suatu pagi, seorang remaja datang membawa kartu milik ibunya.

“Ibu saya tidak bisa datang, Dok. Dia sedang bekerja,” katanya.

Novi menerima kartu itu dan tersenyum.
“Tidak apa-apa. Sampaikan salam saya untuk ibu.”

Remaja itu mengangguk, lalu berkata pelan,
“Kartu ini membantu sekali waktu ibu sakit. Kami jadi tidak terlalu takut.”

Setelah ia pergi, Novi merasa ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Bukan karena pekerjaannya selesai, tetapi karena ia melihat dampaknya secara langsung.

Empati sebagai Arah

Beberapa minggu kemudian, Novi diminta berbagi pengalaman dalam pertemuan tenaga kesehatan daerah. Ia berdiri di depan ruangan kecil dengan mikrofon.

“Kita sering bicara tentang data, efisiensi, dan sistem,” katanya. “Semua itu penting. Namun kita juga perlu mengingat bahwa di balik setiap angka ada cerita yang tidak selalu terlihat.”

Ia berhenti sejenak, menatap peserta yang mendengarkan dengan saksama.

“Ketika kita bekerja dengan empati, kebijakan menjadi lebih dari sekadar aturan. Menunjukan cara kita menjaga sesama.”

Ruangan hening, lalu terdengar tepuk tangan pelan.

Penutup: Kartu dan Harapan

Suatu sore, hujan kembali turun seperti hari pertama cerita ini dimulai. Novi berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, memandang halaman yang basah.

Di meja, beberapa kartu peserta yang tertinggal menunggu diambil. Ia merapikannya dengan hati-hati.

Baginya, kartu-kartu itu bukan lagi sekadar identitas administratif. Mereka adalah simbol harapan kecil yang membantu orang bertahan di masa sulit.

Rina masuk sambil membawa laporan baru.
“Sepertinya pekerjaan kita tidak akan pernah selesai,” katanya sambil tersenyum.

Novi membalas dengan senyum yang sama.
“Memang. Tapi mungkin bukan itu tujuannya.”

Rina mengangkat alis, seolah meminta penjelasan.

“Tujuannya memastikan setiap orang merasa tidak sendirian,” lanjut Novi.

Di luar, hujan perlahan mereda. Cahaya sore muncul di sela awan, menyinari halaman yang basah.

Novi menatap keluar, merasakan ketenangan yang jarang ia sadari sebelumnya. Ia tahu pekerjaan ini akan selalu penuh tantangan, data yang berubah, dan cerita yang tak pernah selesai.

Namun di balik semua itu, ada keyakinan sederhana yang membuatnya tetap melangkah: bahwa empati adalah cara paling sunyi untuk merawat keadilan.

Dan di sanalah, di balik setiap kartu PBI, ttersimpan kisah tentang manusia meski hidup penuh tantangan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 70x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
143
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00