Dengarkan Artikel
Ramadan #8
Oleh Dayan Abdurrahman
Dari Imperium ke Ujung Republik
Untuk memahami Ramadan sebagai titik balik, kita tidak bisa memulai dari hari ini saja. Kita harus mundur ke belakang, menelusuri memori panjang Aceh sebagai sebuah peradaban.
Aceh pernah berdiri sebagai imperium maritim besar di Asia Tenggara. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi pusat perdagangan, diplomasi, dan intelektual Islam. Ulama seperti Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri menandai fase ketika Aceh tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga matang secara spiritual dan epistemik.
Aceh saat itu bukan wilayah pinggiran. Ia adalah pusat.
Namun sejarah bergerak. Kolonialisme Eropa datang. Perang panjang melawan Belanda menjadikan Aceh salah satu wilayah dengan perlawanan paling keras dalam sejarah kolonial Asia. Tokoh seperti Teungku Chik di Tiro menjadi simbol bahwa perlawanan Aceh bukan sekadar politik, tetapi juga soal martabat.
Kolonialisme tidak hanya menggerus wilayah. Ia mengubah struktur ekonomi dan memotong mata rantai kemandirian.
Dari imperium, Aceh dipaksa menjadi daerah taklukan.
Dinamika dengan Republik Indonesia
Ketika Republik Indonesia berdiri, Aceh memilih menjadi bagian dari narasi kebangsaan. Tetapi hubungan itu tidak pernah sepenuhnya sederhana. Ketegangan politik, konflik, dan perasaan keterpinggiran menjadi bagian dari sejarah modern Aceh.
Aceh yang pernah menjadi pusat kini berada di ujung republik.
Namun di tengah dinamika itu, satu hal tetap bertahan: identitas keislaman yang kuat.
Pemberian status otonomi khusus dan penerapan syariat menjadi bentuk kompromi sejarah. Tetapi pertanyaan kritisnya adalah: apakah struktur itu telah menghasilkan keadilan sosial yang sistemik?
Dayan melihat bahwa inilah simpul refleksi kita hari ini. Apakah syariat hanya menjadi simbol identitas, ataukah sudah menjadi arsitektur ekonomi?
Tsunami dan Bencana Ekologi: Transformasi yang Dipaksakan
Tahun 2004 menjadi titik paling traumatik dalam sejarah modern Aceh. Tsunami menghancurkan kota, desa, dan kehidupan. Dunia datang membantu. Aceh berubah dari wilayah konflik menjadi pusat solidaritas global.
Tragedi itu mengubah wajah sosial Aceh secara drastis. Ia mempercepat perdamaian, tetapi juga menciptakan ketergantungan pada bantuan eksternal.
Hari ini, selain trauma tsunami, Aceh menghadapi tantangan ekologi: deforestasi, eksploitasi sumber daya, dan kerentanan lingkungan.
Sejarah Aceh adalah sejarah perubahan wajah.
Namun ada satu yang tidak pernah runtuh sepenuhnya: iman dan sistem syariat yang melekat dalam kesadaran kolektif masyarakatnya.
Ramadan: Momentum Spiritual atau Momentum Struktural?
📚 Artikel Terkait
Ramadan selalu hadir sebagai pengingat iman. Tetapi bagi Aceh, Ramadan harus lebih dari sekadar ibadah ritual.
Puasa memang tampak pasif. Kita menahan lapar dan dahaga. Tetapi secara sosial, puasa adalah latihan keadilan. Ia mengajarkan empati. Ia mengajarkan pengendalian diri.
Jika masyarakat menahan konsumsi, maka negara pun seharusnya menahan ketimpangan.
Dayan berpendapat bahwa Ramadan harus menjadi bulan evaluasi struktural. Apakah zakat hanya dibagikan, ataukah diinvestasikan secara produktif? Apakah wakaf hanya simbol amal, ataukah menjadi mesin ekonomi rakyat?
Jika tidak ada transformasi kebijakan, maka Ramadan hanya akan menjadi siklus tahunan tanpa dampak jangka panjang.
Simbolik Kuat, Sistemik Belum Tuntas
Aceh hari ini memiliki perangkat hukum syariat dan institusi seperti Baitul Mal. Secara identitas, Aceh sangat kuat. Tetapi secara ekonomi makro, Aceh masih menghadapi tantangan kemiskinan dan ketergantungan fiskal.
Di sinilah perbedaan antara simbol dan sistem menjadi nyata.
Simbol memberi kebanggaan.
Sistem memberi keberlanjutan.
Dayan melihat bahwa keadilan sosial tidak cukup diproklamasikan. Ia harus dirancang. Ia harus diukur. Ia harus dikelola secara profesional.
Tokoh seperti Muhammad Quraish Shihab mengingatkan bahwa maqashid syariah bertujuan menjaga kemaslahatan manusia. Jika kemiskinan masih tinggi, maka kita perlu bertanya: di mana yang perlu diperbaiki dalam desain sistem?
Wahai Republik Indonesia, Lihatlah Aceh
Aceh bukan sekadar daerah otonomi khusus. Aceh adalah wilayah dengan sejarah panjang peradaban Islam.
Wahai Republik Indonesia, lihatlah Aceh bukan sebagai wilayah yang harus terus diawasi, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun model keadilan sosial berbasis nilai.
Aceh merdeka secara spiritual.
Aceh merdeka dalam iman.
Aceh merdeka dalam martabat.
Jika Aceh tidak dapat berdiri sebagai entitas politik terpisah, maka berikanlah ia ruang kemerdekaan dalam desain sosial-ekonominya. Percayakan Aceh untuk menjadi laboratorium nasional.
Bukan sebagai beban sejarah.
Tetapi sebagai kebanggaan republik.
Dari Lokal ke Global
Dunia Islam hari ini menghadapi tantangan ketimpangan dan stagnasi kelembagaan. Pemikir seperti Muhammad Iqbal menyerukan rekonstruksi pemikiran Islam agar mampu menjawab modernitas.
Aceh memiliki peluang unik untuk menunjukkan bahwa nilai Islam dapat berjalan beriringan dengan tata kelola modern.
Digitalisasi zakat.
Integrasi data kemiskinan.
Wakaf produktif di sektor agraria dan UMKM.
Roadmap 20 tahun ekonomi sosial.
Jika langkah ini dilakukan secara konsisten, Aceh tidak hanya menjadi simbol religius. Ia menjadi model kebijakan.
Martabat yang Tidak Pernah Hilang
Sejarah telah membuat Aceh mengecil secara teritorial dibanding masa imperium. Namun ia tidak harus mengecil secara gagasan.
Ramadan memberi kita momentum refleksi: apakah kita ingin terus merayakan masa lalu, atau membangun sistem masa depan?
Dayan percaya bahwa Aceh memiliki semua prasyarat untuk bangkit dalam bentuk baru—bukan sebagai imperium teritorial, tetapi sebagai imperium keadilan sosial.
Dari ritual menuju arsitektur.
Dari simbol menuju sistem.
Dari sejarah menuju masa depan.
Jika Ramadan dimaknai sebagai titik balik kebijakan, maka suatu hari nanti Aceh akan dikenal bukan hanya sebagai Serambi Mekah.
Ia akan dikenal sebagai wilayah yang mampu mengubah iman menjadi sistem, dan sistem menjadi kesejahteraan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





