POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dialetika Kampus

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
February 27, 2026
Tags: #analisisArtikelLiterasi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Novita Sari Yahya

Dialog drama dialetika kampus terdapat dalam buku self love: rumah perlindungan diri

Drama Kampus 3 Babak tentang Gerakan Mahasiswa, Represi, dan Kebebasan Akademik
Karya: Novita Sari Yahya

DAFTAR TOKOH

Raka — Mahasiswa ilmu politik, idealis

Mira — Aktivis pers kampus, reflektif

Bagas — Mahasiswa hukum, logis

Sinta — Mahasiswi baru, pengamat

Dosen Arif — Dosen sosiologi politik

Pejabat Kampus — Representasi institusi

Narator

BABAK I — BENIH PERTANYAAN

Adegan 1 — Taman Kampus, Pagi

(Suasana santai. Mahasiswa duduk melingkar.)

Narator:
Setiap gerakan selalu dimulai dari pertanyaan kecil. Dari rasa tidak puas yang belum menemukan bahasa.

Raka:
“Kalian pernah merasa kampus ini tenang sekali? Terlalu tenang.”

Bagas:
“Tenang bukan berarti sehat. Kadang itu tanda semua orang memilih diam.”

Sinta:
“Memangnya mahasiswa harus selalu gelisah?”

Mira:
“Bukan gelisah. Tapi peka. Kalau ruang pikir mati, kampus kehilangan maknanya.”

Adegan 2 — Diskusi Terbuka

Raka:
“Aku ingat kritik Rocky Gerung soal intelektual yang kehilangan keberanian. Itu seperti peringatan.”

Bagas:
“Karena kalau yang berpikir berhenti bicara, ruang publik diisi mereka yang hanya mengandalkan kekuatan.”

Mira:
“Fenomena yang juga dibahas Ian Wilson tentang kuasa informal di jalanan.”

(Mahasiswa lain mulai memperhatikan.)

Adegan 3 — Kesepakatan

Raka:
“Bagaimana kalau kita bikin forum diskusi terbuka tentang kebebasan akademik?”

Mira:
“Aku bisa bantu dari pers kampus.”

Bagas:
“Aku urus aspek hukum dan perizinan.”

Narator:
Dan begitulah, sebuah ide kecil mulai bergerak.

(Lampu redup.)

📚 Artikel Terkait

SLB YBSM Banda Aceh Peringati Hari Disabilitas Internasional

KETUKAN RAMADAN

MENGHENTIKAN POLITIK ORANG KAYA

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)

BABAK II — GELOMBANG DAN TEKANAN

Adegan 1 — Aula Kampus

(Poster diskusi terpasang. Mahasiswa berkumpul.)

Dosen Arif:
“Kebebasan akademik bukan sekadar hak berbicara. Ia adalah fondasi ilmu pengetahuan.”

Sinta:
“Pak, kenapa kebebasan itu sering terasa rapuh?”

Dosen Arif:
“Karena ia selalu berada di antara pengetahuan dan kekuasaan.”

Adegan 2 — Diskusi Memanas

Raka:
“Sejarah menunjukkan, mahasiswa sering jadi pengingat negara.”

Bagas:
“Dan tokoh seperti Hariman Siregar membuktikan risiko dari keberanian itu.”

Mira:
“Pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi risiko yang sama?”

(Suasana tegang.)

Adegan 3 — Intervensi

(Pejabat Kampus masuk.)

Pejabat Kampus:
“Kegiatan diskusi ini harus menjaga stabilitas kampus. Jangan sampai memicu kegaduhan.”

Raka:
“Diskusi bukan kegaduhan. Justru cara mencegah konflik.”

Pejabat Kampus:
“Kebebasan tetap ada batasnya.”

(Pejabat keluar. Suasana hening.)

Adegan 4 — Monolog Raka

(Lampu fokus.)

Raka:
“Apakah keberanian selalu dianggap ancaman? Atau justru kita yang terlalu takut kehilangan kenyamanan?”

(Lampu kembali normal.)

BABAK III — KESADARAN DAN HARAPAN

Adegan 1 — Malam di Kampus

(Suasana lebih tenang.)

Mira:
“Aku baru sadar, perjuangan bukan hanya soal aksi. Tapi menjaga ruang dialog tetap hidup.”

Bagas:
“Hukum bisa mengatur, tapi nalar publik yang menentukan arah.”

Sinta:
“Berarti mahasiswa bukan hanya pengkritik, tapi penjaga akal sehat?”

Dosen Arif:
“Tepat sekali.”

Adegan 2 — Resolusi

Raka:
“Kita lanjutkan forum ini secara rutin. Bukan untuk melawan, tapi untuk merawat ruang berpikir.”

Mira:
“Karena demokrasi tidak hanya lahir di parlemen, tapi juga di ruang diskusi.”

Bagas:
“Dan sejarah membuktikan, ide selalu lebih kuat dari rasa takut.”

Adegan 3 — Penutup

(Semua tokoh berdiri di depan panggung.)

Narator:
Gerakan mahasiswa bukan sekadar aksi di jalan. Ia adalah percakapan panjang tentang keberanian berpikir. Selama kampus masih menjadi ruang dialog, harapan tidak akan pernah sunyi.

(Lampu perlahan padam.)

CATATAN PEMENTASAN

Durasi: ±60–75 menit

Tema musik: instrumental minimalis / suara ambience kampus

Setting: kursi, meja diskusi, poster, papan tulis

Gaya akting: realis, dialog natural

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 88x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 83x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 81x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 81x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #analisisArtikelLiterasi
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
142
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Budaya CANTIK

Budaya CANTIK

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00