HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Februari 23, 2026
in Bahasa, Esai, Sastra
Reading Time: 4 mins read
0
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
600
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung   

Sebagai penyair, ada kebahagiaan yang sulit saya uraikan ketika mengetahui bahwa puisi saya, “Yang Menyala dalam Senyap,” akan diperdanakan dalam bentuk tembang puitik di Melbourne, Australia, pada 30 Mei 2026. Bersama puisi “Izinkan” karya Medy Loekito, karya kami digubah oleh komponis Indonesia, Ananda Sukarlan, lalu akan dibawakan oleh soprano Indonesia yang bermukim di Australia, Elizabeth Rusli, dengan iringan piano oleh Joseph Beckitt. Konser bertajuk Songs from Within itu akan digelar di Music Valley, Point Cook, Melbourne—sebuah ruang yang sebentar lagi akan dipenuhi gema bahasa Indonesia dalam balutan musik klasik.

Baca Juga

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

Maret 10, 2026

Bagi saya, peristiwa ini bukan sekadar konser. Melbourne adalah salah satu kota di Australia dengan populasi warga negara Indonesia yang signifikan, diperkirakan sekitar 20.000 orang dalam beberapa tahun terakhir. Di sanalah diaspora kita bertumbuh, melahirkan generasi kedua yang tetap membawa ingatan tentang tanah air. Namun yang membuat saya semakin bangga, konser ini tidak hanya menyasar komunitas Indonesia, melainkan juga publik Australia. Terjemahan bahasa Inggris puisi-puisi kami akan dimuat dalam buku program, sehingga audiens non-Indonesia dapat memahami metafora, karakter, dan kedalaman ekspresi yang kami tuliskan. Bahasa Indonesia, melalui musik, menemukan jalannya sendiri untuk berdialog dengan dunia.

Dalam resital tersebut, Liz dan Joseph tidak hanya memperdanakan dua tembang puitik karya Ananda, tetapi juga menampilkan karya klasik seperti Sechs Lieder Op. 13 karya Clara Schumann serta “Now Touch The Air Softly” karya komponis Australia, Calvin Bowman. Saya melihat ini sebagai pertemuan setara: puisi Indonesia berdampingan dengan tradisi klasik Eropa dan Australia, tanpa inferioritas, tanpa rasa kecil.

Puisi Medy Loekito, “Izinkan,” yang ditulis pada 2025, hanya terdiri dari tiga baris:

izinkan aku menyanyi

bagi cahaya bintang di sela jemarimu

hingga tunai segala irama

Kepadatan dan kekuatan puisinya membuat Ananda segera menemukan bentuk musikalnya. Ia pernah bercerita kepada kami, “Puisi itu begitu kuat dan padat sehingga langsung terbentuk musiknya secara utuh. Dua puluh menit setelah kak Medy mengirimkan lewat WhatsApp, saya kirim balik partiturnya.” Hingga kini, Ananda telah menggubah lebih dari 600 tembang puitik dari puisi berbahasa Inggris, Spanyol, dan Indonesia—sebuah dedikasi panjang yang membuat saya merasa terhormat menjadi bagian kecil dari perjalanan kreatifnya.

Tentang puisi saya sendiri, Ananda mengaku “kesetrum” oleh metafora dan elaborasi fonetiknya. Ia melihat dua daya tarik berbeda antara saya dan Medy: pada Medy, kepadatan; pada saya, elaborasi yang mengalir seperti lembaran buku yang terus terbuka atau deburan ombak yang datang silih berganti. Saya menerima tafsir itu dengan syukur.

Ketika menulis “Yang Menyala dalam Senyap,” saya memulainya bukan dari gagasan besar, melainkan dari satu citraan sederhana: sebuah kitab berdebu di rak rumah yang sunyi. Dari situ, debu menjadi metafora kelalaian kolektif, rak menjadi panggung peradaban yang lebih percaya algoritma dan mesin pencari daripada suara batin. Saya sengaja mempertentangkan dunia maya dengan “sungai abadi” dalam kitab suci sebagai simbol benturan antara yang instan dan yang kekal. Puisi itu saya tulis dengan ritme lirih, agar ia tidak menggurui, melainkan berbisik. Jika kini bisikan itu akan dinyanyikan di Australia, saya merasa bahasa Indonesia sedang membuktikan bahwa ia mampu menyentuh ruang-ruang global tanpa kehilangan jati dirinya.

Ananda Sukarlan sendiri adalah penerima berbagai penghargaan internasional, termasuk “Real Orden de Isabel la Católica” dari Kerajaan Spanyol dan gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” yang dianugerahkan Presiden Italia, Sergio Mattarella. Pada 2020, ia juga masuk daftar 100 “Asian Most Influential” versi Tatler Asia (Hong Kong). Reputasi itu memberi bobot tersendiri bagi karya-karya yang ia sentuh.

Pada April 2026, ia dijadwalkan berkeliling Indonesia, dimulai dengan konser di Soehanna Hall, Jakarta, 5 April, bersama pianis tunanetra Jepang Takeshi Kakehashi dan soprano Mariska Setiawan, lalu berlanjut ke Lampung, Samarinda, dan sejumlah kota di Jawa Tengah sebelum kembali ke Spanyol. Saya melihat konsistensi itu sebagai bentuk nyata diplomasi budaya yang tidak lelah.

Elizabeth Rusli sendiri aktif sebagai solois utama di berbagai konser di Australia, membawakan repertoar sakral dan opera, termasuk Coronation Mass karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Little Organ Mass karya Joseph Haydn. Ia juga terlibat dalam pementasan karya besar seperti Ein Deutsches Requiem karya Johannes Brahms, Messiah karya George Frideric Handel, serta Missa Solemnis karya Ludwig van Beethoven, dan akan melakukan tur opera Don Giovanni karya Mozart pada 2026.

Sementara itu, Joseph Beckitt, lulusan Conservatorium of Tasmania dan Victorian College of the Arts, aktif sebagai pianis, pengajar, dan komponis dengan karya seperti Piano Concerto (1994) dan musik teater A Pregnant Pause (1993).

Melalui kolaborasi lintas negara ini, saya berharap bukan hanya puisi saya yang bergema, melainkan kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia dan sastra kita sendiri. Jika sebuah puisi yang lahir dari rak berdebu di rumah sunyi kini akan dinyanyikan di Melbourne, maka saya percaya: bahasa Indonesia tidak pernah kecil. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan—dan tetap menyala, bahkan dalam senyap.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 182x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 147x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 127x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare240
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
#Doa di Bulan Ramadan

Malam Lailatul Qadar

Maret 15, 2026
Agama

Ketika Agama Menjadi Optik: Refleksi Ramadhan 1447 dari Serambi Mekkah

Maret 15, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Kualitas pendidikan

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Next Post
Zaid bin Tsabit, Sang Arsitek Keabadian Alquran

Zaid bin Tsabit, Sang Arsitek Keabadian Alquran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com