Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Sebagai penyair, ada kebahagiaan yang sulit saya uraikan ketika mengetahui bahwa puisi saya, “Yang Menyala dalam Senyap,” akan diperdanakan dalam bentuk tembang puitik di Melbourne, Australia, pada 30 Mei 2026. Bersama puisi “Izinkan” karya Medy Loekito, karya kami digubah oleh komponis Indonesia, Ananda Sukarlan, lalu akan dibawakan oleh soprano Indonesia yang bermukim di Australia, Elizabeth Rusli, dengan iringan piano oleh Joseph Beckitt. Konser bertajuk Songs from Within itu akan digelar di Music Valley, Point Cook, Melbourne—sebuah ruang yang sebentar lagi akan dipenuhi gema bahasa Indonesia dalam balutan musik klasik.
Bagi saya, peristiwa ini bukan sekadar konser. Melbourne adalah salah satu kota di Australia dengan populasi warga negara Indonesia yang signifikan, diperkirakan sekitar 20.000 orang dalam beberapa tahun terakhir. Di sanalah diaspora kita bertumbuh, melahirkan generasi kedua yang tetap membawa ingatan tentang tanah air. Namun yang membuat saya semakin bangga, konser ini tidak hanya menyasar komunitas Indonesia, melainkan juga publik Australia. Terjemahan bahasa Inggris puisi-puisi kami akan dimuat dalam buku program, sehingga audiens non-Indonesia dapat memahami metafora, karakter, dan kedalaman ekspresi yang kami tuliskan. Bahasa Indonesia, melalui musik, menemukan jalannya sendiri untuk berdialog dengan dunia.
Dalam resital tersebut, Liz dan Joseph tidak hanya memperdanakan dua tembang puitik karya Ananda, tetapi juga menampilkan karya klasik seperti Sechs Lieder Op. 13 karya Clara Schumann serta “Now Touch The Air Softly” karya komponis Australia, Calvin Bowman. Saya melihat ini sebagai pertemuan setara: puisi Indonesia berdampingan dengan tradisi klasik Eropa dan Australia, tanpa inferioritas, tanpa rasa kecil.
Puisi Medy Loekito, “Izinkan,” yang ditulis pada 2025, hanya terdiri dari tiga baris:
izinkan aku menyanyi
bagi cahaya bintang di sela jemarimu
hingga tunai segala irama
📚 Artikel Terkait
Kepadatan dan kekuatan puisinya membuat Ananda segera menemukan bentuk musikalnya. Ia pernah bercerita kepada kami, “Puisi itu begitu kuat dan padat sehingga langsung terbentuk musiknya secara utuh. Dua puluh menit setelah kak Medy mengirimkan lewat WhatsApp, saya kirim balik partiturnya.” Hingga kini, Ananda telah menggubah lebih dari 600 tembang puitik dari puisi berbahasa Inggris, Spanyol, dan Indonesia—sebuah dedikasi panjang yang membuat saya merasa terhormat menjadi bagian kecil dari perjalanan kreatifnya.
Tentang puisi saya sendiri, Ananda mengaku “kesetrum” oleh metafora dan elaborasi fonetiknya. Ia melihat dua daya tarik berbeda antara saya dan Medy: pada Medy, kepadatan; pada saya, elaborasi yang mengalir seperti lembaran buku yang terus terbuka atau deburan ombak yang datang silih berganti. Saya menerima tafsir itu dengan syukur.
Ketika menulis “Yang Menyala dalam Senyap,” saya memulainya bukan dari gagasan besar, melainkan dari satu citraan sederhana: sebuah kitab berdebu di rak rumah yang sunyi. Dari situ, debu menjadi metafora kelalaian kolektif, rak menjadi panggung peradaban yang lebih percaya algoritma dan mesin pencari daripada suara batin. Saya sengaja mempertentangkan dunia maya dengan “sungai abadi” dalam kitab suci sebagai simbol benturan antara yang instan dan yang kekal. Puisi itu saya tulis dengan ritme lirih, agar ia tidak menggurui, melainkan berbisik. Jika kini bisikan itu akan dinyanyikan di Australia, saya merasa bahasa Indonesia sedang membuktikan bahwa ia mampu menyentuh ruang-ruang global tanpa kehilangan jati dirinya.
Ananda Sukarlan sendiri adalah penerima berbagai penghargaan internasional, termasuk “Real Orden de Isabel la Católica” dari Kerajaan Spanyol dan gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” yang dianugerahkan Presiden Italia, Sergio Mattarella. Pada 2020, ia juga masuk daftar 100 “Asian Most Influential” versi Tatler Asia (Hong Kong). Reputasi itu memberi bobot tersendiri bagi karya-karya yang ia sentuh.
Pada April 2026, ia dijadwalkan berkeliling Indonesia, dimulai dengan konser di Soehanna Hall, Jakarta, 5 April, bersama pianis tunanetra Jepang Takeshi Kakehashi dan soprano Mariska Setiawan, lalu berlanjut ke Lampung, Samarinda, dan sejumlah kota di Jawa Tengah sebelum kembali ke Spanyol. Saya melihat konsistensi itu sebagai bentuk nyata diplomasi budaya yang tidak lelah.
Elizabeth Rusli sendiri aktif sebagai solois utama di berbagai konser di Australia, membawakan repertoar sakral dan opera, termasuk Coronation Mass karya Wolfgang Amadeus Mozart dan Little Organ Mass karya Joseph Haydn. Ia juga terlibat dalam pementasan karya besar seperti Ein Deutsches Requiem karya Johannes Brahms, Messiah karya George Frideric Handel, serta Missa Solemnis karya Ludwig van Beethoven, dan akan melakukan tur opera Don Giovanni karya Mozart pada 2026.
Sementara itu, Joseph Beckitt, lulusan Conservatorium of Tasmania dan Victorian College of the Arts, aktif sebagai pianis, pengajar, dan komponis dengan karya seperti Piano Concerto (1994) dan musik teater A Pregnant Pause (1993).
Melalui kolaborasi lintas negara ini, saya berharap bukan hanya puisi saya yang bergema, melainkan kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia dan sastra kita sendiri. Jika sebuah puisi yang lahir dari rak berdebu di rumah sunyi kini akan dinyanyikan di Melbourne, maka saya percaya: bahasa Indonesia tidak pernah kecil. Ia hanya menunggu untuk dinyalakan—dan tetap menyala, bahkan dalam senyap.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





