HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bahagia Dengan Latihan Menjadi Orang yang Tidak Penting

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Februari 22, 2026
in Esai
Reading Time: 3 mins read
0
Bahagia Dengan Latihan Menjadi Orang yang Tidak Penting
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung

Kita hidup di zaman ketika percakapan terdengar seperti bisik-bisik kecurigaan. Di ruang kerja, di panggung seni, bahkan di lingkar pertemanan, terasa ada kasak-kusuk yang tak pernah benar-benar padam. Orang saling menyikut dalam diam, saling menjatuhkan dengan elegan. Prestasi yang seharusnya dirayakan justru memantik iri. Kita seperti terjebak dalam ekosistem batin yang toksik, di mana keberhasilan orang lain dibaca sebagai ancaman, bukan sebagai inspirasi. Jika kultur ini terus menjamur, yang runtuh bukan hanya relasi personal, tetapi juga daya cipta kolektif kita sebagai bangsa.

Baca Juga

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

Maret 10, 2026

Saya teringat peringatan Aristoteles dalam Etika Nikomakea bahwa “manusia adalah makhluk sosial.” Terjemahan sederhana dari gagasan itu adalah: kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas relasi kita. Ketika relasi dipenuhi iri dan transaksi, maka masyarakat kehilangan harmoni alaminya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga mengingatkan tentang pentingnya asabiyyah, solidaritas sosial, sebagai fondasi kebangkitan peradaban. Ketika solidaritas digantikan oleh kompetisi yang saling melukai, peradaban memasuki fase kemundurannya sendiri.

Mengapa kita sampai di titik ini? Salah satu sebab yang jarang disadari adalah overdosis konsumsi kutipan motivasi di media sosial. Kita dijejali kalimat-kalimat indah yang terdengar bijak, tetapi sering kali menumbuhkan ego secara halus. Salah satu yang populer adalah: ‘carilah tempat di mana kamu dihargai’. Sekilas, ini terdengar seperti nasihat tentang martabat diri. Namun jika ditelan tanpa kebijaksanaan, ia melahirkan generasi yang hanya ingin dihargai, dipuji, dan diakui. Jika suatu tempat tidak memberi harga yang pantas menurut kita, kita pergi. Jika seseorang tak mampu membalas dengan setara, kita menjauh.

Padahal hidup tidak selalu berlangsung dalam simetri penghargaan. Bagaimana jika ada seseorang yang membutuhkan kita, tetapi tak mampu menghargai kita secara layak? Apakah kita akan mundur atas nama harga diri? Di sinilah letak ujian keikhlasan. Al-Ghazali pernah menulis bahwa amal tanpa niat yang lurus hanyalah gerak kosong. Keikhlasan adalah bekerja tanpa menunggu tepuk tangan. Marcus Aurelius dalam Renungan menasihati, “Lakukan yang benar. Selebihnya tidak penting.” Sebuah ajaran stoik yang menempatkan nilai pada tindakan itu sendiri, bukan pada respons orang lain.

Hari ini, hampir semua hal dinilai secara transaksional. Pertemanan, kerjasama, bahkan kebaikan, seolah memiliki tarif emosional. Kita membantu jika dihargai. Kita mendukung jika disebut. Kita berbuat baik jika ada pengakuan. Dalam kultur seperti ini, empati menjadi barang langka. Maka tak heran jika masyarakat terasa kurang harmonis. Setiap orang sibuk menjaga citra dan posisi. Semua ingin menjadi orang penting.

Dalam situasi semacam ini, saya melihat satu strategi bertahan yang paradoksal: seni bersikap bodo amat. Ini bukan sikap apatis terhadap kebaikan, melainkan cara menyelamatkan kewarasan dari lingkungan yang beracun. Bodo amat adalah pagar sementara untuk menjaga kesehatan jiwa, agar kita tidak terseret dalam pusaran iri dan gosip. Ia adalah ruang sunyi untuk menata ulang niat, untuk menguatkan mental, sampai kita cukup kokoh untuk kembali terlibat tanpa kehilangan diri.

Namun berhenti di situ tidak cukup. Bodo amat hanyalah fase transisi, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah melampaui diri sendiri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Jadilah dirimu sendiri.” Tetapi menjadi diri sendiri bukan berarti memanjakan ego; ia justru berarti berani bertanggung jawab atas kualitas batin kita. Latihan terbesar bukanlah menjadi orang penting, melainkan menjadi bukan siapa-siapa. Latihan untuk merasa bahwa dunia tetap baik-baik saja tanpa kita. Latihan untuk bekerja tanpa menuntut sorotan.

Kita perlu melatih ikhlas sebagaimana atlet melatih ototnya. Melatih syukur sebagaimana musisi melatih pendengarannya. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditemukan di luar, melainkan diciptakan melalui disiplin batin. Pujian dan sanjungan hanyalah kebahagiaan semu, rapuh dan cepat pudar. Kebahagiaan yang lebih dalam muncul ketika kita mampu berbuat kebaikan yang melampaui kepentingan pribadi, ketika dampak tindakan kita menyentuh kehidupan orang lain tanpa perlu diumumkan.

Peradaban yang harmonis tidak lahir dari orang-orang yang sibuk mencari penghargaan, tetapi dari manusia-manusia yang rela bekerja dalam sunyi. Jika kita terus memupuk budaya ingin dihargai tanpa belajar menghargai, ingin dipuji tanpa berlatih memberi, maka retak halus peradaban akan semakin melebar.

Pertanyaannya, beranikah kita berlatih menjadi tidak penting di mata manusia, agar menjadi berarti di hadapan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri? Mampukah kita menahan diri untuk tidak pergi hanya karena tak dihargai, lalu tetap menolong karena pertolongan kita dibutuhkan? Dan jika kebahagiaan memang harus diciptakan, bukan dicari, sudah sejauh mana kita melatih jiwa kita untuk menciptakan kebahagiaan itu hari ini. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 108x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com