Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
Inong literasi
“Pak, Kenapa dagingnya banyak sekali Bapak beli?”
“Ah tidak, itu kan seperti ukuran biasa Bu”
“Tapi Pak, untuk kita berdua ini berlebihan”
“Tidak mengapa Bu, mana tahu anak-anak akan pulang, menyambut puasa bersama kita”
“Seperti yang sudah-sudah kan Pak, bukankah mereka tidak pernah pulang?”
“Tidak salah kan Bu jika kita terus berharap”
Waktu seakan berlari, membuat segala hal begitu cepat berubah menjadi kenangan.
Baru kemarin rasanya rumah berdinding kayu dan beralaskan semen kasar ini dipenuhi celoteh anak-anak, saling berkejaran ke sana ke mari, berebut makanan dan mainan. Riuh rendah suara kecil mereka memenuhi setiap sudut rumah.
Sampai satu persatu anak-anak pergi menapaki jalan hidup berbeda meninggalkan mereka berdua dalam sunyi bersama kenangan yang terpahat kuat di setiap dinding.
“Bu, masak seperti biasa ya” ujar Pak Rasyid membuyarkan lamunan Bu Hamidah yang diam-diam disapa mendung.”Kuah kari dan daging sambal, dua menu andalan bungsukita” lanjutnya.
“Baik Pak” Balas Bu Hamidah singkat tanpa membantah walau ia tahu setiap masakan itu seringkali akan berakhir di meja makan tetangga bersebab yang ditunggu tak kunjung tiba.
Pak Rasyid bukanlah pemilih soal makanan, apapun yang disajikan istrinya selalu dinikmatinya dengan lahap. Bahkan jika ia minta dibuatkan menu tertentu ia akan totalitas membantu. Itu yang menjadi alasan Bu Hamidah tidak pernah menolak jika Pak Rasyid memintanya membuat dua menu andalan itu setiap meugang tiba.
Pernah suatu ketika Bu Hamidah bertanya mengapa hanya kedatangan si bungsu yang sangat ditunggu-tunggu?
“Bukan aku tidak merindukan anak-anakku yang lain, sejatinya kelima anak-anak punya tempat istimewa di hatiku. Tapi mereka semua sudah punya tanggung jawab yang lebih besar. Mereka sudah punya keluarga yang tentunya akan menyita lebih banyak waktu mereka.
Tentu tak adil rasanya kalau kita juga akan meminta jatah waktu yang mereka punya, hanya bungsu kita yang belum memiliki tanggung jawab, jadi tidak salah kan Bu jika kita berharap lebih akan kedatangannya?” Jelas pak Rasyid panjang lebar dengan tatapan yang mulai berkabut. Sebab nyatanya meski belum dibebani tanggung jawab keluarga si bungsu juga jarang pulang.
📚 Artikel Terkait
Lelaki bersahaja itu lebih memilih mengorbankan perasaannya menanggung rindu dari pada mengusik kedamaian anak-anaknya, meminta mereka untuk pulang.
Burung beterbangan pulang ke sarang setelah seharian mencari karunia yang telah dijanjikan. Sinar mentari mulai menepi ke ufuk barat, hari akan segera berganti, tapi yang ditunggu tak menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Hingga dering gawai berbunyi membawa secercah harapan.
“Assalamualaikum Abu Syik” suara Khalisa salah satu cucu kecilnya terdengar di ujung sana
“Abu Syik sudah makan?”
” Sudah”
“Apa lauknya? Adek pakai daging, Abu Syik ada beli daging?” Celoteh bocah berumur lima itu tanpa jeda
“Abu Syik lauknya juga daging”
“Pasti enak, coba kalau kita bisa makan sama-sama kan”
“Makanya pulang lah ke sini”
“Kata Bunda, gak bisa pulang sekarang, nanti waktu lebaranya Abu Syik” suaranya kecilnya menyimpan harapan
“Udah dulu ya Abu Syik, Assalamualaikum”
Belum sempat menyimpan gawainya kejutan lain datang, suara deru mobil terdengar semakin mendekat. Salman, sibungsu yang ditunggu akhirnya benar-benar datang.
“Tidak salah kan Bu, kita terus berharap” bisik pak Rasyid pada istrinya sembari mengulas senyum yang sulit diterjemahkan.
Mentari bersinar cerah, menembus masuk dari celah jendela yang terbuka, menghapus sisa-sisa hujan semalam. Suasana pagi ini menggambarkan isi hati pak Rasyid, ia sedang berbahagia bercengkrama dengan bungsunya. Bayi kecil yang dulu ditimang dimanja kini sudah sering melanglang buana, mencari kehidupan pada semesta yang terbentang.
Sebab alasan itulah ia jarang pulang menyambut puasa bersamanya di kampung halaman.
“Ibu, Bapak”. Salman membuka percakapan di pagi cerah itu
“Salman ingin meminta restu. Jika Allah mengizinkan Salman berencana melamar Khadija putri Pak Samsul setelah lebaran tahun ini, sebagai tahapan Salman menggenapkan separuh agama” begitu jelasnya
Untuk beberapa saat Pak Rasyid terdiam. Bukan tidak menyetujui niat baik bungsunya. Apalagi rencana itu sudah pernah disampaikan Salman sebelumnya, dan calon menantu yang pilih Salman juga sudah dikenalinya. Apa yang baru saja disampaikan Salman membuat Pak Rasyid harus kuat menerima kenyataan bahwa nyanyian rindu akan semakin nyaring terdengar di hatinya. Sebab bungsunya juga akan mempunyai tanggung jawab sama seperti anak-anaknya yang lain.
Diamnya Pak Rasyid seakan mengurat sebait nyanyian rindu yang memanggil jiwa-jiwa di perantauan ‘Berusahalah untuk pulang semampu yang kalian bisa Nak. Sesibuk apapun kalian jadikan menjenguk kami sebagai hal yang utama, bukan sebagai sisa agenda. Hanya sebentar lagi, Nak.Sebelum kami dipanggil yang Kuasa. Saat kami sudah tiada agenda ini akan terhenti. Sungguh kami ingin menatap kalian di sisa usia yang kami punya, sebab kehadiran takkan pernah bisa disamakan dengan ribuan detik yang kita habiskan dengan obrolan di gawai, pulang lah Nak, walau hanya sebentar’. Nyanyian rindu yang didendangkan dalam diam.
“Pak, Salman menanti jawabanmu” sapaan bu Hamidah membuyarkan keharuannya
“Iya Nak, tentu Bapak akan merestui”. Jawab Pak Rasyid dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mesti untuk itu Bapak akan rela menanggung rindu” Kalimat itu hanya ia ucapkan dalam hati, dalam pengharapan yang tak bertepi. Sungguh jiwa-jiwa di perantauan takkan mampu menerjemahkan arti rindu sampai mereka benar-benar menjadi Pak Rasyid dan Bu Hamidah di masa depan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






