Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Bulan Ramadhan dalam masyarakat kita dikenal sebagai bulan puasa yang bagi umat Islam menjadi bulan menahan lapar, dahaga dan menahan nafsu birahi. Padahal bulan puasa tidak sekadar menahan nafsu dan makan, minum dan hubungan badan( birahi) pada siang hari, tetapi jauh dan sangat sarat makna.Â
Ya, bulan Ramadan, tidak dimaksudkan untuk menahan diri dari berbagai aktivitas yang membawa keuntungan pribadi, keluarga dan sosial, bahkan bangsa, negara dan agama. Bulan Ramadan bukan  pula sebagai bulan berpuasa untuk berkarya, bekerja atau melakukan hal-hal yang lebih produktif.
Bukan pula menjadikan alasan karena  berpuasa kita harus menjaga puasa dengan tidur-tiduran, atau hanya melaksanakan salat tarawih di malam hari. Ya,  ketika kita berpuasa di bulan Ramadan, lalu karena lapar dan haus, kita berhenti berkerja, beraktivitas dan berkarya, tetapi sebaliknya. Ya, lebih kita haus lebih produktif lagi.Â
Sebagaimana kita ketahui dan amati bahwa bagi para ahli ibadah, kita bisa lihat bagaimana giatnya mereka melakukan kegiatan belajar di bulan puasa. Mereka mengisi dengan berbagai macam kegiatan produktif untuk meningkatkan nilai amal dan ibadah kepada Allah. Karena ketika kita melaksanakan puasa, sesungguhnya berpuasa itu ada resolusinya yang ingin dicapai, yakni menjadi orang yang taqwa.
Untuk menjadi orang yang taqwa, tidak cukup hanya mengerjakan puasa dengan menahan lapar, dahaga dan nafsu birahi di siang hari, tetapi menjadikan momentum Ramadan untuk belajar dan beribadah secara optimal. Melakukan kegiatan-kegiatan positif, kreatif, inovatif dan edukasi yang produktif.
Tentu saja, selain melakukan kegiatan ritual ibadah, dalam bulan Ramadan sebagai bulan pembelajaran atau madrasah, kita perbanyak kegiatan membaca untuk menyerap pengetahuan, meningkatkan kesadaran diri, lewat pembelajaran mandiri dan kelompok masyarakat. Akan lebih bermanfaat bila kita bersikap dan bertindak penuh produktivitas yang menghasilkan banyak karya.
Nah, dengan melakukan semua hal itu, akan semakin membawa manfaat, bila kita melakukan hal yang bersifat reproductive. Satu kegiatan yang produktif adalah dengan kegiatan menulis, selama bulan Ramadan. Perlu kita ketahui bahwa melakukan aktivitas menulis di bulan puasa Ramadan merupakan kegiatan yang sangat positif dan memiliki nilai-nilai kebaikan yang berkontribusi terhadap peningkatan amal ibadah, apalagi yang ditulis adalah hal-hal yang sangat bermanfaat bagi banyak orang. Pasti nilainya akan sangat besar.
Bahkan, menulis di bulan Ramadan itu sendiri punya tantangan tersendiri: energi terbatas, jadwal ibadah padat, dan ritme harian berubah. Tapi justru Ramadan bisa menjadi momentum kreatif yang kaya makna. Berikut panduan yang bisa membantu:
Namun, ketika kita mengajak seseorang untuk menulis, seringkali ia bertanya balik kepada kita. Pertanyaan “ Tulis apa? Atau tetang apa atau mengenai apa? Sebuah pertanyaan yang merepresentasikan diri sedang tidak punya ide untuk menulis.
Padahal di bulan puasa Ramadan ini sangat banyak hal yang bisa ditulis. Misalnya, kita bisa menulis sebuah tulisan reflektif. Refleksi spiritual: pengalaman pribadi tentang puasa, tarawih, atau tadabbur Al-Qur’an dan lain-lain. Pokoknya sangat banyak tulisan reflektif yang bisa ditulis, asal punya kemauan.
Dalam bulan puasa Ramadan juga banyak cerita inspiratif yang bisa kita tulis. Kita bisa menulis kisah orang-orang yang tetap produktif, berbagi, atau berjuang di bulan Ramadan. Kita bisa menulis tentang pedagang makanan di bulan puasa yang sangat inspiratif.
📚 Artikel Terkait
Tidak hanya itu, ada banyak tips di bulan puasa yang bisa kita bagikan kepada publik. Tinggal kita mengolah atau melukis kata untuk mengungkapkan tentang apa dan bagaimana orang melakukan sesuatu dalam tulisan tips yang kita buat.
Ya, kita bisa menulis Tips praktis dalam manajemen waktu, menjaga kesehatan, atau strategi belajar/kerja saat berpuasa. Juga tips- tips lain terkait menyiapkan menu berbuka yang sesuai dengan kondisi kita berpuasa dan sebagainya.
Masih banyak lagi yang bisa kita tulis. Oleh sebab itu silakan amati apa saja yang terjadi, baik tradisi maupun kebiasan orang. Semua itu bisa kita kemas dalam tulisan yang bernilai budaya dan tradisi. Silakan menulis tentang kuliner khas yang dijajakan selama bulan puasa. Bisa juga menulis tentang kebiasaan masyarakat, atau sejarah Ramadan di berbagai daerah.
Bagi orang yang punya kepedulian atau ketertarikan pada persoalan literasi, bisa menulis tentang literasi anak dan keluarga. Bisa menulis bagaimana menumbuhkan minat membaca anak lewat cerita bergambar, atau menulis modul edukasi tentang nilai sabar, empati, dan berbagi. Juga bisa menulis cerita anak yang bisa dikirim ke majalah anak, seperti ke majalahanakcerdas.com, dan lain-lain.
Ya, sangat banyak yang kita bisa tulis secara produktif, termasuk menulis soal sosial. Kita bisa refleksi tentang solidaritas, keadilan, dan kepedulian sosial di bulan penuh berkah ini. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan yang mengatakan bahwa tidak punya ide atau gagasan untuk menulis.
Agar kita bisa produktif atau lebih lagi, hal itu bisa kita buat langkah yang produktif pula. Ada beberapa langkah strategis agar kita produktif. Langkah- langkah tersebut misalnya dengan mengenal jam emas menulis. Maksudnya, bagi sebagian orang kalau mau menulis, harus menentukan kapan waktu yang pas atau tepat. Walaupun sebenarnya menulis itu bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja.
Namun, banyak penulis merasa paling segar setelah sahur atau menjelang berbuka. Pilih waktu ketika energi dan fokus terbaik A B.
Langkah kedua, ada baiknya kita menetapkan target realistis. Misalnya: 500 kata per hari atau satu artikel per pekan. Harus kita camkan bahwa Ramadan bukan soal maraton, tapi konsistensi A.
Langkah ke tiga, kita boleh menggunakan teknik manajemen waktu• Pomodoro (25 menit fokus, 5 menit istirahat) C
Semakin mudah pula bila kita buat list – list sebelum tidur agar esok lebih terarah C
Jadi dalam menulis kita bisa gabungkan ibadah dengan menulis. Dikatakan demikian karena membaca Al-Qur’an atau doa bisa jadi inspirasi tulisan reflektif. Menulis menjadi bagian dari perjalanan spiritual B.
Oleh sebab itu, jangan tunggu waktu luang, tapi luangkan waktu Disiplin kecil setiap hari lebih efektif daripada menunggu mood B. Jadi, siapkan bahan sebelum Ramadan,
Kumpulkan ide, referensi, atau outline agar saat puasa tinggal eksekusi.
Agar tidak ada gangguan saat menulis karena sakit kepala atau lainnya, perlu bagi setiap orang menjaga kesehatan dan energi, ditambah lagi dengan tidur yang cukup, sahur bergizi, dan hindari begadang berlebihan. Tubuh yang segar mendukung pikiran yang jernih. Selamat berkarya di bulan puasa Ramadan. Semoga selalu produktif dan menginspirasi
—
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





