Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Wijaya Kusumah
Di tengah derasnya arus informasi digital, literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi kini mencakup kemampuan memahami informasi, mengkritisinya, mengolahnya, lalu menyebarkannya kembali secara bertanggung jawab. Pada titik inilah peran guru dan blogger menjadi sangat strategis dalam membangun ekosistem literasi pendidikan di Indonesia.
Guru adalah fondasi peradaban. Sejak dulu, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penanam nilai, pembentuk karakter, dan penggerak perubahan. Namun di era digital, tantangan guru semakin kompleks. Peserta didik hidup dalam dunia yang serba cepat, serba visual, dan serba instan. Informasi datang dari berbagai arah—media sosial, video pendek, podcast, hingga kecerdasan buatan. Tanpa literasi yang kuat, peserta didik mudah terombang-ambing oleh informasi yang belum tentu benar.
Di sinilah guru dituntut bertransformasi. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi di ruang kelas. Guru perlu menjadi model literasi. Guru yang membaca, guru yang menulis, dan guru yang berbagi gagasan akan melahirkan murid yang gemar belajar sepanjang hayat.
Salah satu contoh nyata transformasi guru di era digital adalah sosok Dr. Wijaya Kusumah, yang dikenal luas sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Ia menunjukkan bahwa guru tidak harus berhenti pada papan tulis dan buku paket. Melalui blog dan berbagai platform digital, Omjay menulis hampir setiap hari. Pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, hingga kritik kebijakan ia tuangkan dalam tulisan yang menginspirasi banyak guru di seluruh Indonesia.
Menulis bagi seorang guru bukan sekadar aktivitas tambahan. Menulis adalah proses berpikir. Ketika guru menulis, ia sedang merefleksikan pengalaman, mengevaluasi metode pembelajaran, dan memperbaiki diri. Tulisan yang dipublikasikan menjadi jembatan berbagi praktik baik (best practice) antarpendidik. Dari sinilah gerakan literasi tumbuh secara organik.
Blogger pendidikan memainkan peran penting sebagai penghubung antara ruang kelas dan ruang publik. Jika dulu gagasan guru hanya terdengar di lingkungan sekolah, kini melalui blog dan media daring, gagasan itu dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan pembaca. Artikel tentang metode pembelajaran, strategi menghadapi siswa, hingga kisah inspiratif di kelas dapat memantik diskusi nasional tentang pendidikan.
📚 Artikel Terkait
Literasi pendidikan juga berkaitan erat dengan budaya membaca. Sayangnya, minat baca di Indonesia masih sering menjadi sorotan. Guru dan blogger dapat menjadi motor penggerak perubahan budaya ini. Guru dapat mengintegrasikan kegiatan membaca dalam pembelajaran sehari-hari. Blogger dapat menulis resensi buku, rekomendasi bacaan, atau refleksi dari buku yang dibaca. Ketika guru menunjukkan kecintaannya pada buku, murid akan meneladaninya.
Lebih jauh lagi, peran guru dan blogger juga penting dalam membangun literasi digital. Di era banjir informasi, kemampuan memilah informasi yang valid menjadi kunci. Guru dapat mengajarkan siswa cara memverifikasi sumber, memahami bias, dan berpikir kritis. Blogger pendidikan dapat memberikan contoh tulisan yang berbasis data, referensi jelas, serta argumentasi yang sehat. Dengan demikian, literasi tidak hanya berhenti pada kemampuan teknis, tetapi berkembang menjadi literasi kritis.
Peran ini semakin relevan ketika kita melihat bagaimana kebijakan pendidikan seringkali diperdebatkan di ruang publik. Guru yang aktif menulis dapat memberikan perspektif dari lapangan. Suara guru menjadi penting agar kebijakan tidak hanya lahir dari meja birokrasi, tetapi juga mempertimbangkan realitas di kelas. Tulisan guru dapat menjadi bahan refleksi bagi pembuat kebijakan.
Bagi Omjay dan banyak guru lainnya, blog bukan sekadar media curhat. Blog adalah ruang perjuangan. Di sana, guru menyuarakan harapan, keresahan, sekaligus solusi. Menulis menjadi bentuk kontribusi nyata dalam membangun literasi pendidikan nasional. Ketika satu guru menulis, mungkin hanya satu kelas yang terpengaruh. Namun ketika tulisan itu dibaca ribuan orang, dampaknya menjadi berlipat ganda.
Majalah Potret sebagai media pendidikan memiliki peran strategis dalam memperkuat gerakan ini. Dengan memuat tulisan guru dan blogger pendidikan, majalah dapat menjadi panggung bagi suara-suara inspiratif dari berbagai daerah. Kolaborasi antara media, guru, dan blogger akan mempercepat terbangunnya budaya literasi yang kuat.
Ke depan, tantangan literasi akan semakin besar. Kecerdasan buatan, realitas virtual, dan teknologi lainnya akan mengubah cara belajar. Namun satu hal yang tidak berubah: pentingnya guru sebagai pembimbing dan penuntun. Teknologi boleh berkembang, tetapi sentuhan manusia tetap dibutuhkan. Guru yang literat akan mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Peran guru dan blogger dalam membangun literasi pendidikan bukanlah tugas ringan. Ia membutuhkan konsistensi, ketekunan, dan keberanian. Keberanian untuk berpikir kritis, menulis jujur, dan berbagi tanpa pamrih. Namun dari tangan-tangan guru yang menulis inilah, masa depan pendidikan Indonesia perlahan dibangun.
Sebagaimana pesan yang sering digaungkan Omjay: menulislah setiap hari dan lihat apa yang terjadi. Dari kebiasaan sederhana itu lahir perubahan besar. Literasi bukan gerakan sesaat, melainkan perjalanan panjang. Dan dalam perjalanan itu, guru dan blogger adalah lentera yang menerangi jalan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





