Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Pagi ini, Senin 16 Februari 2025, saya bergegas menyiapkan diri dan bahan untuk menuju ke kantor Pajak Pratama yang letaknya dekat dengan Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSU ZA) Lampriet, Banda Aceh.
Kedatangan saya ke kantor Pajak, karena pada hari Kamis, tanggal 12 Maret 2026 ditelpon lewat sebuah nomor WA 0822 760 5155 yang dengan identitas Pelayanan dan Informasi. Seorang perempuan memperkenalkan diri sebagai petugas di bagian pelayanan dan informasi kantor pelayanan Pajak Pratama di Banda Aceh yang meminta saya datang ke kantor pajak pada hari Senin, 16 Februari 2026 pada pukul 10.00 pagi.
Lalu, ia meminta saya untuk mengambil nomor antri lewat aplikasi. Namun, ia tidak mengarahkan saya untuk langsung melakukan pendaftaran di Pajak Cortex, tetapi meminta saya menunggu ada yang akan menghubungi kemudian. Tak lama berselang, panggilan telepon berdering datang dari nomor 081938790148 dengan nama Pangestu, SH. Ia meminta saya membuka aplikasi pendaftaran pajak cortex. Namun, tidak bisa masuk karena tidak menggunakan Android. Lalu saya diminta datang saja ke kantor Pajak pada hari Senin.
Ya, Senin pagi ini, pukul 09.50 WIB saya sudah masuk ke tempat parkir kendaraan di kantor pajak, lalu turun menuju pintu masuk. Namun, di depan pos security, sang petugas bertanya, mau ke mana Pak? Hari ini kantor tutup. Mau jumpa siapa?
Saya pun menceritakan hal yang sama, seperti di atas. Sang petugas berkata itu penipuan Pak. Saya pun kaget, karena saya ternyata bisa kena tipu juga. Padahal selama ini sudah sangat hati-hati.
Nah, kasus di atas adalah sebuah realitas di zaman edan ini. Ya, Ini memang zaman edan. Segalanya bisa terjadi. Bukan hanya yang mungkin, bisa terjadi. Yang tak mungkin dan tidak mampu kita pikirkan dengan akal sehat kita, bisa jadi nyata. Jadi jangan heran bila di zaman ini banyak orang yang menjadi korban dari tindakan curang seseorang atau sekelompok orang.
Jadi ungkapan “Zaman edan”, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan dunia kita hari ini. Segalanya bisa terjadi, bahkan yang tak masuk akal sekalipun. Teknologi digital yang seharusnya menjadi alat memudahkan hidup, justru membuka pintu bagi praktik curang yang semakin merajalela. Penipuan kini bukan lagi sekadar cerita di pinggir jalan, melainkan fenomena yang menyentuh hampir setiap lapisan masyarakat.
Bayangkan, wajah biasa bisa diubah menjadi luar biasa dengan aplikasi edit foto. Berita palsu lebih dipercaya daripada fakta. Dan yang lebih berbahaya, penipuan berkedok layanan resmi semakin lihai menjerat korban. Oleh sebab itu, agar kita tidak tertipu oleh berbagai aksi penipuan tersebut, alangkah tepat dan baik bila kita mau mengenal bentuk- bentuk penipuan yah menggurita tersebut.
Sejalan dengan semakin banyaknya aplikasi digital dalam kehidupan kita selama ini. Kita pasti sudah kenal dengan model penipuan perbankan yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari mangsa.
📚 Artikel Terkait
Ya, penipuan atas nama perbankan, sering dilakukan dengan menggunakan fasilitas SMS atau telepon. Mereka mengatasnamakan bank, meminta kode OTP, lalu rekening korban dikuras.
Kedua, bagi para pensiunan seperti halnya saya, juga sering ditelpon oleh penipu yang mengatasnamakan PT Taspen. Dalam modus ini para ensiunan ASN ditipu dengan aplikasi palsu yang mengaku dari Taspen, hingga kehilangan tabungan puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Seperti yang saya alami pagi Senin ini, sang penipu menggunakan petugas pajak. Oknum mengaku petugas pajak, menelpon dan meminta untuk melakukan pemutakhiran data, atau bisa pula menawarkan “penghapusan denda” dengan syarat transfer uang. Aksi penipuan ini bisa jadi sudah ada yang memakan korban. Jadi sangat kasihan bukan?
Modus lain yang juga tidak kalah menariknya adalah modus penipuan “Investasi Bodong”. Modus memberikan janji keuntungan besar dalam waktu singkat, padahal ujungnya lenyap tanpa jejak.
Lalu, sejalan dengan perkembangan teknologi keuangan, modus E-commerce Palsu juga sering membawa korban. Dalam modus ini bisa dalam bentuk, barang tidak dikirim, atau barang palsu dikirim dengan harga selangit.
Itulah beberapa bentuk modus atau aksi penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang terus mencari mangsa yang harus kita kenal dan pelajari agar kita tidak menjadi korban.
Nah, barangkali banyak yang terheran dan bertanya mengapa mereka tega melakukan aksi penipuan ? Tentu ada banyak pula faktor atau penyebab yang melatarbelakangi maraknya praktik penipuan tersebut. Yang jelas, faktor penyebabnya tidak tinggal. Ya, fenomena ini tumbuh dari kombinasi faktor. Misalnya, kemajuan teknologi yang membuka celah manipulasi. Kedua, rendahnya literasi digital, membuat masyarakat mudah percaya pada pesan instan. Ke tiga, pasti alasan tekanan ekonomi, yang membuat orang tergiur janji cepat kaya. Ke empat, pengaruh budaya instan, di mana verifikasi dianggap merepotkan. Sehingga semakin banyak korban penipuan yang terjadi yang membuat korba rugi besar.
Bila kita mau mencari data data dari kepolisian kita akan mendapatkan fakta memilukan. Sebab dengan gencarnya aksi penipuan sekarang, data akan menunjukkan bahwa kasus penipuan digital meningkat setiap tahun. Pensiunan ASN, pelaku UMKM, hingga pengguna e-commerce menjadi target utama. PT Taspen sendiri mungkin mengakui banyak laporan peserta yang ditipu lewat telepon dan aplikasi palsu.
Untuk saat ini, harus kita fahami bahwa yang dijadikan sasaran penipuan itu, bukan hanya orang-orang awam, yah yang kemampuan literasi rendah, orang-orang pintar dan cerdas pun bisa terseret dalam modus penipuan mereka. Oleh sebab itu, setiap orang kini harus menyikapi fenomena dan realitas ini dengan cara cerdas.
Ya, harus kita camkan bahwa menghadapi dunia penuh tipu, orang cerdas tidak sekadar melindungi diri, tetapi juga menjadi benteng bagi lingkungannya. Pertanyaannya seperti apa cara menghadapi dengan cerdas itu. Orang cerdas memang selalu akan cerdas menghadapi hal itu.
Yang jelas, orang kritis dan cerdas selalu kritis dan skeptis positif. Artinya mereka akan selalu mengingatkan agar jangan mudah percaya, selalu verifikasi ke sumber resmi. Kedua, selalu meningkatkan literasi digital. Ia akan terus berusaha untuk pahami modus penipuan terbaru, ikuti edukasi dari lembaga resmi. Ke tiga, hal yang harus dijaga adalah data pribadi berupa OTP, PIN, dan password adalah rahasia mutlak. Ke empat, bila terjadi pada diri kita jangan takut melaporkan ke pihak berwajib. Artinya, jangan diam, laporkan ke polisi atau lembaga terkait, lalu sebarkan edukasi ke keluarga dan komunitas. Yang ke lima, sebagai bagian dari masyarakat yah tidak ingin menjadi korban penipuan, kita harus bangun solidaritas sosial. Penipuan bisa dicegah jika masyarakat saling mengingatkan.
Mungkin masih banyak lagi cara yang dapat kita lakukan agar terhindar dari berbagai bentuk penipuan yag semakin canggih dewasa ini. Silakan terus belajar dengan cerdas. Dalam dunia yang terus berubah secara pesat ini, kita semua harus selalu ingat, sadar dan waspada bahwa dunia penipuan adalah dunia yang tumbuh subur di era digital. Namun, dunia penuh tipu ini tidak harus membuat kita putus asa. Justru di sinilah kecerdasan, empati, dan solidaritas diuji. Orang cerdas bukan hanya menjaga dirinya, tetapi juga menjadi cahaya bagi orang lain agar tidak tersesat dalam gelapnya tipu daya. Tetaplah cerdas, waspada dan berdaya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






