Dengarkan Artikel
Bagian Pertama
Oleh Tabrani Yunis
Pagi Jumat, 13 Februari 2026 di Ruang auditorium Tsunami  and  Disaster Mitigation Research Center TDMRC) Universitas Syiah Kuala ( USK) Darussalam, Banda Aceh, di lantai 3, penulis sangat bahagia dan bersyukur bertemu penulis kawakan dari Indonesia. Ia penulis buku yang baru saja beredar, Reset Indonesia dengan tebal 440 halaman dan sedang viral di medsos.
Nah, lelaki yang usianya sudah di atas 50 an tahun itu, mengenakan jaket katun warna kekuningan, duduk di kursi depan. Ia adalah satu dari dua nara sumber untuk workshop Story Telling yang dilakukan selama dua hari. Tentu ini adalah kesempatan baik bagi penulis bertemu dengan penulis yang bukunya sedang ramai dibicarakan orang. Makanya, Penulis pas bertemu, bersalaman sambil memperkenalkan nama, agar bisa saling kenal.
Di dalam ruangan telah hadir sekitar 30 peserta yang akan ikut acara. Mereka duduk di kursi-kursi yang ditata seperti di dalam bioskop atau cinema. Mereka menunggu dengan acara tenang dan berharap acara segera dimulai.
Dengan sigap penulis memanfaatkan waktu dan kesempatan berbincang sejenak dengan Pak Farid Gaban yang duduk di samping penulis. Sudah menjadi kebiasaan setiap saat bertemu orang baru, seperti Pak Farid Gaban, hal yang yang menjadi icon dan produk yang menarik untuk diperkenalkan adalah dua media yang penulis kelola, yakni majalah POTRET yang telah bermetamorfosis menjadi Potretonline.com.
POTRET sebuah media yang menggunakan tagline, Media Perempuan Aceh yang kini sudah berusia 23 tahun dan aktif bergerak membangun gerakan literasi di tanah air. Penulis memperlihatkan dan menjelaskan tentang POTRET, dengan menunjukan tampilan Potretonline.com, di layar HP dan beliau mengapresiasi.
Lau, kesempatan kedua adalah menunjukkan majalah Anak Cerdas, majalah anak-anak yang dapat diakses di www.majalahanakcerdas.com, atau bisa lewat laman Potretonline.
Majalah Anak Cerdas yang diterbitkan pertama kali pada bulan Mai 2013 itu, dimaksudkan untuk membangun gerakan gemar berkarya sejak usia dini. Maka di majalah Anak Cerdas banyak tulisan karya anak-anak SD, mulai dari Aceh hingga mancanegara.
Nah, karena waktu di hari Jumat begitu singkat, moderator, Mas Bismo dari Commslab, dengan postur tubuh tinggi sekitar 170 cm dan menggunakan kaca mata, membuka acara dan meminta Pak Farid Gaban dan Chaideer Mahyuddin, sang journalist fotografer ternama dari Aceh yang mewakili AFP biro Jakarta, naik ke panggung.Kehadiran mereka memberi semangat peserta secara aktif mengikuti workshop.
Farid Gaban memulai presentasi dengan menampilkan video lagu penyanyi anyar dari tanah air yang terkenal dengan liryk lagunya sarat kritik, Iwan Fals. Liriknya seperti berikut. Mungkin para pembaca pernah mendengar atau bahkan ikut melantunkan lagu itu. Silakan simak.
Ujung Aspal Pondok Indah
By Iwan Fals
Di kamar ini, aku dilahirkan
Di balai bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini, aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari Ibu
📚 Artikel Terkait
Nama dusunku Ujung Aspal Pondok Gede
Rimbun dan anggun, ramah senyum penghuni dusun
Kambing sembilan, motor tiga bapak punya
Ladang yang luas habis sudah s’bagai gantinya
Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi
Di depan masjid, samping rumah wakil Pak Lurah
Tempat dulu kami bermain, mengisi cerahnya hari
Namun, sebentar lagi angkuh tembok pabrik berdiri
Satu per satu sahabat pergi dan takkan pernah kembali
Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Dari serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi
Nah, kalau anda para pembaca berasal dari kalangan media, aktivis, lagu ini pasti sangat menginspirasi. Oleh sebab itu, Farid Gaban, yang kita kenal sebagai aktivis dan juga penulis senior menjadikan lagu ini sebagai media untuk menginspirasi para peserta.
Ternyata, memang demikian. Para peserta menatap setiap bait lagu, sambil mengeluarkan suara kecil menyanyikan bait-bait lagu yang membawa ingatan kita tentang pembangunan yang selalu menjanjikan kemajuan dan juga menghilangkan teman-teman bermain di masa kecil dan tak pernah kembali lagi. Pembangunan yang menjadi lambang modern dan menghilangkan hak-hak orang kecil dan sebagainya.
Lagu itu adalah media bagi Farid Gaban untuk menyampaikan materi story telling yang menyetuh. Nah, menurut anda apa yang akan digambarkan oleh Farid Gaban dengan sajian lagu yang berjudul Ujung Aspal Pondok indah itu? Apa kaitannya dengan story telling?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





