HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Konstitusi dan Air Mata Anak Negeri

Belajar dari Kasus Anak SD di NTT

Siti Hajar by Siti Hajar
Februari 11, 2026
in Opini
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Siti Hajar

Seberapa mahal harga sebuah buku tulis? Seberapa berat harga sebuah pena? Di kota-kota besar, mungkin kita membelinya tanpa berpikir dua kali. Kita memasukkannya ke dalam tas belanja bersama camilan, sabun, atau kopi sachet. Namun di sudut negeri ini, harga itu berubah menjadi beban yang tak tertanggungkan bagi seorang anak kecil yang seharusnya sedang sibuk menghafal perkalian dan bercita-cita setinggi langit.

Kabar tentang seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang meninggal setelah kesulitan membeli alat tulis mengguncang batin banyak orang. Ini bukan sekadar berita. Ini pukulan mental bagi penyelenggara negeri, juga bagi kita sebagai warga negara. Ada yang retak dalam sistem ketika kebutuhan belajar yang begitu sederhana berubah menjadi tekanan yang menghancurkan harapan.

Baca Juga

Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

Konstitusi kita telah berbicara dengan jelas. UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) menyatakan pemerintah wajib membiayai pendidikan dasar. Pasal 34 ayat (1) menegaskan fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kalimat-kalimat itu tertulis tegas, kokoh, dan penuh makna. Ia menjadi janji luhur yang mengikat seluruh pemegang kekuasaan.

Lalu mengapa masih ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan ekonomi untuk sekadar membeli buku dan pena?

Negara hadir melalui kebijakan, anggaran, dan program bantuan. Kita mengenal BOS, KIP, berbagai skema subsidi pendidikan. Namun tragedi ini menunjukkan bahwa ada celah yang luput dari jangkauan. Ada keluarga yang terlewat dari pendataan. Ada anak yang memendam tekanan tanpa ada yang membaca kegelisahannya.

Anak usia sekolah dasar belum memiliki ketahanan emosi yang matang. Mereka mudah merasa bersalah, malu, atau takut ketika tak mampu memenuhi tuntutan sederhana. Di titik inilah sistem pendidikan seharusnya lebih peka. Guru, sekolah, pemerintah daerah, hingga pusat perlu memastikan bahwa tak ada anak yang merasa harga dirinya runtuh hanya karena persoalan ekonomi.

Pendidikan adalah hak asasi. Ia bukan hadiah bagi yang mampu. Ia bukan fasilitas eksklusif bagi yang berkecukupan. Ia adalah fondasi peradaban. Jika akses terhadap pendidikan dasar saja masih tersandung persoalan alat tulis, maka kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah amanat konstitusi dijalankan sepenuh hati?

Ulasan ini bukan untuk mencari siapa yang salah semata. Ia adalah panggilan untuk evaluasi menyeluruh. Data kemiskinan perlu diperbarui secara akurat. Distribusi bantuan harus tepat sasaran. Sekolah perlu memiliki mekanisme deteksi dini terhadap siswa yang menghadapi tekanan berat.

Pemerintah daerah perlu bergerak lebih cepat saat menemukan keluarga yang kesulitan. Seorang anak kehilangan masa depannya. Sebuah keluarga kehilangan buah hatinya. Bangsa ini kehilangan satu potensi yang mungkin kelak menjadi guru, dokter, petani, peneliti, atau pemimpin. Kita tak pernah tahu sebesar apa cahaya yang padam itu.

Negara yang kuat diukur dari caranya melindungi yang paling lemah. Jika seorang anak harus bergulat dengan beban ekonomi demi buku tulis, maka itu adalah tanda bahwa pekerjaan besar masih menanti.

Tragedi ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen, memperbaiki sistem, dan memastikan setiap anak Indonesia benar-benar menikmati hak pendidikannya dengan martabat. Karena masa depan negeri ini bertumpu pada tangan-tangan kecil yang hari ini sedang belajar mengeja mimpi.

Kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran. Kesedihan publik perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata, terukur, dan menyentuh akar persoalan. Pemerintah, dinas pendidikan, dan seluruh penyelenggara pendidikan memegang peran strategis untuk memastikan kejadian serupa tak terulang.

Berikut langkah konkrit yang seharusnya segera diambil pemerintah:

Langkah pertama yang harus diambil adalah validasi ulang data kemiskinan berbasis sekolah. Setiap sekolah wajib memiliki pemetaan sosial ekonomi siswanya yang diperbarui secara berkala, bekerja sama dengan dinas sosial dan pemerintah desa. Data terpadu kesejahteraan sosial harus dikawinkan dengan data sekolah, sehingga tak ada anak yang luput dari perlindungan hanya karena administrasi yang tak sinkron.

Langkah kedua adalah jaminan perlengkapan sekolah dasar gratis secara riil, bukan sekadar bebas SPP. Pendidikan dasar memang dibiayai negara, namun praktik di lapangan masih menyisakan beban biaya tidak langsung: buku, alat tulis, seragam, transportasi. Pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran khusus paket perlengkapan sekolah untuk siswa dari keluarga rentan. Nilainya kecil dalam struktur APBD, dampaknya besar bagi martabat anak.

Langkah ketiga, penguatan dana BOS dengan pengawasan transparan dan partisipatif. Penggunaan dana harus dipastikan fleksibel untuk kebutuhan mendesak siswa kurang mampu. Publikasi laporan penggunaan dana secara terbuka akan membangun kepercayaan sekaligus mencegah penyimpangan. Pendidikan adalah prioritas, bukan ladang proyek.

Langkah keempat, pembentukan unit layanan psikososial di sekolah dasar. Guru perlu dibekali pelatihan deteksi dini tekanan emosional pada anak. Setiap sekolah minimal memiliki guru yang terlatih dalam konseling dasar. Dinas pendidikan dapat bekerja sama dengan fakultas psikologi atau lembaga profesional untuk program pendampingan berkala.

Langkah kelima, mekanisme respons cepat ketika ada laporan kerentanan siswa. Sekolah harus memiliki jalur komunikasi langsung ke dinas terkait untuk intervensi bantuan dalam hitungan hari, bukan bulan. Jika seorang anak tak mampu membeli buku, solusi harus datang sebelum beban itu menumpuk menjadi tekanan batin.

Langkah keenam, penataan ulang prioritas anggaran pendidikan. Anggaran perjalanan dinas, seremoni, dan proyek yang minim dampak perlu dievaluasi secara serius. Setiap rupiah yang berasal dari pajak rakyat semestinya kembali kepada rakyat dalam bentuk layanan yang nyata. Pendidikan dasar harus menjadi garda terdepan, bukan sisa dari pembagian anggaran.

Langkah ketujuh, penguatan peran pemerintah daerah sebagai pemimpin kesejahteraan wilayahnya. Bupati, wali kota, dan gubernur memegang kendali kebijakan lokal. Kepemimpinan yang berorientasi pada kesejahteraan anak akan tercermin dari keberpihakan anggaran dan ketegasan pengawasan.

Seruan untuk berhenti menguras uang rakyat demi kepentingan yang jauh dari kebutuhan dasar bukanlah kemarahan tanpa arah. Ini adalah tuntutan etis. Pajak dibayarkan dengan harapan hadirnya layanan publik yang adil dan bermartabat.

ADVERTISEMENT

Ketika anak-anak masih kesulitan mengakses kebutuhan belajar yang paling sederhana, maka yang perlu diperbaiki adalah tata kelola dan prioritas.

Bangsa ini tak kekurangan aturan. Konstitusi telah jelas. Anggaran pendidikan secara nasional bahkan mencapai dua puluh persen dari APBN. Tantangannya terletak pada keberanian untuk memastikan dana itu benar-benar menyentuh anak yang membutuhkan.

Pendidikan dasar adalah fondasi peradaban. Jika fondasi ini rapuh karena kelalaian tata kelola, maka masa depan bangsa ikut terancam. Kini saatnya penyelenggara negeri menjawab dengan kerja nyata, keberpihakan yang jelas, dan tanggung jawab yang tulus kepada generasi penerus.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 250x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 232x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Baca Juga

IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
Next Post
The End of Ideology

The End of Ideology

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com