Dengarkan Artikel
Arkeologi Memori, Kosmologi Rasa, dan Teodisi Alam
Oleh: Gus Nas Jogja
Prolegomena:
Ketika Bumi Berhenti Menjadi Objek
Dalam diskursus modernitas yang mekanistik, bencana sering kali dipandang sebagai kegagalan kalkulasi teknis atau sekadar anomali statistik. Namun, dalam kacamata Kearifan Lokal, bencana adalah sebuah bentuk komunikasi—sebuah bahasa primordial yang diucapkan oleh Bumi saat keseimbangan ekosistem dan egosistem terganggu. Mitigasi bencana berbasis kearifan lokal bukanlah sekadar kumpulan takhayul, melainkan sebuah Arkeologi Memori yang menyimpan kecerdasan komunal dalam menghadapi amuk alam.
Martin Heidegger dalam esainya Building Dwelling Thinking mengingatkan bahwa manusia seharusnya “mendiami” (dwelling) bumi, bukan sekadar menempatinya sebagai penguasa. Mendiami berarti menjaga, menyelamatkan, dan membiarkan segala sesuatu ada dalam hakikatnya. Mitigasi berbasis kearifan lokal adalah manifestasi dari cara “mendiami” yang otentik, di mana manusia tidak memposisikan diri sebagai penakluk alam, melainkan sebagai bagian dari sebuah simfoni kosmik yang besar.
Seorang ahli geologi modern datang ke sebuah desa di kaki gunung api dengan membawa sensor canggih seharga miliaran rupiah. Ia menertawakan penduduk desa yang sibuk memindahkan ternak hanya karena melihat monyet-monyet turun gunung. “Sains tidak mengenal firasat monyet!” serunya. Saat gunung itu meletus, sensornya meleleh terkena lava karena ia lupa menghitung variabel “kemarahan bumi”, sementara penduduk desa sudah menyeruput kopi di pengungsian. Ternyata, monyet adalah sensor yang tidak membutuhkan baterai, hanya membutuhkan rasa hormat.
Antara Takdir dan Kosmologi Timur
Dalam tradisi mistik Timur, bencana sering kali dikaitkan dengan konsep Rwa Bhineda — “keseimbangan dua hal yang berlawanan” — atau Hamemayu Hayuning Bawana dalam filosofi Jawa. Di sini, mitigasi dimulai dari batin. Bencana bukan hanya perpindahan lempeng tektonik, melainkan pergeseran etika manusia terhadap alam.
Filsuf Baruch Spinoza pernah menyatakan “Deus sive Natura”—Tuhan atau Alam adalah satu kesatuan yang sama. Jika kita menyakiti alam, kita menyakiti esensi ketuhanan itu sendiri. Kearifan lokal memahami ini melalui personifikasi. Laut bukan sekadar kumpulan H2O, ia adalah Nyi Roro Kidul yang memiliki aturan; Gunung bukan sekadar tumpukan batu, ia adalah Eyang Merapi yang memiliki hajat. Personifikasi ini adalah cara puitis untuk menciptakan batasan moral: bahwa ada ruang-ruang sakral yang tidak boleh dijarah oleh keserakahan manusia.
Smong dan Mitigasi Linguistik: Kekuatan Kata sebagai Penyelamat
Contoh paling gemilang dari mitigasi berbasis kearifan lokal adalah konsep Smong di Simeulue, Aceh. Ketika tsunami 2004 meluluhlantakkan pesisir Hindia, warga Simeulue selamat hampir secara total karena mereka memiliki mantra kolektif yang diwariskan lewat syair nafi-nafi.
Secara filosofis, Smong adalah bentuk Epistemologi Pengalaman. Masyarakat lokal tidak membutuhkan grafik seismik untuk tahu kapan harus lari ke bukit; mereka hanya butuh mendengar “nyanyian bumi” yang air lautnya surut secara tiba-tiba. Hans-Georg Gadamer dalam teori Hermeneutika-nya menekankan pentingnya “fusi cakrawala”—di mana tradisi masa lalu menyatu dengan kesadaran masa kini. Smong adalah fusi tersebut; sebuah teks lisan yang menjadi perisai fisik bagi ribuan nyawa.
Dialektika Modernitas: Kritik Satire terhadap Teknologisme
Filsuf Jean Baudrillard mungkin akan melihat mitigasi bencana modern sebagai simulacra—kita sering kali lebih percaya pada layar ponsel dan aplikasi peringatan dini daripada pada getaran di bawah telapak kaki kita sendiri. Kita terjebak dalam delusi bahwa teknologi bisa menjamin keabadian.
Kearifan lokal menawarkan Filsafat Ketidakberdayaan. Bukan berarti menyerah, melainkan menyadari bahwa manusia adalah titik kecil dalam jagat raya. Suku Baduy di Banten dengan rumah panggung kayu dan sistem pikukuh-nya membuktikan bahwa mitigasi terbaik adalah dengan “mengikuti” keinginan tanah, bukan memaksakan beton di atasnya. Rumah panggung adalah tarian bersama gempa; saat bumi bergoyang, rumah itu ikut berdansa, bukan melawan hingga patah.
Pemerintah kota membangun tembok raksasa di pinggir pantai untuk menahan tsunami, lengkap dengan layar digital yang menampilkan grafik kebanggaan. Namun, mereka lupa membersihkan drainase dari plastik dan membiarkan hutan bakau dibabat demi resor. Saat air pasang datang, tembok itu tetap berdiri tegak, namun kota tenggelam dari dalam karena air tidak punya jalan pulang. Alam berkata: “Tembokmu hebat untuk memantulkan kesombongan, tapi bakauku jauh lebih ahli untuk memeluk ombak.”
Merapi dan Estetika Kepatuhan
Dalam setiap letusan Merapi, kita melihat dialektika antara instruksi pemerintah dan titah batin penduduk setempat. Bagi masyarakat lereng Merapi, mitigasi adalah sebuah Liturgi Kesetiaan. Mereka mengenal wedhus gembel bukan sebagai musuh, melainkan sebagai “nafas gunung” yang sedang membersihkan diri.
Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus berbicara tentang perjuangan manusia melawan absurditas. Masyarakat lokal menghadapi “absurditas” bencana dengan Estetika Kepatuhan. Mereka memiliki pranata mangsa—sebuah kalender puitis yang mengatur kapan harus menanam dan kapan harus waspada. Ini adalah bentuk sains yang dibalut dengan rasa syukur. Mitigasi di sini tidak diawali dengan rasa takut (paranoia), melainkan dengan rasa hormat (reverence).
Puncak Piramida Mitigasi: Pengetahuan sebagai Kehadiran
Jika kita menyusun piramida mitigasi, maka dasarnya adalah Data, tengahnya adalah Teknologi, dan puncaknya adalah Kearifan Lokal. Kenapa? Karena kearifan lokal adalah pengetahuan yang telah “menjadi darah” atau embodied knowledge.
Suhrawardi dalam filsafat Ishraq-nya berbicara tentang Ilmu al-Huduri—pengetahuan melalui kehadiran. Masyarakat lokal tidak “belajar” tentang gempa dari buku; mereka “hadir” bersama gempa dalam memori kolektif ratusan tahun. Mitigasi berbasis kearifan lokal adalah pengetahuan yang hadir dalam setiap helai nafas, dalam setiap ritual sesaji, dan dalam setiap dongeng sebelum tidur. Ia adalah mitigasi yang tidak bisa mati karena ia disimpan dalam gudang paling aman: Kebudayaan.
Merajut Kembali Hubungan dengan Bumi
Menghadapi gempa Mag 6,5 di Pacitan atau ancaman megathrust di masa depan, kita tidak bisa hanya mengandalkan sensor yang baterainya bisa habis atau aplikasi yang sinyalnya bisa hilang. Kita harus kembali menjadi Sang Penjaga Bumi yang mampu membaca tanda-tanda pada langit yang berubah warna, pada burung yang terbang gelisah, dan pada naluri batin yang bergetar.
Mitigasi bencana berbasis kearifan lokal adalah surat cinta yang ditulis oleh nenek moyang kita agar kita tidak musnah oleh kebodohan kita sendiri. Di antara kecanggihan teknologi dan kesucian tradisi, kita harus menemukan jalan tengah. Seperti darah Merah Putih yang mengalir dalam nadi Sang Penjaga: Merah untuk keberanian menghadapi kenyataan, dan Putih untuk ketulusan merawat alam.
Bumi tidak pernah mengkhianati mereka yang tahu cara mendengarnya. Karena pada akhirnya, bencana hanyalah sebuah cara alam untuk mengingatkan kita: bahwa kita hanyalah tamu, dan seorang tamu yang baik tidak akan pernah merusak rumah tuan rumahnya.
Antropologi Kesetiaan: mBah Maridjan dan Seismograf Batin
Jika dunia modern memuja angka desimal pada skala Richter, maka lereng Merapi pernah memiliki sebuah sistem peringatan dini yang tidak terbuat dari sirkuit elektronik, melainkan dari kesetiaan. Sosok mBah Maridjan, Sang Juru Kunci, bukan sekadar simbol feodalistik, melainkan sebuah Antena Kosmik yang frekuensinya telah tersinkronisasi dengan detak jantung gunung.
📚 Artikel Terkait
Secara filosofis, mBah Maridjan adalah antitesis dari “sains yang menjauh”. Dalam pandangan Edmund Husserl mengenai Lebenswelt atau “Dunia-Kehidupan”, pengetahuan yang paling murni berasal dari pengalaman langsung yang dihayati secara mendalam. Bagi mBah Maridjan, Merapi bukanlah “objek penelitian” yang diletakkan di bawah mikroskop geologi, melainkan “Subjek” yang memiliki kehendak, kepribadian, dan bahasa.
1. Margasatwa sebagai Kurir Langit
Ketajaman mBah Maridjan dalam membaca tanda-tanda alam sering kali melampaui akurasi seismograf tercanggih milik BPPTK. Ketika jarum penunjuk pada mesin-mesin di kantor pemantauan masih bergerak tenang, mBah Maridjan telah menangkap kegelisahan pada gerak-gerik margasatwa.
Dalam kacamata Semiotika Alam, burung-burung yang bermigrasi lebih awal, monyet-monyet yang turun gunung tanpa suara, hingga macan tutul yang menampakkan diri di perkampungan adalah “teks” yang dikirimkan oleh Bumi. mBah Maridjan membaca teks ini dengan insting seorang etnografer spiritual. Ia memahami bahwa hewan memiliki sensitivitas terhadap infrasonik dan perubahan medan magnet yang bahkan sensor piezoelektrik tercanggih pun sering kali terlambat mendeteksinya.
Suatu ketika, sebuah tim ahli geofisika datang membawa drone pemantau suhu kawah. Mereka berdebat tentang anomali termal di depan mBah Maridjan yang sedang asyik melinting rokok klembak menyan. “Gunung ini stabil, Mbah, sensor kami menunjukkan suhu normal,” kata salah satu ahli. mBah Maridjan hanya menunjuk seekor tupai yang melompat menjauh dari pohon beringin ke arah selatan dengan tergesa-gesa. “Sensor kalian punya baterai, tapi tidak punya rasa takut. Tupai itu tidak butuh data, dia hanya butuh hidup,” bisik sang Juru Kunci. Dua jam kemudian, awan panas menyapu tempat drone itu mendarat. Ternyata, tupai adalah ahli mitigasi yang tidak pernah menempuh pendidikan doktoral, namun lulus dalam ujian kelangsungan hidup selama ribuan tahun.
2. Teodisi dan Logika Penyerahan Diri
Kesetiaan mBah Maridjan untuk tetap tinggal saat Merapi “punya hajat” sering kali disalahpahami oleh nalar positivisme sebagai tindakan bunuh diri atau kekerasan kepala. Namun, secara filosofis, itu adalah bentuk Stoikisme Jawa. Ia mempraktikkan apa yang disebut oleh Soren Kierkegaard sebagai “Leap of Faith” atau Lompatan Iman.
Bagi sang Juru Kunci, mitigasi bukan hanya soal menjauhkan tubuh dari bahaya, tapi soal menempatkan jiwa pada posisi yang tepat di hadapan Takdir. Kematiannya dalam posisi sujud saat erupsi 2010 adalah sebuah Mantra Visual terakhir; sebuah pernyataan bahwa manusia pada akhirnya harus kembali bersatu dengan tanah yang ia jaga. Ia adalah seismograf batin yang mencatat getaran bukan dalam bentuk grafik, melainkan dalam bentuk pengabdian.
Menuju Mitigasi yang Berjiwa
Menghadirkan mBah Maridjan dalam diskursus mitigasi bencana bukan berarti kita harus membuang teknologi satelit dan kembali ke zaman batu. Melainkan, kita perlu melakukan Integrasi Epistemologis. Teknologi memberikan kita “kapan” dan “di mana”, namun kearifan lokal seperti yang dimiliki mBah Maridjan memberikan kita “bagaimana cara bersikap”.
Mikhail Bakhtin berbicara tentang Dialogisme—sebuah percakapan antar perspektif yang berbeda. Mitigasi masa depan haruslah dialogis: seismograf berbicara pada monitor, sementara intuisi Juru Kunci berbicara pada hati masyarakat. Tanpa kearifan lokal, mitigasi hanyalah instruksi evakuasi yang dingin; namun bersama kearifan lokal, mitigasi menjadi sebuah Liturgi Keselamatan.
Segel Sang Penjaga
Pada akhirnya, mitigasi berbasis kearifan lokal adalah upaya untuk memanusiakan bencana. Ia mengajarkan kita bahwa di bawah koordinat 8.98LS dan 111.17BT, atau di puncak Merapi yang berasap, ada sebuah hubungan sakral yang tidak boleh diputus oleh kesombongan intelektual.
Kita membutuhkan sains untuk mengukur magnitudo, namun kita membutuhkan mBah Maridjan untuk memahami makna dari guncangan tersebut. Di antara kabel-kabel sensor dan dupa yang terbakar, di sanalah letak keselamatan kita.
Epistemologi Intuisi: Melampaui Jarum-Jarum Dingin
Kehadiran mBah Maridjan dalam struktur mitigasi kita adalah sebuah pengingat akan adanya Epistemologi Intuisi. Jika seismograf bekerja berdasarkan hukum inersia mekanis—sebuah massa yang tetap diam saat bumi bergerak—maka Juru Kunci bekerja berdasarkan hukum Inersia Ruhani. Ia tidak bergerak bukan karena bebal, melainkan karena ia adalah jangkar yang menstabilkan gejolak psikologis masyarakat di sekitarnya.
Dalam filsafat Henri Bergson, terdapat perbedaan antara Analisis dan Intuisi. Analisis hanya bisa melihat benda dari luar, memecahnya menjadi bagian-bagian kecil (magnitudo, kedalaman, koordinat). Namun, Intuisi adalah cara kita memasuki benda tersebut dari dalam. mBah Maridjan tidak “menganalisis” Merapi; ia “menjadi” Merapi. Keakuratannya membaca margasatwa adalah hasil dari Simpati Kosmik. Saat ia melihat laba-laba hutan turun lebih rendah dari biasanya, ia sedang membaca naskah rahasia yang tidak pernah dipublikasikan oleh jurnal ilmiah mana pun.
Ketika Prosedur Menabrak Takdir
Sering kali terdapat ketegangan satir antara birokrasi mitigasi yang berbasis instruksi dengan kearifan lokal yang berbasis rasa. Birokrasi membutuhkan “stempel” untuk mengungsi, sementara alam hanya membutuhkan “firasat”.
Sebuah helikopter pejabat mendarat di pelataran rumah mBah Maridjan. Mereka membawa surat perintah evakuasi yang bertahtakan stempel basah. “Mbah, ini data satelit terbaru, Merapi sudah di level awas!” ujar sang pejabat. mBah Maridjan hanya tersenyum sambil mengamati sekelompok semut yang membawa telur-telurnya naik ke dahan yang lebih tinggi. “Satelit Bapak berada ribuan mil di langit, tapi semut ini berada satu mil di bawah tanah. Bapak percaya pada besi yang terbang, saya percaya pada nyawa yang merayap. Silakan Bapak pergi dulu, semut saya belum selesai berkemas.” Sang pejabat pergi dengan dongkol. Namun, saat Merapi benar-benar “batuk”, ia menyadari bahwa satelit hanya bisa memberitahu bahwa gunung telah meletus, sedangkan semut telah memberitahu bahwa gunung akan meletus.
Penutup:
Piramida Kesadaran Baru
Kita sampai pada puncak piramida esai ini. Mitigasi bencana bukan lagi soal memenangkan peperangan melawan alam, melainkan soal merajut kembali kontrak sosial antara manusia dan penciptanya melalui perantara bumi.
Mbah Maridjan, dengan kesetiaannya yang melampaui nalar, adalah Logika yang Tertinggal. Ia adalah pengingat bahwa di era digital 2026 ini, di mana gempa Mag 6,5 mengguncang Pacitan dan bayang-bayang megathrust mengintai, kita membutuhkan lebih dari sekadar aplikasi peringatan dini. Kita membutuhkan “Juru Kunci” dalam diri kita masing-masing—sebuah insting yang tajam, sebuah rasa hormat yang dalam pada margasatwa, dan sebuah penyerahan diri yang puitis pada Sang Pencipta.
Bumi tidak pernah menghancurkan tanpa memberi tanda. Bencana adalah puisi yang ditulis dengan tinta gempa, dan kearifan lokal adalah kacamata untuk membacanya. Di antara kecanggihan sensor laser dan kepulan asap kemenyan mBah Maridjan, terdapat sebuah ruang hampa di mana keselamatan sejati bersemayam.
Maka, biarlah jarum seismograf tetap menari di atas kertas, namun biarlah nurani kita tetap terjaga membaca gerak burung di langit. Sebab pada akhirnya, ilmu pengetahuan tanpa kearifan adalah mesin tanpa jiwa, dan kearifan tanpa ilmu adalah cahaya tanpa lampion.
Sudah saatnya kita saling belajar, bukan adu kepongahan!
Daftar Pustaka
Heidegger, Martin. (1954). Building Dwelling Thinking.
Spinoza, Baruch. Ethics. (Konsep imanen Tuhan dalam alam).
Gadamer, Hans-Georg. (1960). Truth and Method. (Tentang tradisi dan hermeneutika).
Baudrillard, Jean. (1981). Simulacra and Simulation.
Camus, Albert. (1942). The Myth of Sisyphus.
Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. (Tentang kosmologi dan mitigasi tradisional).
Suhrawardi. The Philosophy of Illumination.
Bergson, Henri. (1903). An Introduction to Metaphysics. (Tentang Intuisi vs Analisis).
Husserl, Edmund. (1936). The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology. (Tentang Dunia-Kehidupan).
Kierkegaard, Soren. Fear and Trembling. (Tentang Lompatan Iman).
Maridjan, mBah. (Kumpulan petuah lisan dan dokumentasi budaya Lereng Merapi).
Bakhtin, Mikhail. (1981). The Dialogic Imagination.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






