Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
“Etika ekonomi Islam, dengan larangan riba dan penekanan pada keadilan sosial, bukan merupakan
ketiadaan rasionalitas, melainkan rasionalitas yang berbeda, yaitu rasionalitas yang menentang komodifikasi hubungan antarmanusia yang oleh Weber dianggap sebagai ciri khas kapitalisme.” — Bryan S. Turner(81), Weber and Islam(1998).
Apakah kapitalisme secara ideologi dan filosofis anti Tuhan? Pertanyaan ini menuntut kita menelusuri sedikit akar sejarah dan kritik filosofis kontemporer terhadap kapitalisme.
Bermula dari sosiolog Max Weber(1864–1920) dalam Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus(Jerman 1904; Inggris 1930; Pustaka Pelajar 2002) menunjukkan bahwa kapitalisme modern justru lahir dari etos religius Protestan: kerja keras, disiplin, dan rasionalitas dipandang sebagai panggilan spiritual.
Namun, dalam perkembangannya, kapitalisme melepaskan diri dari landasan teologis dan menjelma menjadi sistem sekuler yang beroperasi dengan logika efisiensi, profit, dan regulasi pasar.
Iron cage yang digambarkan Weber adalah simbol keterjebakan manusia dalam rasionalitas instrumental, di mana nilai transenden tersingkir.
Dari titik ini, kapitalisme tampak seolah anti Tuhan, bukan karena ia lahir untuk menentang agama, melainkan karena ia menyingkirkan dimensi ilahi demi logika pasar.
Dalam konteks dunia Islam, perdebatan mengenai hubungan antara agama dan kapitalisme menemukan bentuknya melalui karya Maxime Rodinson(1915-2004).
Islam and Capitalism, yang pertama kali terbit dalam bahasa Prancis pada 1966, kemudian ke bahasa Inggris(1978) dan penerbit Iqra Bandung(1982), menolak pandangan bahwa Islam secara inheren anti‑kapitalisme.
Rodinson menegaskan: “Tidak ada satu pun dalam Islam yang bertentangan dengan perkembangan kapitalisme.
Doktrin Islam pada dasarnya tidak menghalangi hubungan ekonomi kapitalis.”
📚 Artikel Terkait
Pernyataan ini menjadi bantahan terhadap tesis Weber yang beranggapan bahwa Islam tidak memiliki rasionalisme yang mendukung kapitalisme.
Menurut Rodinson, faktor sejarah, politik, dan sosial jauh lebih menentukan daripada doktrin agama dalam menjelaskan keterlambatan perkembangan kapitalisme di dunia Muslim.
Islam, melalui teks-teks Qur’an dan Sunnah, memang menekankan keadilan sosial, distribusi yang adil, dan larangan eksploitasi.
Namun, ajaran tersebut tidak menutup ruang bagi praktik perdagangan, akumulasi modal, maupun aktivitas ekonomi yang dapat berkembang menjadi kapitalisme.
Sejarah Islam awal bahkan menunjukkan dinamika perdagangan yang kuat, di mana para sahabat Nabi Muhammad banyak terlibat dalam aktivitas komersial.
Dengan demikian, Islam tidak pernah menjadi penghalang bagi kapitalisme, melainkan menawarkan etika yang menyeimbangkan antara pencarian keuntungan dan tanggung jawab sosial.
Disrupsi kapitalisme global hari ini menempatkan dunia Islam dalam posisi yang kompleks.
Di satu sisi, umat Islam menghadapi penetrasi logika pasar yang semakin mendominasi, mengikis nilai-nilai transenden, dan menjerat manusia dalam “kandang besi” rasionalitas instrumental sebagaimana digambarkan Weber.
Di sisi lain, Islam memiliki potensi untuk menawarkan koreksi etis terhadap kapitalisme, dengan menekankan prinsip keadilan, solidaritas, dan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Kritik Rodinson membuka jalan bagi pemahaman bahwa keterlambatan kapitalisme di dunia Muslim bukanlah akibat ajaran Islam, melainkan karena kolonialisme, struktur feodal, dan kondisi geopolitik yang membatasi perkembangan ekonomi.
Kesimpulannya, dunia Islam di tengah disrupsi kapitalisme tidak harus terjebak dalam dikotomi antara agama dan pasar.
Islam bukanlah penghalang kapitalisme, tetapi dapat menjadi sumber etika yang menuntun kapitalisme agar tidak kehilangan dimensi kemanusiaan dan transendensi.
Tantangan terbesar adalah bagaimana umat Islam mampu mengintegrasikan nilai-nilai ilahi dengan dinamika ekonomi modern, sehingga kapitalisme tidak sekadar menjadi sistem sekuler yang menyingkirkan Tuhan, melainkan dapat diarahkan untuk mendukung kehidupan yang adil, bermartabat, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
cover speech:
Noam Chomsky(97), “State Capitalism and the Military” merupakan sebuah speech yang ia sampaikan pada berbagai kesempatan sejak awal 1990-an, di mana ia menekankan bahwa semua negara industri modern beroperasi dalam bentuk “state capitalism” dengan militer sebagai instrumen utama.
credit foto cover buku dari Maxime Rodinson, Islam and Capitalism, dan gambar-gambar yang mengulas topik kapitalisme di laman Youtube.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






