POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Gundukan Tanah Merah

Asmaul HusnaOleh Asmaul Husna
February 3, 2026
Gundukan Tanah Merah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi

Gundukan tanah merah itu masih basah. Kicauan burung sesekali terdengar, seolah mendendangkan simfoni kesedihan atas sebuah kehilangan. Kamboja putih satu dua luruh tertiup angin, seperti menyapa penghuni yang baru tiba. Langkah kaki para pengantar menghilang satu per satu tanpa perlu aba-aba, pertanda rangkaian fardhu kifayah telah tuntas dijalankan.

Kehilangan ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga menyisakan ruang kosong yang menganga bagi penduduk desa. Abah Syarif, sosok karismatik yang telah purna menjalankan tugasnya sebagai hamba, berpulang dengan damai, mengawali kehidupan abadi berikutnya.

Kepergian itu seolah mengembalikan ingatan kami pada jejak-jejak panjang yang ia tinggalkan. Masih kuat terpatri dalam ingatan, cuplikan peran Abah Syarif dalam membangun desa, memberdayakan warga hingga mampu berdiri dan berpijak dengan kekuatan sendiri. Kiprahnya membawa perubahan yang begitu berarti, sesuatu yang tak mungkin dipandang sebelah mata.

Penduduk desa ini sejatinya adalah para pendatang yang mengadu nasib pada kebaikan alam. Mereka membuka sejengkal lahan perkebunan, menjemput harapan bagi kehidupan. Dalam perjalanan itu, Abah Syarif hadir sebagai tokoh utama, menguatkan, mengarahkan, dan menumbuhkan keyakinan bersama.

Ia memberi ruang dan kesempatan bagi para pemuda untuk membudidayakan kopi sebagai komoditas unggulan daerah. “Kopi super” pun lahir dari proses panjang yang ia dampingi. Kabar tentang kualitas kopi itu beredar cepat, mengalahkan hembusan angin, hingga desa ini menjadi rujukan utama untuk mendapatkan bibit terbaik. Banyak pihak berdatangan, kerja sama pun terbuka lebar, dan Abah Syarif adalah dalang di balik kenyataan yang kini menyapa.

Usianya yang tak lagi muda bukanlah penghalang untuk tetap menjadi kesatria. Ketika wilayah ini dilanda konflik bersenjata dan penduduk desa lain memilih kembali ke tanah kelahiran, Abah Syarif justru bertahan bersama warganya. Ia tak beranjak sedikit pun. Pintu rumahnya dibuka lebar untuk menampung mereka yang tak lagi berani tinggal di rumah masing-masing akibat maraknya pembakaran tempat tinggal oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Di sela masa-masa sulit itu, seonggok bangunan sederhana di ujung desa menjadi saksi kegigihannya. Di tempat itulah Abah Syarif membentuk kelompok belajar keagamaan yang berlangsung bergiliran pada malam-malam tertentu.

Atapnya yang kokoh memayungi semangat Abah Syarif yang tak pernah padam dalam menempa setiap jiwa.
Langkah kakinya tak pernah lelah merangkul sesama. Ia menghidupkan surau melalui shalat berjamaah, bukan hanya bagi mereka yang berusia senja, tetapi juga bagi jiwa-jiwa muda yang masih perkasa.

Setiap Ramadan, ia tak pernah absen menyiapkan aneka parcel jajanan untuk anak-anak yang bersungguh-sungguh menjalankan shalat tarawih. Anak-anak yatim dan piatu selalu ia dahulukan, seolah memastikan tak ada yang merasa sendirian.

📚 Artikel Terkait

Guru MTsN 6 Aceh Utara, Putra Buloh Menulis Buku “Problematika Fiqhiyah dan Solusinya”

KUTARAJA TETESAN AIR MATA

Puisi – Puisi SRI WAHYUNI

MUSIBAH DI 13.03.2011

Bagi Abah Syarif, membangun iman saja tidak cukup. Tubuh yang sehat dan kebersamaan para pemuda juga harus dirawat. Hamparan rumput di tanah lapang menjadi saksi kesungguhannya membina mereka melalui olahraga.

Setiap sore, para pemuda berkumpul untuk berlatih sepak bola. Dari rutinitas itu lahir kesebelasan desa yang tangguh, langganan kemenangan di tingkat kecamatan hingga kabupaten, dan disegani oleh lawan-lawannya.

“Abah, adakah tantangan dari setiap program yang Abah jalankan untuk kemajuan desa?”
Pernah seseorang bertanya demikian.

“Banyak, sangat banyak,” jawabnya tenang. “Tapi saya bersama warga di sini memilih untuk tidak fokus pada tantangan. Kami berusaha tetap fokus pada solusi yang tersedia.”

Di tengah tubuhnya yang kian ringkih, Abah Syarif terus menguatkan simpul persatuan agar tidak terurai oleh ego dan tergerus zaman. Gotong royong dan pertemuan rutin bulanan tetap dijaga. Kaum ibu menyiapkan kudapan dengan suka cita, dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.

“Allah mengirimkan musibah kepada manusia bisa jadi sebagai ujian, bisa pula sebagai teguran,” ucap Abah Syarif mengawali salah satu pertemuan, dengan tatapan teduh menyapu wajah para warga.

“Terkadang musibah datang bukan karena berkurangnya orang-orang saleh, tetapi karena diamnya orang-orang taat yang membiarkan kemaksiatan merajalela.
Semoga jika suatu saat Allah kembali menguji kita, musibah itu hadir sebagai ujian, dan kita mampu melewatinya dengan baik, seperti yang telah kita lalui bersama selama ini.”
Suaranya serak dan bergetar, menghantarkan keharuan ke setiap jiwa yang hadir.

Saat itu, kata-kata tersebut kami dengar sebagai nasihat, tanpa menyadari bahwa waktu akan segera menyingkap maknanya.

Tak lama setelah pertemuan itu berlalu, musibah benar-benar datang, bahkan gundukan tanah merah itu pun belum sempat mengering. Di titik inilah kami mulai memahami bahwa tak ada satu pun peristiwa di alam ini yang hadir tanpa sebab. Segala yang ada memiliki batas, bahkan keberadaan itu sendiri.

Kini, gundukan tanah merah itu telah hilang, larut bersama aliran sungai baru yang terbentuk. Namun jejak Abah Syarif tetap tinggal, mengalir dalam ingatan dan laku warga desa, pada nilai-nilai yang pernah ia tanamkan dengan kesungguhan dan cinta.

Banda Aceh, 30 Januari 2026
Hari ke-66 pasca bencana

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 81x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 75x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Asmaul Husna

Asmaul Husna

Asmaul Husna merupakan alumni Tarbiyah Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry angkatan 2003. Sejak menamatkan sarjananya pada tahun 2008 ia mengajar di SDIT Nurul Ishlah Banda Aceh sebagai guru kelas sampai sekarang. Pengalaman menulisnya diawali saat ia dipercayakan untuk menulis naskah drama yang akan dipentaskan pada perhelatan akhir tahun para siswa di sekolah tempat ia mengajar. Sketsa Jiwa di Kanvas Waktu adalah antologi cerpen pertamanya yang sudah diterbitkan.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Elite Jawa Timur Mulai Ketar-ketir Dibuat KPK

Elite Jawa Timur Mulai Ketar-ketir Dibuat KPK

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00