Dengarkan Artikel
Oleh Asmaul Husna
Inong Literasi
Gundukan tanah merah itu masih basah. Kicauan burung sesekali terdengar, seolah mendendangkan simfoni kesedihan atas sebuah kehilangan. Kamboja putih satu dua luruh tertiup angin, seperti menyapa penghuni yang baru tiba. Langkah kaki para pengantar menghilang satu per satu tanpa perlu aba-aba, pertanda rangkaian fardhu kifayah telah tuntas dijalankan.
Kehilangan ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat, tetapi juga menyisakan ruang kosong yang menganga bagi penduduk desa. Abah Syarif, sosok karismatik yang telah purna menjalankan tugasnya sebagai hamba, berpulang dengan damai, mengawali kehidupan abadi berikutnya.
Kepergian itu seolah mengembalikan ingatan kami pada jejak-jejak panjang yang ia tinggalkan. Masih kuat terpatri dalam ingatan, cuplikan peran Abah Syarif dalam membangun desa, memberdayakan warga hingga mampu berdiri dan berpijak dengan kekuatan sendiri. Kiprahnya membawa perubahan yang begitu berarti, sesuatu yang tak mungkin dipandang sebelah mata.
Penduduk desa ini sejatinya adalah para pendatang yang mengadu nasib pada kebaikan alam. Mereka membuka sejengkal lahan perkebunan, menjemput harapan bagi kehidupan. Dalam perjalanan itu, Abah Syarif hadir sebagai tokoh utama, menguatkan, mengarahkan, dan menumbuhkan keyakinan bersama.
Ia memberi ruang dan kesempatan bagi para pemuda untuk membudidayakan kopi sebagai komoditas unggulan daerah. “Kopi super” pun lahir dari proses panjang yang ia dampingi. Kabar tentang kualitas kopi itu beredar cepat, mengalahkan hembusan angin, hingga desa ini menjadi rujukan utama untuk mendapatkan bibit terbaik. Banyak pihak berdatangan, kerja sama pun terbuka lebar, dan Abah Syarif adalah dalang di balik kenyataan yang kini menyapa.
Usianya yang tak lagi muda bukanlah penghalang untuk tetap menjadi kesatria. Ketika wilayah ini dilanda konflik bersenjata dan penduduk desa lain memilih kembali ke tanah kelahiran, Abah Syarif justru bertahan bersama warganya. Ia tak beranjak sedikit pun. Pintu rumahnya dibuka lebar untuk menampung mereka yang tak lagi berani tinggal di rumah masing-masing akibat maraknya pembakaran tempat tinggal oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Di sela masa-masa sulit itu, seonggok bangunan sederhana di ujung desa menjadi saksi kegigihannya. Di tempat itulah Abah Syarif membentuk kelompok belajar keagamaan yang berlangsung bergiliran pada malam-malam tertentu.
Atapnya yang kokoh memayungi semangat Abah Syarif yang tak pernah padam dalam menempa setiap jiwa.
Langkah kakinya tak pernah lelah merangkul sesama. Ia menghidupkan surau melalui shalat berjamaah, bukan hanya bagi mereka yang berusia senja, tetapi juga bagi jiwa-jiwa muda yang masih perkasa.
Setiap Ramadan, ia tak pernah absen menyiapkan aneka parcel jajanan untuk anak-anak yang bersungguh-sungguh menjalankan shalat tarawih. Anak-anak yatim dan piatu selalu ia dahulukan, seolah memastikan tak ada yang merasa sendirian.
📚 Artikel Terkait
Bagi Abah Syarif, membangun iman saja tidak cukup. Tubuh yang sehat dan kebersamaan para pemuda juga harus dirawat. Hamparan rumput di tanah lapang menjadi saksi kesungguhannya membina mereka melalui olahraga.
Setiap sore, para pemuda berkumpul untuk berlatih sepak bola. Dari rutinitas itu lahir kesebelasan desa yang tangguh, langganan kemenangan di tingkat kecamatan hingga kabupaten, dan disegani oleh lawan-lawannya.
“Abah, adakah tantangan dari setiap program yang Abah jalankan untuk kemajuan desa?”
Pernah seseorang bertanya demikian.
“Banyak, sangat banyak,” jawabnya tenang. “Tapi saya bersama warga di sini memilih untuk tidak fokus pada tantangan. Kami berusaha tetap fokus pada solusi yang tersedia.”
Di tengah tubuhnya yang kian ringkih, Abah Syarif terus menguatkan simpul persatuan agar tidak terurai oleh ego dan tergerus zaman. Gotong royong dan pertemuan rutin bulanan tetap dijaga. Kaum ibu menyiapkan kudapan dengan suka cita, dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan.
“Allah mengirimkan musibah kepada manusia bisa jadi sebagai ujian, bisa pula sebagai teguran,” ucap Abah Syarif mengawali salah satu pertemuan, dengan tatapan teduh menyapu wajah para warga.
“Terkadang musibah datang bukan karena berkurangnya orang-orang saleh, tetapi karena diamnya orang-orang taat yang membiarkan kemaksiatan merajalela.
Semoga jika suatu saat Allah kembali menguji kita, musibah itu hadir sebagai ujian, dan kita mampu melewatinya dengan baik, seperti yang telah kita lalui bersama selama ini.”
Suaranya serak dan bergetar, menghantarkan keharuan ke setiap jiwa yang hadir.
Saat itu, kata-kata tersebut kami dengar sebagai nasihat, tanpa menyadari bahwa waktu akan segera menyingkap maknanya.
Tak lama setelah pertemuan itu berlalu, musibah benar-benar datang, bahkan gundukan tanah merah itu pun belum sempat mengering. Di titik inilah kami mulai memahami bahwa tak ada satu pun peristiwa di alam ini yang hadir tanpa sebab. Segala yang ada memiliki batas, bahkan keberadaan itu sendiri.
Kini, gundukan tanah merah itu telah hilang, larut bersama aliran sungai baru yang terbentuk. Namun jejak Abah Syarif tetap tinggal, mengalir dalam ingatan dan laku warga desa, pada nilai-nilai yang pernah ia tanamkan dengan kesungguhan dan cinta.
Banda Aceh, 30 Januari 2026
Hari ke-66 pasca bencana
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






