POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pendidikan Aceh: Dari Menara Gading Menuju Air Kehidupan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
January 30, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh, tanah kaya sejarah, budaya, dan spiritualitas, kini berdiri di persimpangan besar. Selama puluhan tahun, pendidikan formal kita sering dipandang sebagai menara gading—megah, sakral, namun jauh dari kehidupan sehari-hari rakyat. Mahalnya biaya pendidikan tinggi, eksklusivitas akses ilmu, dan tuntutan formalitas legalitas membuat banyak potensi intelektual Aceh terkubur di balik jargon pendidikan bergengsi.

Dalam ajaran agama dan nilai kemanusiaan, menuntut ilmu adalah fardhu ‘ain—kewajiban setiap individu. Namun, kenyataannya, akses terhadap pendidikan formal sangat terbatas dan seringkali tidak relevan dengan kebutuhan lokal. Tulisan ini mengajak kita memikirkan kembali pendidikan Aceh: bukan simbol status, tapi air kehidupan yang memberi energi dan peluang bagi semua masyarakat.


  1. Monopoli Kebenaran, Legalitas, dan Biaya

Struktur pendidikan konvensional di Aceh masih diwarnai tiga monopoli yang saling memperkuat:

Monopoli kebenaran
Pengetahuan dianggap sah hanya jika disalurkan melalui kurikulum kampus formal. Akibatnya, ilmu yang berkembang di luar ruang kuliah sering diremehkan, padahal relevan dengan kebutuhan Aceh.

Monopoli legalitas
Ijazah universitas menjadi satu-satunya legitimasi sosial dan ekonomi. Orang dianggap berpengetahuan hanya jika lulus dari universitas tertentu, meskipun kemampuan dan pengalaman mereka sama atau lebih unggul.

Monopoli biaya
Biaya pendidikan tinggi terus meningkat. Banyak keluarga Aceh yang harus bergantung pada beasiswa atau bantuan keluarga hanya untuk bisa masuk gerbang formalitas, sementara akses ilmu tetap tertutup bagi mereka yang kurang mampu.

Ketiga monopoli ini menimbulkan kesenjangan besar. Banyak orang Aceh berbakat namun terhalang oleh struktur formal dan biaya tinggi. Ilmu tidak mengalir ke seluruh masyarakat, dan potensi Aceh tetap terpendam.


  1. Belajar Hari Ini: Pendidikan sebagai Air

Di era digital, pendidikan tidak lagi terikat ruang kelas konvensional. AI, platform online, dan komunitas belajar membuka akses bagi siapa saja:

Akses pengetahuan terbuka luas; siapa pun bisa mempelajari sains, teknologi, metodologi riset, dan literatur global.

Umpan balik instan dan adaptif memungkinkan pembelajar menyesuaikan proses belajar sesuai kebutuhan mereka.

Materi pembelajaran global sekaligus lokal memungkinkan belajar relevan dengan konteks Aceh, misalnya mitigasi bencana, ekonomi lokal, atau budaya Aceh.

Metaforanya, pendidikan harus bergerak seperti air: mengalir merata, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, menjadi sumber kehidupan. Air ada di setiap titik kehidupan; begitu pula pendidikan harus tersedia untuk semua, bukan hanya mereka yang mampu membayar.


  1. Universitas sebagai Lembaga Legalitas, Bukan Pembatas Akses

Aceh tidak menolak pendidikan tinggi, tetapi perlu mendefinisikan ulang peran universitas:

Lembaga akreditasi kompetensi: memberi pengakuan resmi terhadap capaian pembelajar, formal maupun non-formal.

Penyelenggara evaluasi karya ilmiah: proses untuk memastikan kualitas dan relevansi karya, bukan ritual mahal.

Pusat standardisasi legalitas: menjaga kualitas tanpa mengekang akses.

📚 Artikel Terkait

Konsekuensi Hukum Bila Ijazah Jokowi Terbukti Palsu

Smart boys

Jabatan itu Amanah atau Aman… Nah?

Perpustakaan Aceh Kekurangan Koleksi Literasi Tentang Aceh

Dengan model ini, universitas tetap relevan tetapi tidak lagi eksklusif. Semua orang yang belajar serius bisa mendapatkan pengakuan tanpa harus menanggung beban biaya tinggi.


  1. Konsep Pendidikan Aceh yang Humanis dan Otonom

Aceh memiliki budaya dan nilai religius yang kuat. Pendidikan harus:

Terbuka untuk semua;

Terintegrasi dengan nilai lokal dan spiritual;

Berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, bukan simbol status.

Belajar dalam ajaran agama bukan hanya untuk gelar, tetapi untuk memahami dunia, menyejahterakan sesama, dan memberi manfaat. Aceh bisa mengembangkan pendidikan yang berakar pada nilai ini, sekaligus relevan dengan era digital dan tantangan global. Model ini bukan menentang pendidikan tinggi, tetapi menghindari monopoli akses dan biaya yang membatasi.


  1. Solusi Nyata: Pemerataan Akses, Legalitas Mudah, dan Relevansi Kontekstual

Beberapa langkah strategis untuk mewujudkan pendidikan Aceh yang merata dan relevan:

Sistem sertifikasi terbuka
Memberikan pengakuan terhadap kompetensi pembelajar tanpa harus melalui kuliah formal yang panjang dan mahal. Sertifikasi bisa melalui ujian kompetensi, portofolio, atau sidang karya ilmiah fleksibel.

Pusat Pembelajaran Digital dan Komunitas Belajar
Memanfaatkan AI dan kurikulum global yang relevan dengan Aceh di setiap kabupaten/kota. Membuka ruang belajar yang merata untuk semua lapisan masyarakat.

Karya ilmiah akhir relevan dengan Aceh
Topik diarahkan pada isu lokal: mitigasi bencana, ekonomi berbasis komunitas, budaya, dan inovasi teknologi. Ilmu tidak hanya dikonsumsi, tetapi dipakai untuk membangun Aceh.


  1. Pendidikan Aceh: Air Kehidupan yang Mengalir

Pendidikan Aceh harus berubah dari paradigma menara gading menjadi air kehidupan:

Tersedia di seluruh desa dan kota;

Membebaskan potensi intelektual masyarakat;

Memberi akses bagi semua yang ingin belajar;

Membantu masyarakat hidup lebih baik.

Aceh tidak perlu meniru model eksklusif Barat yang membatasi akses. Pendidikan harus inklusif, humanis, dan relevan. Dengan cara ini, pendidikan menjadi energi pembebasan, bukan simbol status atau ritual administratif.


Kesimpulan

Pendidikan Aceh bukan sekadar gelar dan menara gading. Ia adalah air yang memberi kehidupan, mengalir merata, dan membebaskan potensi rakyat. Dengan akses belajar digital, universitas sebagai lembaga legalitas fleksibel, dan relevansi konten lokal, Aceh bisa menciptakan:

Masyarakat belajar yang inklusif dan otonom;

Pengakuan kompetensi yang sah tanpa biaya besar;

Generasi yang mampu membangun Aceh dengan kreativitas dan daya saing tinggi.

Seperti air yang menumbuhkan kehidupan di setiap tanah yang dilewati, pendidikan Aceh harus mengalir ke seluruh masyarakat, memberi energi, harapan, dan kapasitas untuk tumbuh dan berinovasi. Aceh berhak memimpin model pendidikan yang merata, beradab, dan berdaya guna—tanpa harus menunggu pusat atau meniru sistem yang hanya menguntungkan segelintir elit.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 101x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
168
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00