Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Demo besar yang melanda Iran sepertinya gagal menggulingkan rezim. Melihat itu, AS sudah mengerahkan armada besar angkatan laut, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke arah Iran. Untuk saat ini, Iran masih kuat di tengah kepungan AS dari segala lini. Saya tak membahas kondisi geopolitik Iran hari ini, melainkan mau membahas sejarah bangsa yang sudah malang-melintang berperang ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Kalau sejarah dunia itu panggung raksasa, maka Persia, yang sekarang bernama Iran, bukan figuran. Ia pemeran utama yang dari dulu hobinya dua, membangun peradaban dan bikin imperium lain minder. Saat banyak wilayah masih belajar menyalakan api tanpa bakar alis, Iran sudah punya pemukiman tetap sejak Paleolitik Tengah sekitar 100.000 tahun lalu di Pegunungan Zagros. Lalu sekitar 8000 SM, manusia di sini mulai bercocok tanam di Sarāb dan Ali Kosh. Ini bukan sekadar bertahan hidup, ini peradaban yang sadar masa depan.
Sekitar milenium ke-2 SM, suku Indo-Iranian datang membawa bahasa dan ide besar. Lalu muncul sosok legendaris, Zarathustra, yang antara abad ke-12 hingga ke-6 SM memperkenalkan Zoroastrianisme. Intinya sederhana tapi berat. Dunia ini medan tempur antara kebaikan dan kejahatan. Konsep ini nanti bocor ke Yudaisme, Kristen, dan Islam. Persia bukan cuma bikin kekaisaran, tapi juga menyumbang software moral ke dunia.
Masuk tahun 550 SM, Cyrus Agung tampil seperti bos final sejarah kuno. Ia mendirikan Kekaisaran Achaemenid, menaklukkan Media, Lydia, dan Babilonia. Wilayahnya membentang dari Balkan sampai Lembah Indus, mencakup lebih dari 40% populasi dunia, angka yang bikin negara modern minder. Di bawah Darius I (522–486 SM), Persia punya sistem satrapi, Royal Road sepanjang ±2.500 km, mata uang daric, dan toleransi beragama. Orang Yahudi dibebaskan dari pembuangan Babilonia. Ini kekaisaran dengan otak, bukan cuma otot.
Perang melawan Yunani memang ada, Marathon 490 SM, Salamis 480 SM, tapi mari jujur, Persia kalah satu dua pertempuran, bukan kalah kelas. Kekaisaran ini baru benar-benar tumbang saat Alexander Agung menang di Gaugamela (331 SM). Persia jatuh, tapi tidak mati.
Setelah fase Yunani, bangkitlah Parthian (247 SM–224 M) yang bahkan sukses mempermalukan Romawi di Carrhae (53 SM). Lalu datang Dinasti Sasanian (224–651 M), masa keemasan Persia pra-Islam. Zoroastrianisme dijadikan agama resmi, arsitektur megah berdiri, dan perang epik melawan Romawi-Bizantium berlangsung puluhan tahun. Tapi kelelahan kronis adalah pembunuh senyap kekaisaran. Kekalahan di Qadisiyyah (636 M) dan Nahavand (642 M) membuka jalan penaklukan Arab Muslim. Tahun 651 M, Persia pra-Islam resmi tamat.
Namun Persia lagi-lagi menolak punah. Islam datang, tapi Persia tidak larut, ia beradaptasi. Bahasa Persia hidup kembali dengan aksara Arab, dan pada abad ke-9–10 muncul Renaissance Persia. Ferdowsi menulis Shahnameh, menyelamatkan identitas Persia lewat epik nasional setebal sejarah itu sendiri. Mongol menghancurkan Baghdad 1258, Timur Lenk menyerbu, tapi semua penakluk akhirnya “dipersia-kan”.
📚 Artikel Terkait
Titik balik modern datang saat Dinasti Safavid (1501) menjadikan Syiah Dua Belas Imam sebagai agama resmi negara. Ini keputusan ideologis dan geopolitik super berani. Di bawah Shah Abbas I (1588–1629), Iran mencapai puncak kejayaan. Isfahan dibangun megah, Utsmaniyah ditekan, Portugis diusir. Identitas Iran modern lahir di sini.
Abad ke-20 masuk dengan Reza Shah Pahlavi, sang modernis keras kepala. Ia naik takhta 1925, membangun rel kereta, universitas, tentara modern, dan pada 21 Maret 1935 meminta dunia memakai nama Iran, bukan Persia. Nasionalisme, bukan romantisme. Putranya, Mohammad Reza Shah, melanjutkan modernisasi lewat Revolusi Putih (1963): reformasi tanah, hak perempuan, industrialisasi. Tapi di balik itu ada SAVAK, represi, dan ketimpangan sosial.
Di sinilah panggung meledak.
Revolusi Iran 1978–1979, dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini, menggulingkan monarki berusia 2.500 tahun. Februari 1979, Republik Islam lahir dengan sistem wilayat al-faqih, di mana ulama memegang otoritas tertinggi. Dunia kaget. Barat panik. Iran berubah total.
Tak lama, Perang Iran-Irak (1980–1988) pecah, menewaskan ratusan ribu orang. Tapi Iran bertahan. Setelah Khomeini wafat 1989, tongkat kepemimpinan tertinggi jatuh ke Ali Khamenei, yang hingga hari ini masih menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Presiden silih berganti seperti Rafsanjani, Khatami, Ahmadinejad, Rouhani, Raisi, hingga Masoud Pezeshkian, tapi kendali ideologis tetap di tangan Khamenei.
Hari ini, Iran adalah campuran unik. Puisi kuno, Syiah politik, sanksi ekonomi, konflik regional, dan kebanggaan sejarah ribuan tahun. Negara ini pernah ditaklukkan berkali-kali, tapi selalu bangkit dengan identitas baru. Mungkin itulah rahasianya. Iran tidak hidup dari kekuatan sesaat, tapi dari ingatan panjang tentang siapa dirinya.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






