Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Kesetiaan seorang lelaki bukan semata urusan cinta personal atau hubungan privat antara dua individu. Ia adalah pelajaran moral yang jauh lebih luas, terutama bagi setiap pria dan anak laki-laki Indonesia. Kesetiaan mengajarkan bagaimana seseorang mengendalikan diri, menghormati perempuan, serta menjaga martabat bangsa melalui sikap dan perilaku seksual yang bertanggung jawab. Dalam kesetiaan, terdapat disiplin batin, etika sosial, dan kesadaran bahwa setiap tindakan personal memiliki dampak kolektif.
Maraknya kasus pemerkosaan dan pelecehan terhadap perempuan Indonesia tidak dapat dipandang sebagai kejahatan individual semata. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah perendahan harkat dan martabat bangsa. Ia mencerminkan kegagalan nilai, rapuhnya pendidikan moral, dan runtuhnya etika maskulinitas yang seharusnya hadir untuk melindungi, bukan melukai. Ketika tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek, maka yang runtuh bukan hanya martabat korban, tetapi juga martabat sosial pelaku dan lingkungan yang membiarkannya.
Dalam masyarakat yang beradab, kehormatan seorang pria terletak pada kesetiaannya. Setia pada pasangan, setia pada janji, dan setia pada nilai yang diyakini. Kesetiaan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan karakter. Ia menuntut pengendalian diri, keberanian untuk berkata cukup, serta kesadaran bahwa hasrat tidak boleh mengalahkan akal sehat dan tanggung jawab moral.
Teladan tentang kesetiaan dan pengendalian diri dapat ditemukan dalam kehidupan para pendiri bangsa. Mohammad Natsir, Bung Hatta, H. Agus Salim, hingga Abdurrahman Wahid adalah contoh lelaki yang memahami bahwa kekuasaan tanpa akhlak hanyalah kebuasan yang dilegalkan. Mereka tidak hanya berbicara tentang moral, tetapi menjalaninya dalam kehidupan pribadi dan sikap publik. Kesederhanaan, kesetiaan pada pasangan, serta integritas pribadi menjadi fondasi kepercayaan rakyat kepada mereka.
Kesetiaan pada pasangan dan kemampuan menjaga perilaku bukan persoalan moral pribadi semata. Ia adalah ukuran sejati kualitas kepemimpinan seorang pria. Lelaki yang gagal mengendalikan dirinya sendiri tidak akan pernah layak dipercaya untuk mengendalikan kekuasaan. Sebab kekuasaan selalu memperbesar watak asli seseorang. Jika watak itu rapuh, penuh nafsu, dan miskin tanggung jawab, maka kekuasaan hanya akan melahirkan kerusakan yang lebih luas.
Dalam konteks ini, pendidikan kesetiaan menjadi sangat penting. Anak laki-laki perlu diajarkan sejak dini bahwa menjadi pria bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan mampu mengendalikan diri dan bertanggung jawab atas setiap tindakan. Maskulinitas sejati bukan terletak pada dominasi, melainkan pada kemampuan melindungi, menghormati, dan bersikap adil. Lelaki yang beradab adalah mereka yang menjadikan perempuan sebagai subjek yang setara, bukan objek pemuas hasrat.
📚 Artikel Terkait
Lebih jauh lagi, kesetiaan tertinggi seorang lelaki adalah kesetiaan pada rakyat. Kesetiaan ini terwujud dalam keberpihakan kepada yang lemah, perlindungan terhadap yang rentan, dan keberanian berdiri membela keadilan, meski harus berjalan sendirian. Kesetiaan semacam ini menuntut pengorbanan, keteguhan prinsip, dan kesiapan menghadapi risiko sosial maupun politik.
Sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini dibangun bukan oleh mereka yang paling keras suaranya, tetapi oleh mereka yang paling setia pada nilai. Setia pada kebenaran, setia pada keadilan, dan setia pada kemanusiaan. Ketika kesetiaan itu runtuh, maka yang muncul adalah kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan hilangnya rasa aman, terutama bagi perempuan dan kelompok rentan.
Oleh karena itu, membicarakan kesetiaan lelaki sejatinya adalah membicarakan masa depan bangsa. Bangsa yang besar membutuhkan pria-pria yang berkarakter, bukan sekadar berkuasa. Pria-pria yang mampu mengendalikan dirinya, menghormati perempuan, dan menempatkan kekuasaan sebagai amanah, bukan alat pemuas ego.
Kesetiaan bukan slogan, melainkan laku hidup. Ia hadir dalam keputusan sehari-hari, dalam cara memandang lawan jenis, dalam kesediaan menahan diri, dan dalam keberanian untuk bertanggung jawab. Dari kesetiaan itulah martabat bangsa dijaga, dan dari situlah kepemimpinan yang bermoral dapat tumbuh.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu siluet cinta, pelangi rindu.
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi siluet cinta, pelangi rindu karya Novita sari yahya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






