Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Tanggal 11 Januari 2026, majalah POTRET genap berusia 23 tahun. Di usia yang tak lagi muda bagi sebuah media, tak ada pesta megah, tak ada gegap gempita, tak ada baliho raksasa atau ucapan selamat yang berseliweran di halaman-halaman media. Tak ada kue ulang tahun, tak ada panggung perayaan. POTRET merayakan hari lahirnya dalam sepi dan senyap.
Namun, justru dalam kesenyapan itulah, gema perjuangan POTRET terdengar paling nyaring. Karena sejak awal, POTRET memang tak pernah lahir untuk menjadi sorotan. Ia tumbuh dari tanah yang sunyi—dari rahim keprihatinan, dari suara-suara yang nyaris tak terdengar: suara perempuan akar rumput di Aceh.
🌱 Dari Keprihatinan Menjadi Gerakan
POTRET pertama kali terbit pada 11 Januari 2003, bukan dari ruang redaksi mewah, melainkan dari ruang-ruang pelatihan sederhana yang digagas oleh Center for Community Development and Education (CCDE). Kala itu, 25 perempuan dari enam kabupaten di Aceh dilatih menulis—bukan untuk menjadi wartawan, tetapi untuk menjadi penyaksi dan penyampai kisah mereka sendiri.
Di tengah dominasi media arus utama yang kerap menempatkan perempuan hanya sebagai objek, POTRET hadir sebagai ruang alternatif. Sebuah panggung kecil namun bermakna, tempat perempuan bisa menulis, bersuara, dan menyuarakan. Bukan sekadar tentang isu perempuan, tapi tentang kehidupan, perjuangan, harapan, dan perubahan.
✍️ Menulis untuk Mengubah Dunia
Selama 23 tahun, POTRET telah menjadi rumah bagi ratusan tulisan perempuan dari berbagai latar belakang—petani, buruh, aktivis, ibu rumah tangga, guru, hingga remaja. Dari tulisan-tulisan sederhana yang lahir dari hati, POTRET membangun gerakan literasi yang membumi dan membebaskan.
📚 Artikel Terkait
POTRET tidak hanya mencetak halaman demi halaman, tetapi juga mencetak keberanian. Ia menghidupkan semangat menulis di desa-desa, di pelosok-pelosok yang jauh dari pusat perhatian. Ia menjadi saksi bisu dari perubahan sosial yang pelan tapi pasti: perempuan yang dulu diam, kini menulis. Yang dulu ragu, kini bersuara.
🌐 Dari Kertas ke Layar: Evolusi yang Tetap Membumi
Seiring waktu, POTRET tak tinggal diam. Ia bertransformasi dari media cetak sederhana menjadi platform digital yang menjangkau lebih luas. Kini, siapa pun bisa membaca POTRET dari mana saja, kapan saja. Namun, semangatnya tetap sama: menyuarakan yang tak terdengar, menyalakan cahaya di tempat yang gelap.
POTRET bukan sekadar media. Ia adalah gerakan. Ia adalah ruang aman. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah-wajah perempuan yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang.
🌸 Sepi yang Penuh Makna
Maka, ketika ulang tahun ke-23 ini datang tanpa pesta, tanpa spanduk, tanpa sorotan, itu bukanlah kesedihan. Itu adalah pengingat bahwa POTRET tidak pernah lahir untuk dipuja, melainkan untuk bekerja. Untuk terus menulis, mendengar, dan menemani.
Sepi dan senyap bukan berarti sunyi. Karena di baliknya, ada gema yang terus bergema di hati para perempuan yang pernah menulis, membaca, dan terinspirasi oleh POTRET.
Selamat ulang tahun, POTRET. Perjuangan masih berat dan panjang. Perjuangan masih belum selesai, walau hambatan dan tantangan begitu besar di depan mata. Jangan pernah berhenti membangun dan membumikan literasi si kalangan anak negeri. Tugas berat adalah mengubah perilaku anak negeri yang minat membacanya berada pada titik nadir, tidak ubahnya seperti kata orang bahwa minat membaca dan menulis anak negeri saat ini, bagaikan bunga nan layu sebelum berkembang. Oleh sebab itu, harapan kepada POTRET, teruslah menjadi cahaya kecil yang tak padam. Karena dari cahaya-cahaya kecil seperti inilah, terang masa depan bangsa bisa menyala. Sehingga tidak lagi melahirkan genarasi yang miskin kemampuan literasi, tetapi memiliki kemampuan yang tinggi. Selamat Ulang Tahun POTRET. Semoga terus membahagiakan para pembaca dan penulis di seluruh pelosok negeri dan luar negeri.
—

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





