Dengarkan Artikel
Oleh: Nurkhalis Muchtar
(Dosen HES Pascasarjana IIQ Jakarta)
Rasul telah memberikan tuntunan yang jelas bagaimana mengabdi kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh dan dengan amalan yang dicintai oleh Nya. Salah satunya adalah memakmurkan masjid. Nabi Muhammad SAW menyebutkan dalam sabdanya bahwa ada tujuh golongan umat manusia kelak di hari kiamat akan mendapatkan naungan dari Allah SWT ketika tidak ada naungan, kecuali hanya naungan Allah SWT.
Sabda Nabi SAW “seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid”. Naungan yang dijanjikan bagi orang-orang yang memakmurkan masjid dan terpaut hati dengan masjid. Bayangkan pada hari kiamat kelak, ketika umat manusia sangat membutuhkan perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT, maka orang yang terpaut hatinya dengan masjid mendapat anugerah naungan tersebut.
Sehingga tidak berlebihan apabila Allah SWT memuji para hamba-Nya yang memakmurkan masjid dengan firman-Nya “sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid adalah orang yang beriman kepada Allah SWT, beriman kepada hari akhir, mereka medirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kecuali hanya kepadaAllah SWT…(Attaubah: 17)”.
Dalam terjemahan ayat Attaubah ayat 17 tersebut dengan jelas Allah SWT mengkhususkan para hamba yang memakmurkan masjid termasuk dalam golongan para hamba pilihan.
Adapun mengenai makna memakmurkan masjid, menurut ulama ahli tafsir kontemporer Syeikh Muhammad Ali Sabouni dalam karyanya Rawa’iul Bayan Tafsir Ayat Ahkam menafsirkan bahwasanya makna dari memakmurkan masjid mencakup dua makna utama secara gari besar. Pertama, makna yang identik dengan memakmurkan masjid ialah dengan cara membangun masjid, baik dengan cara memperbaiki masjid yang rusak, mengecat yang kusam dan hal-hal yang lain terkait dengan pembangunan fisik dari bangunan masjid.
Hal ini juga diperkuat dengan dalil hadis bahwa barangsiapa yang membangun rumah Allah SWT yaitu masjid, maka Allah SWT akan membangun rumahnya di surga. Tentu balasan yang diberikan adalah ganjaran yang istimewa yang diberikan oleh Allah SWT.
Sedangkan makna yang kedua dari memakmurkan masjid ialah mengisi masjid dengan berbagai agenda ibadah seperti shalat berjamaah, mengadakan pengajian, membuat acara keagamaan dan hal-hal positif lainnya.
Terkait surat Attaubah ayat 17-18 dijelaskan bahwa sebab turunnya kedua ayat tersebut diriwayatkan bahwa sekelompok orang kafir Quraisy yang ditawan dalam perang Badar, mereka para tawanan tersebut membela diri dengan mengatakan bahwa merekalah yang selama ini menjaga Ka’bah Baitullah dengan memberikan minuman kepada orang-orang yang datang beribadah pada masa jahiliyah dengan mengelilingi patung-patung yang ada.
Sehingga Allah SWT menurunkan firman-Nya untuk membantah argumen dan pandangan orang-orang kafir Quraisy dengan menyebutkan bahwa hanya orang yang beriman saja yang memakmurkan masjiddengan sebenarnya.
📚 Artikel Terkait
Selain itu, dalam surat Attaubah ayat 17-18 juga membahas mengenai pesan penting lainnya yang pantut direnungkan dan menjadi Pelajaran untuk semua. Di antara pesannya adalah: bahwa keimanan kepada Allah SWT merupakan modal utama dan syarat diterima setiap amalkebaikan yang dilaksanakan, sehingga amalan dari orang yang tidak beriman akan sia-sia diibaratkan seperti debu yang beterbangan.
Pesan penting lainnya adalah bahwa orang yang sungguh-sungguh dalam memakmurkan masjid termasuk orang yang bagus keimanannya, dan termasuk orang-orang yang telah mengagungkan tempat yang dimuliakan oleh Allah SWT yaitu masjid-Nya. Serta poin penting lainnya, masjid yang dibangun hanya semata-mata mencari karuniaAllah SWT, mencari ridha dan kasih sayang-Nya. Karena kemuliaan hanyalah semata-mata berasal dan milik Allah SWT. Tidak bertujuan untuk ria, kemegahan dan kesombongan.
Sehingga tidak berlebihan apabila Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah, dalam beberapa hari perjalanannya dari Makkah ke Madinah menempuh rute yang tidak biasa ditempuh oleh para pedagang, jalan di pinggir laut merah, Rasulullah SAW yang ditemani Abu Bakar Shiddiq dengan penunjuk jalan Abdullah ibnu Uraiqith menempuh perjalanan sebelas hari yang dimulai dengan satu Rabiul Awal, sampai di Madinah pada hari kedua belas Rabiul Awal.
Dalam perjalanan hijrahnya ada pelajaran penting yang patut diperhatikan, bahwa Rasulullah SAW membangun tiga buah masjid yang masih ada sampai sekarang di Madinah. Masjid yang beliau bangun adalah Masjid Quba, Masjid Bani Salim dan Masjid Nabawi. Ini menunjukkan kepada kita bahwa betapa masjid memiliki peran penting dalam membangun peradaban Islam.
Sebagaimana disampaikanoleh ulama Syiria Syekh Musthafa Siba’i dalam karyanya Sirah Nabawiyah Durus Wa’ Ibar bahwa masjid memiliki berbagai fungsi yang sangat beragam dan komprehensif. Di dalam masjid ada ibadah yang dilaksanakan untuk membersihkan jiwa, memperbaiki akhlak dan budi pekerti, mengokohkan ukhuwah Islamiyah antar sesama, pelaksanaan shalat jum’at, hari raya, jama’ah dan menggambarkan solidnya persatuan dan kesatuan antar umatIslam, kesatuan ide dan pandangan, serta saling tolong-menolong atas dasar ketaqwaan kepada Allah SWT.
Juga dalam rentang sejarah umat Islam, masjid memiliki kedudukan yang sangat penting, dimana Rasulullah SAW mempersiapkan generasi tangguh para sahabat yang menyebar ke seluruh penjuru untuk membawa Islam sebagai agama yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman.
Dari dalam masjid cahaya hidayah petunjuk menyebar ke seluruh semesta, bahkan generasi terbaik dari kalangan para sahabat Nabi SAW semuanya berasal daritempaan Rasulullah SAW di Masjid Nabawi. Sebut saja di antara para sahabat misalnya: Abu Bakar Shiddiq, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib.
Adapula sahabat-sahabat Nabi lainnya yang menjadikan masjid sebagai tempat mereka menimba ilmu pengetahuan, seperti Abdullah Ibnu Abbas yang ahli dalam tafsir Al-Qur’an, ada Abu Hurairah yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW, dan adapula Muaz ibnu Jabal yang diutus oleh Rasulullah SAW untuk menjadi qadhi yang memutuskan hukum untuk penuduk Yaman. Semuanya adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang digembleng di dalam masjid.
Pesan penting lainnya adalah bahwa masjid menjadi sentral dan tempat berkumpulnya umat Islam, ada banyak poin penting menyangkut keagamaan yang disampaikan oleh para guru dan ulama di dalam masjid/ Sehingga masjid menjadi tempat untuk terwujudnya peradaban dalam tatanan umat Islam.
Tolak ukur kemakmuran masjid juga bisa menjadi standar maju dan tidak majunya sebuah wilayah, atau bahkan makmur dan tidak makmurnya sebuah wilayah juga terkait dengan masjid.
Seorang sahabat Rasulullah SAW yang dikenal dengan kegigihannya dalam menuntut ilmu sehingga pada masa berikutnya menjadi seorang yang sangat ahli dalam bidang hadis dan menjadi rujukan para sahabat ialah Abu Hurairah.
Selama empat tahun Abu Hurairah mendampingi Rasulullah SAW kemanapun Rasul hadir dipastikan ada Abu Hurairah kecuali apabila Rasul masuk ke dalam rumah maka Abu Hurairah berada di Masjid. Dengan segala keterbatasan Abu Hurairah melewatinya yang mengantarkan beliau menjadi ulama hadis sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis lebih dari lima ribu hadis. Abu Hurairah menetap dan tinggal di masjid yang disebut ahlussuffah.
Dan banyak kisah para sahabat lainnya yang tidak mungkin disampaikan dalam tulisan yang terbatas ini, namun tentu menyampaikan kepada kita semua sebuah pesan penting, betapa istimewanya masjid bagi generasi emas para sahabat Nabi SAW yang mulia dan utama.
Maka kita sampai kepada poin penting diakhir tulisan ini bahwasanya sejarah umat Islam pada era kejayaan tidak bisa terlepas dari peran masjid sebagai sentral, benteng bagi tersebarnya kebudayaan Islam, dan menjadi tempat mercusuar penyebaran ilmu pengetahuan, bahkan bisa disebut sebagai universitas pertama di dalam Islam yaitu masjid.
Rasulullah SAW sebagai figur panutan dan idola kita, telah menjadikan masjid sebagai tempat bagi pendidikan dan pengajaran, dimana beliau mengajarkan Al Qur’an kepada para sahabat, mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama dengan perkataan dan perbuatannya yang menjadi inspirasi bagi generasi ke generasi yang terus berlanjut pada Dinasti Umayyah, Abbasiyah, sebagaimana dilanjutkan oleh para ulama-ulama besar dan para mujtahidin yang membawa obor dan lentera hidayah ke seluruh alam. Berawal semuanya dari masjid. Juga hadirnya imam-imam besar seperti Imam Syafi’i, Imam Malik. Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah serta para imam besar lainnya semuanya adalah hasil dari didikan di dalam masjid.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






