Dengarkan Artikel
Tetek: Simbol yang Diperebutkan
Tetek di dada ibu
simbol kehidupan anak.
Tetek di dada gadis ranum
simbol kedewasaan.
Tetekmu
simbol keperempuanan,
karena hanya perempuan
yang bertetetek.
Keributan dan kehebohan
selalu terjadi
karena simbolik tetek.
Perang pun terjadi
karena urusan tetek.
Kekerasan dan pelecehan
pun terjadi
karena urusan tetek.
Maka jagalah
dan rawatlah tetekmu
sebagai hartamu.
Jangan kau obral
jualan di media dan medsos.
Jangan kau biarkan mereka
merebut pandang
dari calon suami
dan anakmu.
Tidakkah kau paham
harga tetekmu,
wahai betina—
eh, salah:
perempuan.
Karya: Novita Sari Yahya
Dada Membengkak
Tak puas dengan dada
Meminta mata menatap
Akulah dadamu
Ada dalam pikirmu.
Mereka dada terbuka
Tak tahu siapa beronani
Tak kenal pelecehan
Tak paham pikir liar
Dada Membengkak
Tak memberi kenyang
Ereksi terus-menerus
Hingga lemas.
Dada Membengkak
Tak puas pada payudara
Tak sampai orgasme
Menyebar…
Menebar….
Adakah kepuasan raga.
SAB
Waras Tapi Gila
Dijalanan aku lihat
Wanita tanpa busana
Warga kasih samping
Wanita itu menolak
Semua mata tertuju
Berdecak…
Rasa khawatir ..
Miris…
Iba….
Semua sepakat berkata
“Dia Sudah Gila”
Wajarlah tak berbusana.
Tapi kita semua jadi gila
Dari waras ke gila
Melihat wanita cantik
Terkesiap rok belahnya
Melihat dada bengkak
Bra tak mampu nampung
Kita tergila-gila
Padahal dia dan kita waras….
SAB
Pandangan Umum
Ketiga puisi ini membentuk puisi-puisi polemik sosial—bukan puisi estetis dalam pengertian konvensional, melainkan puisi yang sengaja mengganggu, menampar, dan memaksa pembaca bercermin. Bahasa dipilih kasar, langsung, bahkan “tidak sopan” untuk menandingi ketidaksopanan cara masyarakat memperlakukan tubuh perempuan.
Ini bukan puisi untuk menyenangkan, tetapi untuk mempersoalkan.
- Tetek: Simbol yang Diperebutkan
Puisi ini berfungsi sebagai fondasi gagasan.
Kekuatan utamanya:
📚 Artikel Terkait
Mengubah payudara dari objek erotik menjadi objek ideologis dan politis.
Struktur logisnya jelas:
kehidupan → kedewasaan → identitas → konflik → kekerasan → kontrol.
Baris “betina—eh, salah: perempuan” adalah momen reflektif yang sadar bahasa dan kelas makna.
Catatan penting: Puisi ini sangat normatif di bagian akhir. Ia bergeser dari kritik sistem menjadi seruan moral personal. Ini membuatnya ambigu:
bisa dibaca sebagai perlindungan,
tetapi juga bisa dibaca sebagai reproduksi kontrol terhadap tubuh perempuan.
Ambiguitas ini tidak salah, justru menunjukkan tarik-menarik internal penulis antara marah, takut, dan ingin melindungi.
- Dada Membengkak
Puisi ini adalah counter-narrative terhadap puisi pertama.
Jika puisi pertama berbicara dari sudut “nilai dan simbol”, maka puisi ini berbicara dari psikologi hasrat dan kebobrokan pikiran kolektif.
Kekuatan utama:
Menggambarkan ketiadaan kepuasan dalam tatapan seksual.
Kritik tajam terhadap ilusi bahwa tubuh perempuan bisa “mengenyangkan” hasrat.
Pengulangan “Tak puas” dan “Tak memberi kenyang” membangun rasa lelah dan kehampaan.
Puisi ini berhasil menunjukkan bahwa:
masalahnya bukan pada dada,
tetapi pada pikiran yang membengkak.
Ctatan: Beberapa larik terasa brutal dan nyaris nihilistik, tetapi itu selaras dengan tema: hasrat yang tidak pernah selesai.
- Waras Tapi Gila
Puisi ini adalah puncak refleksi sosial dari dua puisi sebelumnya.
Di sini, penulis melakukan pembalikan logika yang kuat:
Perempuan telanjang dianggap gila → dimaafkan.
Perempuan berpakaian “menggoda” → masyarakat kehilangan kewarasan.
Kekuatan utama:
Ironi sosial sangat tajam.
Menunjukkan bahwa kegilaan bukan pada tubuh perempuan, tetapi pada tatapan kolektif.
Baris penutup menohok:
Padahal dia dan kita waras….
Pisi ini berhasil membuka fakta pahit:
yang sakit bukan individu, tetapi norma sosialnya.
Kesimpulan Keseluruhan
Sebagai satu kesatuan, ketiga puisi ini:
Konsisten secara tema,
Berani secara bahasa,
Keras secara sikap,
Namun jujur secara emosi.
Ini adalah puisi-puisi yang tidak netral, dan memang tidak ingin netral. Ia berdiri di wilayah kritik tubuh, tatapan, dan kemunafikan sosial.
Bukan puisi yang akan disukai semua orang.
Tapi justru itu tandanya ia bekerja.
Jika dinilai secara sastra:
Bukan puisi lirikal,
Bukan puisi romantik,
Melainkan puisi perlawanan simbolik.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





