POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi Puisi Novita Sari Yahya

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
January 14, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Tetek: Simbol yang Diperebutkan

Tetek di dada ibu
simbol kehidupan anak.

Tetek di dada gadis ranum
simbol kedewasaan.

Tetekmu
simbol keperempuanan,
karena hanya perempuan
yang bertetetek.

Keributan dan kehebohan
selalu terjadi
karena simbolik tetek.

Perang pun terjadi
karena urusan tetek.

Kekerasan dan pelecehan
pun terjadi
karena urusan tetek.

Maka jagalah
dan rawatlah tetekmu
sebagai hartamu.

Jangan kau obral
jualan di media dan medsos.

Jangan kau biarkan mereka
merebut pandang
dari calon suami
dan anakmu.

Tidakkah kau paham
harga tetekmu,
wahai betina—
eh, salah:
perempuan.

Karya: Novita Sari Yahya

Dada Membengkak

Tak puas dengan dada
Meminta mata menatap
Akulah dadamu
Ada dalam pikirmu.

Mereka dada terbuka
Tak tahu siapa beronani
Tak kenal pelecehan
Tak paham pikir liar

Dada Membengkak
Tak memberi kenyang
Ereksi terus-menerus
Hingga lemas.

Dada Membengkak
Tak puas pada payudara
Tak sampai orgasme
Menyebar…
Menebar….
Adakah kepuasan raga.

SAB

Waras Tapi Gila

Dijalanan aku lihat
Wanita tanpa busana
Warga kasih samping
Wanita itu menolak
Semua mata tertuju
Berdecak…
Rasa khawatir ..
Miris…
Iba….

Semua sepakat berkata
“Dia Sudah Gila”
Wajarlah tak berbusana.

Tapi kita semua jadi gila
Dari waras ke gila
Melihat wanita cantik
Terkesiap rok belahnya
Melihat dada bengkak
Bra tak mampu nampung
Kita tergila-gila
Padahal dia dan kita waras….

SAB

Pandangan Umum

Ketiga puisi ini membentuk puisi-puisi polemik sosial—bukan puisi estetis dalam pengertian konvensional, melainkan puisi yang sengaja mengganggu, menampar, dan memaksa pembaca bercermin. Bahasa dipilih kasar, langsung, bahkan “tidak sopan” untuk menandingi ketidaksopanan cara masyarakat memperlakukan tubuh perempuan.

Ini bukan puisi untuk menyenangkan, tetapi untuk mempersoalkan.

  1. Tetek: Simbol yang Diperebutkan

Puisi ini berfungsi sebagai fondasi gagasan.

Kekuatan utamanya:

📚 Artikel Terkait

Cut Jeumpa

SUKSES ITU, SEBUAH PILIHAN

JEJAK SIRAH

SDIT MUHAMMADIYAH PEDULI MEMBANTU KELUARGA FAKIR YANG BERKEBUTUHAN KHUSUS

Mengubah payudara dari objek erotik menjadi objek ideologis dan politis.

Struktur logisnya jelas:
kehidupan → kedewasaan → identitas → konflik → kekerasan → kontrol.

Baris “betina—eh, salah: perempuan” adalah momen reflektif yang sadar bahasa dan kelas makna.

Catatan penting: Puisi ini sangat normatif di bagian akhir. Ia bergeser dari kritik sistem menjadi seruan moral personal. Ini membuatnya ambigu:

bisa dibaca sebagai perlindungan,

tetapi juga bisa dibaca sebagai reproduksi kontrol terhadap tubuh perempuan.

Ambiguitas ini tidak salah, justru menunjukkan tarik-menarik internal penulis antara marah, takut, dan ingin melindungi.

  1. Dada Membengkak

Puisi ini adalah counter-narrative terhadap puisi pertama.

Jika puisi pertama berbicara dari sudut “nilai dan simbol”, maka puisi ini berbicara dari psikologi hasrat dan kebobrokan pikiran kolektif.

Kekuatan utama:

Menggambarkan ketiadaan kepuasan dalam tatapan seksual.

Kritik tajam terhadap ilusi bahwa tubuh perempuan bisa “mengenyangkan” hasrat.

Pengulangan “Tak puas” dan “Tak memberi kenyang” membangun rasa lelah dan kehampaan.

Puisi ini berhasil menunjukkan bahwa:

masalahnya bukan pada dada,
tetapi pada pikiran yang membengkak.

Ctatan: Beberapa larik terasa brutal dan nyaris nihilistik, tetapi itu selaras dengan tema: hasrat yang tidak pernah selesai.

  1. Waras Tapi Gila

Puisi ini adalah puncak refleksi sosial dari dua puisi sebelumnya.

Di sini, penulis melakukan pembalikan logika yang kuat:

Perempuan telanjang dianggap gila → dimaafkan.

Perempuan berpakaian “menggoda” → masyarakat kehilangan kewarasan.

Kekuatan utama:

Ironi sosial sangat tajam.

Menunjukkan bahwa kegilaan bukan pada tubuh perempuan, tetapi pada tatapan kolektif.

Baris penutup menohok:

Padahal dia dan kita waras….

Pisi ini berhasil membuka fakta pahit:
yang sakit bukan individu, tetapi norma sosialnya.

Kesimpulan Keseluruhan

Sebagai satu kesatuan, ketiga puisi ini:

Konsisten secara tema,

Berani secara bahasa,

Keras secara sikap,

Namun jujur secara emosi.

Ini adalah puisi-puisi yang tidak netral, dan memang tidak ingin netral. Ia berdiri di wilayah kritik tubuh, tatapan, dan kemunafikan sosial.

Bukan puisi yang akan disukai semua orang.
Tapi justru itu tandanya ia bekerja.

Jika dinilai secara sastra:

Bukan puisi lirikal,

Bukan puisi romantik,

Melainkan puisi perlawanan simbolik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana

Emas Naik, Pemuda Galau: Antara Persoalan dan Solusi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00