Dengarkan Artikel
Oleh Yusriman
Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Andalas
Man tumbuh di sebuah kampung kecil yang jalannya lebih sering berlumpur daripada berdebu. Rumahnya berdinding papan, beratap seng berkarat, dan berdiri tepat di tepi sawah. Setiap pagi, suara ayam dan derit pintu kayu menjadi alarm alami sebelum matahari benar-benar terbit.
Ayah Man bekerja sebagai buruh angkut di pasar, sementara ibunya menjahit pakaian tetangga dengan mesin tua yang suaranya sudah seperti batuk orang sakit. Uang tidak pernah benar-benar cukup, tetapi ibunya selalu berkata,
“Selama masih bisa makan dan sekolah, kita belum kalah.”
Sejak SD, Man sudah memahami arti menahan keinginan. Ia jarang membeli jajan, memilih menabung seratus atau dua ratus rupiah dari sisa uang saku. Buku tulisnya sering penuh coretan karena dipakai hingga lembar terakhir. Namun Man dikenal sebagai anak yang tekun. Ia tidak paling pintar, tetapi selalu ingin mengerti.
Jika tidak paham, ia akan bertanya, mencatat, lalu mengulanginya sendiri di rumah dengan cahaya lampu minyak.
Saat lulus SD, banyak teman Man yang berhenti sekolah. Ada yang ikut orang tua ke sawah, ada yang merantau menjadi kuli bangunan. Man hampir bernasib sama. Ayahnya sempat ragu, bukan karena tak ingin, tetapi karena tak sanggup. Namun Man memohon dengan cara yang sederhana: ia berjanji akan berjalan kaki ke sekolah dan tidak meminta uang jajan.
Akhirnya ia diterima di SMP negeri di kecamatan, lima kilometer dari rumah.
Setiap pagi Man berangkat sebelum matahari naik, membawa tas lusuh dan bekal nasi dengan garam. Hujan dan panas tidak pernah menjadi alasan. Di sekolah, ia sering mengantuk, tetapi nilainya selalu stabil. Pak Ranu, guru matematika, melihat kesungguhan Man dan sering memberinya soal tambahan.
“Kamu ini bukan pintar, Man,” kata Pak Ranu suatu hari, “tapi kamu tahan banting.”
Lulus SMP, Man ingin melanjutkan ke SMA. Biaya pendaftaran menjadi momok. Ayahnya terdiam lama saat Man menyampaikan keinginannya.
“Ayah takut kamu kecewa,”
📚 Artikel Terkait
katanya pelan. Malam itu Man tidak tidur. Ia menulis surat sederhana kepada kepala sekolah SMA negeri di kota kecil, menjelaskan keadaannya dan melampirkan fotokopi rapor.
Beberapa hari kemudian, jawaban datang: Man diterima dengan keringanan biaya. Di SMA, hidup Man semakin padat. Sepulang sekolah, ia membantu tetangga mengangkut pasir, mengantar galon, atau membersihkan kios. Malam hari ia belajar sambil menahan kantuk. Seragamnya mulai pudar warnanya, tetapi prestasinya justru meningkat. Ia mulai bermimpi lebih jauh kuliah. Sebuah mimpi yang terdengar terlalu tinggi bagi anak buruh angkut pasar.
Ketika Man lulus SMA, ayahnya jatuh sakit. Penghasilan keluarga menurun drastis. Kuliah terasa seperti sesuatu yang mustahil. Namun Man diam-diam mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Ia memilih sebuah kampus besar di kota, yang selalu ia sebut dalam hati sebagai
“kampus di seberang sungai”
Seolah nama aslinya terlalu sakral untuk diucapkan. Tak disangka, ia diterima.
Masalah datang bertubi-tubi, biaya daftar ulang, kos, makan, buku. Man hampir menyerah. Ia bahkan sempat berniat menolak. Namun ibunya menjual mesin jahit tua satu-satunya alat penghasilan mereka demi biaya awal kuliah.
“Ibu bisa menjahit lagi nanti,” katanya, meski Man tahu itu bohong yang paling tulus.
Kuliah mengajarkan Man arti kesepian. Di kos sempit berdinding papan, ia hidup dengan mie instan dan air putih. Ia bekerja sebagai penjaga perpustakaan, pengetik tugas, dan buruh angkut saat akhir pekan. Di kampus, Man bertemu Sari, teman sekelas yang sering membantunya memahami materi. Sari tidak banyak bertanya tentang hidup Man, seolah mengerti bahwa beberapa cerita lebih baik disimpan.
Empat tahun berjalan lambat dan melelahkan. Wisuda S1 berlangsung sederhana. Man duduk di barisan belakang, mengenakan toga pinjaman, tetapi matanya berkaca-kaca. Ia telah sampai sejauh ini dengan kakinya sendiri.
Setelah lulus, Man tidak langsung bermimpi lebih tinggi. Ia bekerja apa saja: staf administrasi, guru les, asisten proyek kecil. Dua tahun ia menabung dengan disiplin ketat. Saat teman-temannya membeli motor atau menikah, Man menyimpan uangnya di amplop cokelat bertuliskan “S2”.Keputusan melanjutkan S2 bukan keputusan yang mudah. Banyak orang berkata itu tidak perlu. “Sudah kerja saja, Man,” kata mereka.
Namun Man tahu, ada janji lama yang belum lunas. Ia mendaftar kembali ke kampus yang sama, tetap dengan nama yang ia samarkan dalam cerita hidupnya.
S2 jauh lebih berat. Bacaan tebal, diskusi panjang, dan tuntutan akademik yang tinggi. Man merasa kecil di antara mahasiswa lain yang datang dari keluarga mapan. Tabungannya habis di semester kedua. Ia hampir mengundurkan diri, sampai Bu Lestari, dosen pembimbingnya, menawarinya menjadi asisten riset. Honor itu tidak besar, tetapi cukup untuk bertahan.
Man belajar bukan lagi demi nilai, melainkan demi makna. Ia menulis tesis dengan sungguh-sungguh, menghubungkan teori dengan realitas hidup yang ia kenal sejak kecil. Saat sidang tesis, Man menjawab dengan tenang, meski tangannya gemetar.
Ketika penguji mengangguk, Man tahu satu fase hidupnya selesai. Hari wisuda S2 datang tanpa sorak-sorai. Tidak ada keluarga besar, tidak ada bunga. Man berdiri sendiri, menatap langit-langit gedung, mengenang jalan tanah merah, sepatu jebol, dan mesin jahit tua. Semua lelahnya terasa lunas.
Man tersenyum kecil. Ia bukan siapa-siapa. Namun ia telah membuktikan satu hal: mimpi tidak selalu butuh sayap, kadang cukup kaki yang terus melangkah.
Biodata
Yusriman. Seorang penulis asal Sumatera Barat, Pasaman Barat. Beliau seorang mahasiswa S2 kajian budaya, aktif dalam perhimpunan seminar internasional dan nasional. Dibuktikan dengan prestasi dan sertifikat yang telah didapatkan. Beliau juga aktif dalam perkembangan menjadi pembicara di berbagai daerah. Karya-karya beliau tersebar luas di cetak maupun online.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






