Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
„Tragedi bukanlah kepasrahan: tragedi adalah perayaan kehidupan di hadapan kematian. Tragedi adalah penegasan martabat manusia di tengah penderitaan.” — Walter Kaufmann(1921-1980), Tragedy and Philosophy(1968;1992).
Bencana Sumatra bukan cuma perkara tragedi alam dalam pengertian kodrati. Karena itu, banyak perspektif yang bisa dikedepankan sebagai refleksi filsafat estetika maupun teologis.
Salah satu perspektif beranjak dari sisi manusiawi dari bencana Sumatra yang direkam dalam 24 lukisan karya Denny JA dan bernaung bersama genre Imajinasi Nusantara dengan dukungan asisten AI.
Lukisan-lukisan ini tidak sekadar menjadi dokumentasi visual atas tragedi, melainkan sebuah upaya kreasi estetis untuk menyalurkan duka kolektif ke dalam bahasa rupa.
Di sini, seni berfungsi sebagai medium pengingat sekaligus pengolah trauma, menghadirkan wajah manusia yang rapuh namun tetap berusaha bangkit dari reruntuhan.
Dalam pendekatan kritik seni kontemporer, 24 karya senirupa ini dapat dibaca melalui kritik Hal Foster(70), aktif sebagai kritikus seni dan sejarawan seni di Princeton University dalam The Return of the Real(1996).
Foster menekankan bagaimana seni kontemporer sering kembali pada realitas yang traumatis, menghadirkan luka sosial sebagai bagian dari prinsip estetika.
Lukisan-lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis jelas menegaskan hal ini: realitas bencana tidak ditutupi, melainkan dihadirkan dengan intensitas tragis yang memaksa publik penyaksi untuk berhadapan langsung dengan penderitaan.
Estetika tragis di sini bukan sekadar gaya(stylus), melainkan strategi untuk mengembalikan realitas telanjang — the return of the real menurut Foster — yang sering diabaikan paska peristiwa.
Mengacu pada Rosalind Krauss(84), aktif sebagai kritikus seni, sejarawan seni, dan profesor di Columbia University, dalam The Originality of the Avant-Garde and Other Modernist Myths(1985), mengkritik mitos orisinalitas dalam estetika senirupa posmodern dan menekankan pentingnya struktur serta repetisi dalam seni modern.
📚 Artikel Terkait
Jika kita mencermati 24 lukisan Denny JA, repetisi tema penderitaan dan wajah-wajah manusia yang dilukiskan dalam berbagai pose bukanlah kelemahan, melainkan penguatan atas makna di balik realitas tragis.
Dengan mengulang motif tangisan, reruntuhan, dan tubuh yang kehilangan, Denny JA menegaskan bahwa tragedi bukanlah peristiwa tunggal, melainkan pengalaman kolektif yang terus berulang dalam sejarah manusia.
Lain pula kritik estetika tragis dari Benjamin H.D. Buchloh(84), sejarawan seni, kritikus seni, dan pensiunan dari posisi profesor penuh di Harvard University pada 2021, melalui Art Since 1900 (2004), menekankan seni sebagai medan ideologis yang selalu terkait dengan politik, ekonomi, dan sejarah.
Lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis dapat dibaca pula sebagai bagian dari wacana ideologis tentang bencana di Indonesia.
Ia tidak hanya menampilkan estetika penderitaan, tetapi juga mengingatkan bahwa tragedi ini adalah bagian dari struktur sosial dan politik yang lebih luas.
Dengan demikian, karya ini tidak berhenti pada ekspresi emosional, tetapi juga mengandung kritik implisit terhadap kondisi yang memungkinkan bencana menjadi begitu menghancurkan.
Namun, tragis pula, mudah dilupakan dalam memori kolektif kita.
Beberapa lukisan menampilkan wajah perempuan yang kehilangan anak, lelaki yang menatap kosong ke arah laut, atau tubuh-tubuh yang terbaring di antara puing.
Imaji-imaji ini menghadirkan tragedi sebagai pengalaman manusiawi yang universal.
Namun, dalam genre Imajinasi Nusantara, Denny JA menambahkan lapisan simbolik khas budaya lokal: motif batik yang retak, warna tanah yang gelap, dan simbol-simbol tradisi yang ikut hancur bersama bencana.
Estetika tragis ini memperlihatkan bahwa penderitaan bukan hanya milik individu, tetapi juga milik budaya yang ikut terluka.
Dengan demikian, 24 lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis adalah sebuah upaya untuk menggabungkan dokumentasi tragedi dengan refleksi estetis.
Ia menghadirkan realitas traumatis sebagaimana dikemukakan Hal Foster, mengulang motif penderitaan sebagaimana dibaca melalui Krauss, dan menempatkan tragedi dalam konteks ideologis sebagaimana ditunjukkan Buchloh.
Estetika tragis yang lahir dari karya ini bukan sekadar tangisan visual, melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan sisi manusiawi dari bencana, serta bagaimana seni dapat menjadi ruang bagi ingatan kolektif dan kritik sosial.
coverlagu:
Ebit G. Ade(71) alias Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far merilis lagu „Untuk Kita Renungkan” pertama kali oleh PT Musica Studios pada tahun 1990.
credit foto: Dua Lukisan Sumatra Menangis Denny JA.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





