• Latest
Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Desember 29, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan

Redaksi by Redaksi
Desember 29, 2025
in #Korban Bencana, Artikel, Bencana, Filsafat, Mitigasi bencana, seni
Reading Time: 4 mins read
0
Estetika Tragis Atas Sumatera Menangis Dalam 24 Lukisan
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

„Tragedi bukanlah kepasrahan: tragedi adalah perayaan kehidupan di hadapan kematian. Tragedi adalah penegasan martabat manusia di tengah penderitaan.” — Walter Kaufmann(1921-1980), Tragedy and Philosophy(1968;1992).

Bencana Sumatra bukan cuma perkara tragedi alam dalam pengertian kodrati. Karena itu, banyak perspektif yang bisa dikedepankan sebagai refleksi filsafat estetika maupun teologis.

Salah satu perspektif beranjak dari sisi manusiawi dari bencana Sumatra yang direkam dalam 24 lukisan karya Denny JA dan bernaung bersama genre Imajinasi Nusantara dengan dukungan asisten AI.

Lukisan-lukisan ini tidak sekadar menjadi dokumentasi visual atas tragedi, melainkan sebuah upaya kreasi estetis untuk menyalurkan duka kolektif ke dalam bahasa rupa.

Di sini, seni berfungsi sebagai medium pengingat sekaligus pengolah trauma, menghadirkan wajah manusia yang rapuh namun tetap berusaha bangkit dari reruntuhan.

Dalam pendekatan kritik seni kontemporer, 24 karya senirupa ini dapat dibaca melalui kritik Hal Foster(70), aktif sebagai kritikus seni dan sejarawan seni di Princeton University dalam The Return of the Real(1996).

Foster menekankan bagaimana seni kontemporer sering kembali pada realitas yang traumatis, menghadirkan luka sosial sebagai bagian dari prinsip estetika.

Lukisan-lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis jelas menegaskan hal ini: realitas bencana tidak ditutupi, melainkan dihadirkan dengan intensitas tragis yang memaksa publik penyaksi untuk berhadapan langsung dengan penderitaan.

Estetika tragis di sini bukan sekadar gaya(stylus), melainkan strategi untuk mengembalikan realitas telanjang — the return of the real menurut Foster — yang sering diabaikan paska peristiwa.

Mengacu pada Rosalind Krauss(84), aktif sebagai kritikus seni, sejarawan seni, dan profesor di Columbia University, dalam The Originality of the Avant-Garde and Other Modernist Myths(1985), mengkritik mitos orisinalitas dalam estetika senirupa posmodern dan menekankan pentingnya struktur serta repetisi dalam seni modern.

Jika kita mencermati 24 lukisan Denny JA, repetisi tema penderitaan dan wajah-wajah manusia yang dilukiskan dalam berbagai pose bukanlah kelemahan, melainkan penguatan atas makna di balik realitas tragis.

Dengan mengulang motif tangisan, reruntuhan, dan tubuh yang kehilangan, Denny JA menegaskan bahwa tragedi bukanlah peristiwa tunggal, melainkan pengalaman kolektif yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Lain pula kritik estetika tragis dari Benjamin H.D. Buchloh(84), sejarawan seni, kritikus seni, dan pensiunan dari posisi profesor penuh di Harvard University pada 2021, melalui Art Since 1900 (2004), menekankan seni sebagai medan ideologis yang selalu terkait dengan politik, ekonomi, dan sejarah.

Lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis dapat dibaca pula sebagai bagian dari wacana ideologis tentang bencana di Indonesia.

Ia tidak hanya menampilkan estetika penderitaan, tetapi juga mengingatkan bahwa tragedi ini adalah bagian dari struktur sosial dan politik yang lebih luas.

Dengan demikian, karya ini tidak berhenti pada ekspresi emosional, tetapi juga mengandung kritik implisit terhadap kondisi yang memungkinkan bencana menjadi begitu menghancurkan.

Namun, tragis pula, mudah dilupakan dalam memori kolektif kita.

Beberapa lukisan menampilkan wajah perempuan yang kehilangan anak, lelaki yang menatap kosong ke arah laut, atau tubuh-tubuh yang terbaring di antara puing.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Imaji-imaji ini menghadirkan tragedi sebagai pengalaman manusiawi yang universal.

Namun, dalam genre Imajinasi Nusantara, Denny JA menambahkan lapisan simbolik khas budaya lokal: motif batik yang retak, warna tanah yang gelap, dan simbol-simbol tradisi yang ikut hancur bersama bencana.

ADVERTISEMENT

Estetika tragis ini memperlihatkan bahwa penderitaan bukan hanya milik individu, tetapi juga milik budaya yang ikut terluka.

Dengan demikian, 24 lukisan Denny JA tentang Sumatra menangis adalah sebuah upaya untuk menggabungkan dokumentasi tragedi dengan refleksi estetis.

Ia menghadirkan realitas traumatis sebagaimana dikemukakan Hal Foster, mengulang motif penderitaan sebagaimana dibaca melalui Krauss, dan menempatkan tragedi dalam konteks ideologis sebagaimana ditunjukkan Buchloh.

Estetika tragis yang lahir dari karya ini bukan sekadar tangisan visual, melainkan sebuah ajakan untuk merenungkan sisi manusiawi dari bencana, serta bagaimana seni dapat menjadi ruang bagi ingatan kolektif dan kritik sosial.

coverlagu:

Ebit G. Ade(71) alias Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far merilis lagu „Untuk Kita Renungkan” pertama kali oleh PT Musica Studios pada tahun 1990.

credit foto: Dua Lukisan Sumatra Menangis Denny JA.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com