POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM

RedaksiOleh Redaksi
December 27, 2025
Halimah Munawir Gugat Diam atas Bencana Aceh di TIM
🔊

Dengarkan Artikel

Sastra kembali berdiri sebagai suara nurani publik. Di tengah meningkatnya krisis ekologis dan berulangnya bencana alam di Aceh, sastrawan dan penyair Halimah Munawir tampil membacakan puisi berjudul “Diam Sangat Menyakitkan” dalam acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (26/12/2026).


Acara ini digelar oleh Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bekerja sama dengan Desember Kopi Gayo, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan PT Jakarta Propertindo (Jakpro). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi kolektif atas banjir bandang dan longsor Aceh 2025, yang hingga kini masih menyisakan luka sosial, ekologis, dan kemanusiaan.

Puisi sebagai Kritik Terbuka atas Kejahatan Ekologis


Dalam pembacaan yang berlangsung hening dan penuh empati, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang namun menghantam kesadaran. Ia tidak sekadar meratap, tetapi menggugat.
Puisi “Diam Sangat Menyakitkan” lahir dari kegelisahan mendalam terhadap pembabatan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan keserakahan ekonomi yang dinilai menjadi penyebab struktural bencana di Aceh.
Dengan menggunakan metafora kehidupan yang tercerabut dari akarnya, Halimah menyusun kritik tajam terhadap sistem yang membiarkan alam dirusak tanpa kontrol, sementara korban terus berjatuhan.

“Diam Sangat Menyakitkan”: Seruan Moral yang Menggema


Salah satu penggalan puisi yang paling menggugah berbunyi:
“Kita jangan mati rasa / Diam sangat menyakitkan / Bagi nyawa-nyawa yang terkubur.”
Kalimat tersebut tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menjadi tuduhan moral bagi siapa pun yang memilih bungkam terhadap ketidakadilan ekologis.
Menurut Halimah, diam adalah bentuk kekerasan pasif yang memperpanjang penderitaan korban bencana. Oleh sebab itu, sastra hadir untuk mengganggu kenyamanan, bukan sekadar menghibur.

Spirit Cut Nyak Dien dalam Puisi Perlawanan
Menariknya, Halimah mengaitkan puisinya dengan semangat perjuangan Cut Nyak Dien, pahlawan nasional asal Aceh. Ia menghadirkan sosok Cut Nyak Dien sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan, kini dalam bentuk baru: penindasan ekologis.
Transisi sejarah ini menegaskan bahwa perjuangan tidak berhenti pada kolonialisme bersenjata, melainkan berlanjut pada kolonialisme ekonomi dan eksploitasi alam.

Malam Doa dan Kemanusiaan: Seni sebagai Ruang Solidaritas

📚 Artikel Terkait

MPU Selenggarakan Mudzakarah Ulama Masalah Keagamaan

Gelapnya Malam

Begini Cara Kerja Mafia Hukum

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial


Acara Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh tidak hanya menampilkan pembacaan puisi, tetapi juga doa lintas iman, musik reflektif, dan ekspresi seni lainnya.
Melalui kegiatan ini, para seniman dan budayawan menyampaikan pesan bahwa seni memiliki tanggung jawab sosial, terutama ketika negara dan sistem ekonomi gagal melindungi rakyatnya.

Aceh dan Siklus Bencana yang Terus Berulang


Secara investigatif, bencana Aceh bukanlah peristiwa tunggal. Data menunjukkan bahwa alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar terus terjadi tanpa pengawasan ketat.
Narasi puisi Halimah berfungsi sebagai alarm publik, mengingatkan bahwa bencana bukan semata takdir, melainkan hasil keputusan manusia.

Profil Halimah Munawir:

Halimah Munawir lahir di Cirebon, 18 Januari 1964. Ia mulai menulis sejak SMA dan hingga kini aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional.


Karya-karyanya melintasi genre novel, puisi, dan esai. Beberapa novel pentingnya antara lain The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi.


Dalam puisi, Halimah dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritualitas, dan keadilan sosial.

Sastra sebagai Alarm Sosial
Melalui penampilannya di TIM, Halimah kembali menegaskan bahwa sastra bukan dekorasi budaya, melainkan alat kritik sosial.
Puisi menjadi medium edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih dalam dibandingkan laporan teknokratis semata.
Dengan demikian, “Diam Sangat Menyakitkan” bukan hanya karya sastra, tetapi dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis.

Ketika Diam Tak Lagi Netral


Pada akhirnya, Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh menjadi pengingat keras bahwa diam bukan sikap netral. Dalam konteks bencana dan ketidakadilan, diam berarti berpihak pada kehancuran.
Melalui puisi yang dibacakannya, Halimah Munawir mengajak publik untuk bersuara, bertindak, dan berpihak pada kehidupan—sebelum luka alam dan kemanusiaan menjadi permanen.
Sastra telah berbicara. Pertanyaannya, apakah kita masih memilih diam?

POTRET Gallery

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 70x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 63x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang

”AIR YANG MENYATUKAN, API YANG MEMECAH”

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00