POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara

RedaksiOleh Redaksi
December 25, 2025
Jika Untuk Bahagia Gak Perlu Negara, Kenapa Rakyat Lupa Meninggalkan Janji Palsu Bernegara
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Agung Marsudi
Pemerhati Geopolitik

BAYANGKAN saja, rakyat bisa hidup bahagia, gotong royong, sejahtera, tata tentrem kerta raharja, tanpa perlu “negara” yang megah dengan istana, DPR, dan APBN triliunan. Tanpa pajak yang menggerus kantong, tanpa birokrasi yang bikin pusing, tanpa janji palsu pemilu yang berakhir seperti kentut bau. Jika itu mungkin—dan sejarah desa-desa adat kita buktikan bisa—maka lupakan saja dongeng “bernegara” yang selama ini dijual begitu manisnya.

Rakyat membentuk konsensus bersama: kita sepakat membentuk negara agar tertib, agar kepentingan bersama teratur, agar sejahtera merata. Kita pilih orang-orang sebagai pengurus—pemerintah, presiden, menteri, DPR—bukan jadi raja, tapi pelayan yang jalankan amanah dari rakyat. Tugasnya jelas, tertulis merah di atas putih dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, Memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa, Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Tapi realitasnya: pengurus negara ini gagal. Kesejahteraan? Ketimpangan Gini 0,375, 1% elite kuasai 50% kekayaan. Melindungi bangsa? PSN gusur lahan adat ribuan hektar, rakyat Aceh kibarkan bendera putih di banjir Sumatera, Papua miskin di atas gunung emas Grasberg yang kini membuat lobang di bumi yang sangat mengerikan. Tugas melindungi itu pun gagal.


Mencerdaskan? Stunting 19,8%, IQ anak rata-rata 78—generasi rusak karena gizi buruk dan pendidikan ala kadarnya. MBG menjadi lingkaran proyek makan sedu-sedan. Ketertiban dunia? Utang Rp9.450 T ke Cina, SDA nikel 94% ekspor ke Tsingshan—kedaulatan ekonomi menganga.

Amandemen empat kali UUD 1945 adalah kudeta konstitusi. Reformasi menjual pasal-pasal kepada oligarki. Rakyat ditipu dengan UUD palsu. Negara berjalan tanpa haluan. Pelanggar konstitusi terbesar justru pemerintah—pengurus negara lima tahunan yang dipilih rakyat untuk menjalankan amanah.

📚 Artikel Terkait

Cabdindik Wilayah Aceh Jaya Gelar Bimtek Pendidikan Karakter

Menelisik Potensi dan Problematika Wakaf  di Simeulu

Manusia, Balada Kemanusiaan dan Hikmah

GELAP KARENA CAHAYA

Rakyat disuruh-suruh “Pancasilais” setiap hari: upacara bendera, pidato politik basa-basi, spanduk “NKRI Harga Mati”—tapi merekalah yang mengkhianati. UUD 1945 dan Pancasila menjadi alat legitimasi, manajemen negara demi oligarki. 10 tahun era Jokowi, fakta obyektifnya kewarasan dan intelektualitas digiring ke gorong-gorong. Ini bukan potret negara Pancasila—ini negara korporasi!

Pengurus lima tahunan itu bukan saja gagal—mereka berkhianat dan melanggar amanah berulang: korupsi endemik, oligarki kuasai kebijakan, reformasi deformasi menjadi alat rampok. Jika tukang kebun gagal rawat tanaman, ya wajib kita pecat. Jika sopir ugal-ugalan, kita cabut SIMnya. Kenapa jika pengurus negara yang gagal—bahkan melanggar konstitusi, berkhianat, gak bisa dipercaya—malah dilindungi, dipuji, atau diganti sesama kroni?

Ada baiknya ya: berhentikan yang tak becus, pecat yang korup, sanksi berat bagi yang melanggar. Bukan pemilu ritual memilih “bau rasa baru”, tapi mekanisme akuntabilitas sejati—recall presiden, audit independen, referendum rakyat. Jika pengurus tak jalankan Alinea ke-4, bubarkan saja konsensus itu—rakyat bisa kok bahagia tanpa negara.

Ini akal sehat kembali ke akar, kembali ke pangkal. Bahwa keberadaan negara itu untuk melayani rakyat, bukan rakyat untuk melayani negara. Jika pengurus tak mampu mensejahterakan, melindungi, mencerdaskan—lupakan janji bernegara. Saatnya rakyat ambil alih: tuntut reformasi sejati, atau buat konsensus baru tanpa oligarki.

Astungkara, kebahagiaan rakyat tak lagi bergantung pada mereka: “yang kepalanya ngaku nasionalis, tapi leher ke perut kapitalis, bawah perut maunya liberalis!”

Catatan akhir tahun, 24/12/2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Agama

Agama

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00