POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

“Pajan Lom” Sebagai Legitimasi Harga

RedaksiOleh Redaksi
December 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Isnaliana, SHI, MA

Dosen dan Sekretaris Prodi Manajemen Industri Halal, FEBI UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Fenomena meningkatnya praktik perdagangan yang memanfaatkan kondisi pasar untuk meraup keuntungan berlebihan, menjadi persoalan serius dalam dinamika ekonomi masyarakat saat ini. Ya, khususnya pada saat terdampak bencana banjir bandang yang dialami masyarakat Sumatera, utamanya di Aceh. 

Istilah lokal “pajan lom (kapan lagi)” yang kerap digunakan sebagai justifikasi kenaikan harga, telah berkembang menjadi semacam kata keramat yang dijadikan legitimasi oleh sebagian pedagang untuk menaikkan harga tanpa mempertimbangkan rasionalitas biaya, keadilan harga, maupun dampak sosial yang ditimbulkan.  

Praktik ini menunjukkan pergeseran orientasi aktivitas ekonomi dari pemenuhan kebutuhan bersama menuju kepentingan individu semata.

Secara ekonomi konvensional, perilaku tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan profit maximization (keuntungan yang tinggi) dalam kondisi pasar yang tidak sempurna, di mana informasi asimetris dan lemahnya pengawasan memberi ruang bagi pelaku usaha untuk bertindak oportunistik. Namun, dari perspektif ekonomi Islam, praktik semacam ini bertentangan secara fundamental dengan prinsip etika bisnis Islam yang menempatkan keadilan (al-‘adl), kemaslahatan (maslahah), dan keseimbangan (tawazun) sebagai landasan utama aktivitas ekonomi.

Dalam ekonomi Islam, keuntungan bukanlah tujuan tunggal, melainkan konsekuensi dari transaksi yang sah, adil, dan bermoral. Prinsip la dharar wa la dhirar (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain) menegaskan bahwa aktivitas bisnis tidak boleh menimbulkan mudharat bagi masyarakat, terutama kelompok rentan dengan pendapatan terbatas. 

📚 Artikel Terkait

Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan Penumpang Gelap di Dalamnya

Gagal Memotret  Proses dan Hasil  17 Tahun Dana Otsus Aceh di Bidang Pendidikan 

Hitam Putih

KAMU HEBAT DENGAN BAKATMU

Kenaikan harga yang tidak proporsional dan tidak didasarkan pada mekanisme biaya yang wajar dapat dikategorikan sebagai bentuk dhulm (kezaliman) ekonomi, karena mengalihkan beban ketidakpastian pasar kepada konsumen secara sepihak.

Lebih lanjut, praktik ini juga memiliki kemiripan dengan konsep ihtikar (penimbunan atau pengendalian pasokan untuk menaikkan harga) yang secara tegas dilarang dalam Islam, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab “Orang yang mendatangkan (makanan) akan dilimpahkan rezekinya, sementara penimbun akan dilaknat” dan hadis yang diriwayatkan oleh Mu’ammar al-Adwy “Tidak akan menimbun barang, kecuali orang yang berbuat salah”. 

Meskipun tidak selalu berbentuk penimbunan fisik, manipulasi narasi kelangkaan atau kondisi pasar untuk membenarkan harga yang tidak adil dapat dipandang sebagai ihtikar non-material. 

Larangan ini bertujuan menjaga stabilitas sosial dan memastikan distribusi kesejahteraan yang lebih merata.

Dampak sosial dari praktik tersebut sangat signifikan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat tanpa diimbangi peningkatan pendapatan, daya beli menurun dan kesenjangan ekonomi semakin melebar. 

Dalam konteks ini, etika bisnis Islam menekankan pentingnya tanggung jawab sosial pelaku usaha (ukhuwah iqtisadiyah), di mana kegiatan ekonomi harus berkontribusi pada kesejahteraan kolektif, bukan sekadar akumulasi keuntungan individual.

Dengan demikian, fenomena “pajan lom” tidak hanya mencerminkan persoalan ekonomi semata, tetapi juga krisis etika dalam praktik bisnis. Ekonomi Islam menawarkan kerangka normatif yang menyeimbangkan antara pencapaian keuntungan dan tanggung jawab moral. 

Implementasi nilai-nilai kejujuran (sidq), amanah, keadilan harga, serta empati sosial menjadi kunci untuk menciptakan sistem ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan, khususnya dalam menjaga ketahanan ekonomi masyarakat kecil.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

BAST ANRI Turun Langsung Selamatkan Arsip Terdampak Banjir di Aceh Utara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00