POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Moral Masyarakat dalam Bencana

Refleksi Etika, Tanggung Jawab Sosial, dan Kesadaran Keagamaan

RedaksiOleh Redaksi
December 20, 2025
Moral Masyarakat dalam Bencana
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak akhir November 2025 yang lalu. Menandai perubahan penting dalam pengalaman kebencanaan masyarakat di Aceh. Peristiwa ini tidak hanya hadir sebagai musibah sesaat yang dan cepat berlalu, melainkan sebagai kejadian krisis yang menguras energi sosial, ekonomi, psikologis, serta moral masyarakat dari hari ke hari.

Curah hujan ekstrem yang berlangsung hampir tanpa jeda selama dua hari, disertai banjir dan longsor di berbagai wilayah, menjadikan bencana bukan lagi peristiwa yang luar biasa, melainkan bagian dari keseharian yang harus dijalani dengan tawakkal dan ikhtiar dalam menghadapi bencana.

Dalam situasi seperti ini, bencana tidak hanya berdampak dari segi infrastruktur, kebutuhan logistik, dan keadaan darurat. Tetapi juga menguji ketahanan nilai, solidaritas sosial, serta kedewasaan moral masyarakat.

Dalam hal ini, bagaimana cara sebuah komunitas bertahan, saling menolong, dan mengambil pelajaran dari keadaan tersebut, mencerminkan kualitas etika sosial dan kesadaran keagamaannya. Dengan demikian, bencana perlu di pahami sebagai peristiwa moral, dan bukan hanya semata-mata peristiwa alam yang terjadi.

Skala Krisis dan Rapuhnya Sistem Sosial

Selama hampir satu bulan, puluhan hingga ratusan ribu warga Aceh hidup dalam situasi darurat yang terus berlanjut. Rumah-rumah terendam dan rusak, sebagian bahkan hilang tersapu banjir dan longsor. Sejumlah wilayah terisolasi akibat rusaknya jalan dan jembatan, sementara aktivitas ekonomi lumpuh dan layanan publik terganggu. Kehidupan masyarakat berada dalam keadaan yang serba tidak menentu, di antara harapan akan pemulihan dan kecemasan terhadap krisis yang berkepanjangan.

Data resmi BNPB dan BPBA hingga 19 Desember 2025 mencatat bahwa sekitar 449 korban jiwa, puluhan orang dinyatakan hilang, serta lebih dari 800 ribu warga mengungsi dan kemungkinan akan terus bertambah. Angka-angka ini tidak dapat dipahami sekadar sebagai statistik.

Di baliknya terdapat penderitaan nyata: keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, anak-anak yang terputus dari proses pendidikan, serta kelompok rentan, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas yang hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan rapuhnya sistem sosial dan ekologis yang selama ini menopang kehidupan masyarakat di wilayah Aceh. Ketika hujan lebat datang, berdurasi panjang langsung berujung pada banjir bahkan longsor, hal tersebut menunjukkan adanya persoalan struktural dalam pengelolaan lingkungan, tata ruang, dan mitigasi risiko bencana. Dengan demikian, bencana tidak dapat dipisahkan dari pilihan kebijakan-kebijakan dan pembangunan yang diambil jauh sebelum hujan datang.

Pengungsian Berkepanjangan dan Martabat Kemanusiaan

Ketika masa pengungsian berlangsung lama, bencana berubah menjadi ruang hidup baru yang penuh keterbatasan. Persoalan tidak lagi berhenti pada ketersediaan pangan dan sandang, tetapi meluas pada sisi martabat manusia: akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan bagi anak-anak, serta perlindungan kelompok rentan. Pada titik ini, bencana menyentuh hak-hak dasar manusia secara langsung.

📚 Artikel Terkait

Koalisi Pemuda Aceh Pertanyakan Mutu Pendidikan Aceh

Ekonomi dari Rakyat, Tapi untuk Bank? Kritik terhadap Skema Bantuan Berkedok Kredit

Surat Terpendam

The Incompetence of the Minister of Agriculture: Denying UUPA, Ignoring Aceh’s Struggles

Di wilayah Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, dan Aceh Utara, dengan jumlah pengungsi yang besar menunjukkan bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga mengguncang struktur keluarga, ekonomi lokal, dan tatanan sosial. Relasi sosial dan ekonomi yang selama ini menopang kehidupan masyarakat desa berada di bawah tekanan berat akibat keterbatasan ruang, sumber daya, dan beban psikologis yang berkepanjangan.

Pada fase inilah moral masyarakat benar-benar diuji. Jika pada hari-hari awal bencana, empati dan solidaritas masih terasa kuat, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika krisis berlangsung lama. Saat perhatian publik mulai menurun, bantuan tidak menjadi perhatian utama, dan kelelahan bersama perlahan mengikis kepedulian sosial. Dalam kondisi tersebut, ketahanan moral ditentukan oleh kemampuan menjaga empati, rasa keadilan dan tanggung jawab untuk menguatkan sesama.

Kerusakan Infrastruktur dan Amanah Sosial Negara

Kerusakan ratusan ribu rumah, jembatan, sekolah, dan tempat ibadah menunjukkan bahwa bencana 2025 telah menyentuh sendi-sendi kehidupan sosial dan keagamaan di Aceh. Masjid yang rusak bukan sekadar bangunan yang runtuh, melainkan terganggunya ruang spiritual dan sosial yang selama ini menjadi pusat pembinaan moral dan solidaritas masyarakat. Sekolah yang terendam tidak hanya menghentikan proses belajar sementara, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda, terutama di wilayah yang hingga kini masih terputus akses pendidikannya.

Puluhan desa yang terisolasi akibat longsor memperlihatkan wajah lain dari bencana. keterputusan akses dan lemahnya kehadiran negara. Ketika masyarakat terputus dari bantuan dan layanan dasar dalam waktu lama, persoalan ini tidak lagi bersifat teknis, tetapi menyentuh inti tanggung jawab sosial dan keadilan. Bencana, dalam konteks ini, membuka pertanyaan mendasar bagi negara tentang sejauh mana amanah perlindungan terhadap warga negaranya telah dijalankan secara adil dan merata sampai hari ini ?

Relasi Manusia dan Alam: Krisis yang Terus Berulang

Bencana 2025 juga memperlihatkan persoalan mendasar dalam hubungan manusia dengan alam. Kebijakan yang abai terhadap daya dukung lingkungan, mengesampingkan kearifan lokal, dan lebih mengutamakan kepentingan jangka pendek telah memperbesar dampak banjir dan longsor. Deforestasi, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta tata ruang yang mengabaikan keseimbangan ekologis menjadikan bencana sebagai konsekuensi sosial dari kegagalan etika lingkungan.

Dalam perspektif etika dan keagamaan, manusia diposisikan sebagai pengelola bumi, bukan sebagai penguasa tanpa batas. Ketika keseimbangan ekologis diabaikan, dampaknya kembali kepada manusia dalam bentuk krisis yang berulang. Bencana, dengan demikian, bukan semata kehendak alam, tetapi juga cermin dari pilihan-pilihan manusia dalam memperlakukan alam dan lingkungan hidup.

Dari Solidaritas Sesaat Menujuu Ketahanan Sosial

Aceh memiliki pengalaman mendalam yang kuat pada peristiwa tsunami tahun 2004. Pada masa tersebut, solidaritas sosial dan kepedulian lintas negara hadir secara luar biasa. Namun, bencana 2025 menghadirkan tantangan yang berbeda. Krisis kali ini berlangsung lama dan melelahkan. Persoalannya bukan lagi soal membangkitkan solidaritas di awal bencana, karena hal itu biasanya muncul dengan kepedulian antar sesama. Tantangan yang lebih besar justru bagaimana menjaga kepedulian agar tetap ada ketika keadaan berlangsung lama dan ketika perhatian masyarakat perlahan mulai berkurang.

Dalam hal ini, sebagai contoh fakta keadaan di lapangan menjelaskan bahwa daerah yang terisolir. Yaitu sebagian warga Aceh Tengah dan Bener Meriah yang berjalan kaki puluhan hingga ratusan kilometer sampai ke Lhokseumawe dan Bireuen untuk menjual atau menukar barang demi memenuhi kebutuhan hidup. Fenomena ini merupakan potret nyata perjuangan ekonomi masyarakat di tengah keterbatasan akses dan tekanan krisis.

Di sinilah perbedaan antara solidaritas sesaat dan ketahanan sosial menjadi penting. Ketahanan sosial menuntut keberlanjutan melalui sistem yang mampu menopang pemulihan ekonomi, perlindungan sosial, dan penguatan kapasitas masyarakat. Dan dalam islam, Instrumen keagamaan seperti zakat, infak, wakaf memiliki potensi strategis jika dikelola secara visioner serta berorientasi pada jangka panjang, dan bukan hanya sekadar bantuan konsumtif saja.

Kesadaran Keagamaan yang uDiuji

Bencana sering kali membuka kesadaran peningkatan praktik spritual keagamaan. Namun, krisis yang panjang juga berpotensi melahirkan kelelahan spiritual dan sikap pasrah tanpa refleksi kritis. Padahal, kesalehan sejati tercermin dari kepedulian nyata terhadap penderitaan sesama. Dan agama semestinya hadir sebagai panduan penguatan moral dan solusi sosial kepada umat.

Penutup: Ujian Kedewasaan Moral

Bencana hidrometeorologi 2025 merupakan ujian serius bagi kedewasaan moral masyarakat. Moral dalam bencana tidak diukur dari seberapa cepat bantuan datang di awal krisis, tetapi dari kemampuan menjaga kepedulian dalam jangka panjang, memperbaiki hubungan dengan alam, dan membangun sistem sosial yang adil dan berkelanjutan. Jika pelajaran ini benar-benar diambil, Aceh tidak hanya selamat dari krisis, tetapi tumbuh sebagai masyarakat yang kuat secara moral, beradab, dan berkelanjutan demi masa depan Aceh yang menyinari peradabaan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share7SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Aceh Negeri Hujan Air Mata

Aceh Negeri Hujan Air Mata

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00