Dengarkan Artikel
Diskusi publik Universitas Paramadina bertema “Evaluasi & Outlook Pendidikan Tinggi Riset Menuju Kampus Global” membuka satu kesadaran yang tidak nyaman namun penting: pendidikan tinggi Indonesia sedang mengalami disorientasi serius antara kuantitas, reputasi global, dan relevansi sosial. Kampus berkembang, mahasiswa membludak, publikasi meningkat—namun dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat, daya saing ekonomi, dan ketangguhan bangsa justru stagnan.
Fenomena ini bukan sekadar kesan normatif. Data dan indikator global menunjukkan bahwa pertumbuhan pendidikan tinggi Indonesia tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas dan daya saing nasional.
Kehilangan Momentum dan Ilusi Skala Besar
Prof. Didik J. Rachbini secara tegas menyebut bahwa dunia kampus Indonesia telah kehilangan momentum historis untuk mengejar kualitas global. Pernyataan ini tercermin dalam berbagai pemeringkatan internasional. Hingga beberapa tahun terakhir, tidak satu pun universitas Indonesia yang konsisten menembus 200 besar dunia, sementara Singapura menempatkan NUS dan NTU di 20 besar global, dan Malaysia memiliki lebih dari 5 universitas di peringkat 200–300 dunia.
Padahal, menurut data UNESCO, Indonesia memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi, salah satu jumlah terbanyak di dunia. Namun, kuantitas tersebut tidak diikuti konsolidasi mutu. Banyak institusi beroperasi dengan kapasitas riset minim, dosen terbatas, dan infrastruktur akademik yang lemah.
Yang lebih ironis, ekspansi besar-besaran kampus negeri—dengan penerimaan mahasiswa mencapai 15.000–25.000 orang per tahun di beberapa universitas besar—tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas SDM nasional. Rasio dosen–mahasiswa di sejumlah PTN besar diperkirakan berada pada kisaran 1:200 hingga 1:250, jauh dari praktik ideal internasional (1:20–1:30).
Dalam kondisi ini, proses pembelajaran kehilangan karakter akademiknya. Pendidikan tinggi cenderung direduksi menjadi transmisi materi, bukan proses pembentukan nalar kritis dan kapasitas inovatif.
Pertumbuhan Ekonomi dan Kualitas Kampus: Bukti Kausalitas yang Terabaikan
Hubungan antara kualitas pendidikan tinggi dan pertumbuhan ekonomi bukan spekulasi. Studi Bank Dunia dan OECD menunjukkan bahwa kenaikan satu poin indeks kualitas SDM berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan PDB jangka menengah.
Vietnam menjadi contoh konkret. Negara ini secara agresif mereformasi pendidikan tinggi dan riset sejak awal 2000-an, mengintegrasikan universitas dengan industri manufaktur dan teknologi. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Vietnam konsisten di atas 6–7,5% per tahun, sementara nilai ekspornya telah menembus sekitar USD 1 triliun secara kumulatif, dengan kontribusi besar dari sektor teknologi dan manufaktur bernilai tambah.
Sebaliknya, Indonesia—dengan belanja riset yang masih berkisar 0,2–0,3% dari PDB—terjebak pada pertumbuhan ekonomi di bawah 5% dan ketergantungan pada komoditas mentah. Ini menegaskan bahwa kampus yang lemah secara riset menghasilkan ekonomi yang rapuh secara struktural.
Moral Hazard, Disorientasi Negara, dan Rusaknya Ekosistem Akademik
Kritik terhadap kelas-kelas magister kampus negeri di luar domisili induk bukan sekadar soal etika individual, melainkan moral hazard sistemik. Fasilitas negara—laboratorium, reputasi institusi, dan subsidi publik—digunakan untuk kepentingan privat tanpa kontribusi signifikan terhadap penguatan riset.
Di sisi lain, kampus swasta berbasis civil society seperti Muhammadiyah dan NU justru membangun kampus dengan dana mandiri, pinjaman perbankan, dan tata kelola relatif disiplin. Namun, akses mereka ke pendanaan riset negara, fasilitas strategis, dan kebijakan afirmatif justru lebih terbatas.
Akibatnya, terjadi ketimpangan struktural: negara memperbesar kampus negeri tanpa disiplin kualitas, sementara kampus swasta yang berupaya serius justru terpinggirkan. Ekosistem pendidikan tinggi menjadi tidak sehat dan tidak adil.
📚 Artikel Terkait
Akses, Biaya, dan Kesenjangan Kualitas
Dr. Hetifah Sjaifudian menyoroti tiga isu besar: ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Data Kemdikbud menunjukkan bahwa APK (Angka Partisipasi Kasar) pendidikan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 30–35%, tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand yang telah melampaui 40%.
Namun, peningkatan APK tidak otomatis berarti keadilan pendidikan. Biaya kuliah dan biaya hidup di kota besar menjadi penghalang utama, sementara kualitas unggul masih terkonsentrasi di Jawa. Ketimpangan regional ini menyebabkan brain drain internal, di mana talenta dari daerah terkonsentrasi di kota besar tanpa kembali membangun wilayah asalnya.
Riset, Inovasi, dan Ketidaksiapan Lulusan
Kelemahan utama pendidikan tinggi Indonesia terletak pada riset dan inovasi. Belanja R&D nasional yang rendah berbanding lurus dengan minimnya paten, produk inovatif, dan transfer teknologi dari kampus ke industri.
Laporan Global Innovation Index menunjukkan Indonesia masih tertinggal dalam indikator: kolaborasi universitas–industri, paten berbasis riset kampus, komersialisasi hasil riset.
Akibatnya, lulusan perguruan tinggi sering tidak siap mengisi kebutuhan strategis seperti energi terbarukan, ketahanan pangan, teknologi lingkungan, dan industri berbasis pengetahuan.
Dari Teaching University ke Kampus Berdampak
Prof. Herry Suhardiyanto menekankan transformasi menuju research dan entrepreneurial university. Konsep ini sejalan dengan tren global, di mana universitas berperan sebagai: produsen pengetahuan, inkubator inovasi, dan mitra strategis kebijakan publik.
Namun, data menunjukkan bahwa sebagian besar universitas Indonesia masih berorientasi teaching, dengan porsi dosen bergelar doktor dan profesor relatif rendah, serta beban mengajar yang sangat tinggi sehingga riset menjadi aktivitas sekunder.
Perangkingan Global dan Distorsi Akademik.
Prof. Andi Andriansyah mengingatkan bahaya fetisisme ranking. Memang benar, jumlah publikasi Indonesia meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun, kenaikan kuantitas publikasi tidak selalu diiringi peningkatan kualitas sitasi per artikel atau dampak kebijakan.
Lebih jauh, orientasi pada indikator kuantitatif mendorong: pengabaian riset lokal, tekanan administratif pada dosen, dan praktik-praktik tidak etis demi mengejar angka. Akibatnya, riset lingkungan, mitigasi bencana, dan kebijakan publik sering tidak menjadi rujukan nyata. Tragedi ekologis seperti banjir dan longsor dapat dibaca sebagai kegagalan integrasi ilmu pengetahuan dalam pengambilan keputusan publik.
Menuju Paradigma Global Relevancy
Diskusi ini mengajukan pergeseran penting: dari global ranking menuju global relevance. Kampus global bukan sekadar kampus dengan indeks tinggi, tetapi kampus yang diakui karena dampak nyatanya.
Ciri kampus relevan:
- Riset berdampak sosial dan ekologis, bukan sekadar terpublikasi.
- Lulusan kontekstual, adaptif terhadap problem masyarakat.
- Inovasi berbasis kebutuhan dasar, bukan hanya teknologi elitis.
- Etika akademik yang kuat, menolak kapitalisasi pengetahuan semata.
Kampus dan Tanggung Jawab Sejarah
Diskusi ini bukan sekadar evaluasi teknokratis, melainkan peringatan sejarah. Negara tidak cukup membiayai kampus tanpa arah. Kampus tidak cukup besar tanpa makna. Akademisi tidak cukup produktif tanpa tanggung jawab sosial.
Pertanyaan utamanya bukan lagi: “Berapa peringkat universitas kita?” Melainkan: “Apakah pengetahuan yang dihasilkan kampus benar-benar menjaga kehidupan, memperkuat keadilan, dan memajukan bangsa?”
Di situlah masa depan pendidikan tinggi Indonesia—dan masa depan republik ini—dipertaruhkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






