POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kampus Global atau Kampus Relevan?

Refleksi atas Disorientasi Pendidikan Tinggi, Riset, dan Dampaknya bagi Bangsa.

RedaksiOleh Redaksi
December 17, 2025
Kampus Global atau Kampus Relevan?
🔊

Dengarkan Artikel

Diskusi publik Universitas Paramadina bertema “Evaluasi & Outlook Pendidikan Tinggi Riset Menuju Kampus Global” membuka satu kesadaran yang tidak nyaman namun penting: pendidikan tinggi Indonesia sedang mengalami disorientasi serius antara kuantitas, reputasi global, dan relevansi sosial. Kampus berkembang, mahasiswa membludak, publikasi meningkat—namun dampaknya terhadap kualitas hidup masyarakat, daya saing ekonomi, dan ketangguhan bangsa justru stagnan.

Fenomena ini bukan sekadar kesan normatif. Data dan indikator global menunjukkan bahwa pertumbuhan pendidikan tinggi Indonesia tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas dan daya saing nasional.

Kehilangan Momentum dan Ilusi Skala Besar

Prof. Didik J. Rachbini secara tegas menyebut bahwa dunia kampus Indonesia telah kehilangan momentum historis untuk mengejar kualitas global. Pernyataan ini tercermin dalam berbagai pemeringkatan internasional. Hingga beberapa tahun terakhir, tidak satu pun universitas Indonesia yang konsisten menembus 200 besar dunia, sementara Singapura menempatkan NUS dan NTU di 20 besar global, dan Malaysia memiliki lebih dari 5 universitas di peringkat 200–300 dunia.

Padahal, menurut data UNESCO, Indonesia memiliki lebih dari 4.500 perguruan tinggi, salah satu jumlah terbanyak di dunia. Namun, kuantitas tersebut tidak diikuti konsolidasi mutu. Banyak institusi beroperasi dengan kapasitas riset minim, dosen terbatas, dan infrastruktur akademik yang lemah.

Yang lebih ironis, ekspansi besar-besaran kampus negeri—dengan penerimaan mahasiswa mencapai 15.000–25.000 orang per tahun di beberapa universitas besar—tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas SDM nasional. Rasio dosen–mahasiswa di sejumlah PTN besar diperkirakan berada pada kisaran 1:200 hingga 1:250, jauh dari praktik ideal internasional (1:20–1:30).

Dalam kondisi ini, proses pembelajaran kehilangan karakter akademiknya. Pendidikan tinggi cenderung direduksi menjadi transmisi materi, bukan proses pembentukan nalar kritis dan kapasitas inovatif.

Pertumbuhan Ekonomi dan Kualitas Kampus: Bukti Kausalitas yang Terabaikan

Hubungan antara kualitas pendidikan tinggi dan pertumbuhan ekonomi bukan spekulasi. Studi Bank Dunia dan OECD menunjukkan bahwa kenaikan satu poin indeks kualitas SDM berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan PDB jangka menengah.

Vietnam menjadi contoh konkret. Negara ini secara agresif mereformasi pendidikan tinggi dan riset sejak awal 2000-an, mengintegrasikan universitas dengan industri manufaktur dan teknologi. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi Vietnam konsisten di atas 6–7,5% per tahun, sementara nilai ekspornya telah menembus sekitar USD 1 triliun secara kumulatif, dengan kontribusi besar dari sektor teknologi dan manufaktur bernilai tambah.

Sebaliknya, Indonesia—dengan belanja riset yang masih berkisar 0,2–0,3% dari PDB—terjebak pada pertumbuhan ekonomi di bawah 5% dan ketergantungan pada komoditas mentah. Ini menegaskan bahwa kampus yang lemah secara riset menghasilkan ekonomi yang rapuh secara struktural.

Moral Hazard, Disorientasi Negara, dan Rusaknya Ekosistem Akademik

Kritik terhadap kelas-kelas magister kampus negeri di luar domisili induk bukan sekadar soal etika individual, melainkan moral hazard sistemik. Fasilitas negara—laboratorium, reputasi institusi, dan subsidi publik—digunakan untuk kepentingan privat tanpa kontribusi signifikan terhadap penguatan riset.

Di sisi lain, kampus swasta berbasis civil society seperti Muhammadiyah dan NU justru membangun kampus dengan dana mandiri, pinjaman perbankan, dan tata kelola relatif disiplin. Namun, akses mereka ke pendanaan riset negara, fasilitas strategis, dan kebijakan afirmatif justru lebih terbatas.

Akibatnya, terjadi ketimpangan struktural: negara memperbesar kampus negeri tanpa disiplin kualitas, sementara kampus swasta yang berupaya serius justru terpinggirkan. Ekosistem pendidikan tinggi menjadi tidak sehat dan tidak adil.

📚 Artikel Terkait

5 Sepeda untuk Program 1000 Sepeda

SAHARA DILAMUN SENJA

Jadikan Sampah Lebih Bernilai dengan Sistem WCP

NURDIN F. JOES, Penyair Kemanusiaan Dari Kembang Tanjong

Akses, Biaya, dan Kesenjangan Kualitas

Dr. Hetifah Sjaifudian menyoroti tiga isu besar: ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas. Data Kemdikbud menunjukkan bahwa APK (Angka Partisipasi Kasar) pendidikan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 30–35%, tertinggal dibanding Malaysia dan Thailand yang telah melampaui 40%.

Namun, peningkatan APK tidak otomatis berarti keadilan pendidikan. Biaya kuliah dan biaya hidup di kota besar menjadi penghalang utama, sementara kualitas unggul masih terkonsentrasi di Jawa. Ketimpangan regional ini menyebabkan brain drain internal, di mana talenta dari daerah terkonsentrasi di kota besar tanpa kembali membangun wilayah asalnya.

Riset, Inovasi, dan Ketidaksiapan Lulusan

Kelemahan utama pendidikan tinggi Indonesia terletak pada riset dan inovasi. Belanja R&D nasional yang rendah berbanding lurus dengan minimnya paten, produk inovatif, dan transfer teknologi dari kampus ke industri.

Laporan Global Innovation Index menunjukkan Indonesia masih tertinggal dalam indikator: kolaborasi universitas–industri, paten berbasis riset kampus, komersialisasi hasil riset.

Akibatnya, lulusan perguruan tinggi sering tidak siap mengisi kebutuhan strategis seperti energi terbarukan, ketahanan pangan, teknologi lingkungan, dan industri berbasis pengetahuan.

Dari Teaching University ke Kampus Berdampak

Prof. Herry Suhardiyanto menekankan transformasi menuju research dan entrepreneurial university. Konsep ini sejalan dengan tren global, di mana universitas berperan sebagai: produsen pengetahuan, inkubator inovasi, dan mitra strategis kebijakan publik.

Namun, data menunjukkan bahwa sebagian besar universitas Indonesia masih berorientasi teaching, dengan porsi dosen bergelar doktor dan profesor relatif rendah, serta beban mengajar yang sangat tinggi sehingga riset menjadi aktivitas sekunder.

Perangkingan Global dan Distorsi Akademik.

Prof. Andi Andriansyah mengingatkan bahaya fetisisme ranking. Memang benar, jumlah publikasi Indonesia meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun, kenaikan kuantitas publikasi tidak selalu diiringi peningkatan kualitas sitasi per artikel atau dampak kebijakan.

Lebih jauh, orientasi pada indikator kuantitatif mendorong: pengabaian riset lokal, tekanan administratif pada dosen, dan praktik-praktik tidak etis demi mengejar angka. Akibatnya, riset lingkungan, mitigasi bencana, dan kebijakan publik sering tidak menjadi rujukan nyata. Tragedi ekologis seperti banjir dan longsor dapat dibaca sebagai kegagalan integrasi ilmu pengetahuan dalam pengambilan keputusan publik.

Menuju Paradigma Global Relevancy

Diskusi ini mengajukan pergeseran penting: dari global ranking menuju global relevance. Kampus global bukan sekadar kampus dengan indeks tinggi, tetapi kampus yang diakui karena dampak nyatanya.

Ciri kampus relevan:

  1. Riset berdampak sosial dan ekologis, bukan sekadar terpublikasi.
  2. Lulusan kontekstual, adaptif terhadap problem masyarakat.
  3. Inovasi berbasis kebutuhan dasar, bukan hanya teknologi elitis.
  4. Etika akademik yang kuat, menolak kapitalisasi pengetahuan semata.

Kampus dan Tanggung Jawab Sejarah

Diskusi ini bukan sekadar evaluasi teknokratis, melainkan peringatan sejarah. Negara tidak cukup membiayai kampus tanpa arah. Kampus tidak cukup besar tanpa makna. Akademisi tidak cukup produktif tanpa tanggung jawab sosial.

Pertanyaan utamanya bukan lagi: “Berapa peringkat universitas kita?” Melainkan: “Apakah pengetahuan yang dihasilkan kampus benar-benar menjaga kehidupan, memperkuat keadilan, dan memajukan bangsa?”

Di situlah masa depan pendidikan tinggi Indonesia—dan masa depan republik ini—dipertaruhkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00