Dengarkan Artikel
Kritik Sastra Pendekatan Naratologi
Oleh ReO Fiksiwan
„Aku adalah bukit yang sangat tua.
Jauh lebih tua dari riwayat semua
keluarga,
yang pernah berteduh di bawah
kakiku.
Dulu, hutan tumbuh di dadaku,
menjadi untaian doa yang tidak
pernah putus.
Akar-akar panjang menahanku,
seperti tangan-tangan para leluhur
yang menjaga dunia tetap seimbang.“ — Denny JA(62), BUKIT ITU MENANGIS MENIMBUN
SATU KELUARGA(2025).
Bencana yang menimpa alam dan manusia di pulau Sumatra akhir November 2025 silam, telah ikut menguras empati Denny JA, mencipta sebuah puisi esai: Bukit Itu Menangis Menimbun Satu Keluarga.
Dalam penciptaan gabungan antara fakta(bencana) dsn fiksi(Stimmunglyrik), genre karya ini menghadirkan sebuah teks yang tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai dokumen sosial yang merekam tragedi banjir besar di Sumatra berapa pekan silam.
Dalam metode kritik sastra mutakhir, teks ini dapat dibaca melalui pendekatan naratologi yang mengurai struktur naratif, resepsi estetik, serta fungsi bahasa menurut teori bahasa Karl Bühler, dengan dukungan perspektif strukturalisme dan konstruksi sosial atas realitas.
Struktur teks puisi esai ini, sebagaimana dirujuk dari Jonathan Culler dalam Structuralist Poetics(1976), menampilkan relasi antara tanda dan makna yang tidak berhenti pada level denotatif.
Bukit yang berbicara sebagai subjek liris adalah metafora yang menggeser fungsi bahasa dari sekadar representasi menuju performativitas.
📚 Artikel Terkait
Mario Andreotti(78) — kritikus sastra, pengajar, dan penulis, terutama dalam bidang Germanistik dan teori sastra modern di Universitas St. Gallen — dalam Die Struktur der modernen Literatur(1983) menekankan bahwa struktur modern selalu menampilkan ketegangan antara tradisi dan inovasi.
Dalam puisi esai ini, tradisi personifikasi alam berpadu dengan inovasi bentuk esai yang menyisipkan fakta tragedi sosial, sehingga teks menjadi hibrida antara fiksi dan dokumentasi.
Di luar pandangan Jausst, resepsi estetik yang muncul dapat dibaca melalui fungsi emotif dan fatik menurut Karl Bühler.
Fungsi emotif hadir dalam suara bukit yang mengekspresikan kesedihan, sebuah proyeksi emosional yang mengikat pembaca pada tragedi.
Fungsi fatik muncul dalam pembukaan esai yang menyebutkan fakta banjir dan jumlah korban, sebagai cara menjaga kontak dengan realitas sosial pembaca.
Merujuk Sprachtheorie(1943), Bühler merumuskan model organon yang terdiri dari tiga fungsi utama bahasa:
/1/ Darstellungsfunktion(fungsi representasi): bahasa menyampaikan isi atau fakta.
/2/ Ausdrucksfunktion(fungsi ekspresif): bahasa mengekspresikan keadaan batin penutur.
/3/ Appellfunktion(fungsi apelatif/panggilan): bahasa mengarahkan atau memanggil tindakan dari pendengar.
Dengan demikian proses Appellstruktur dalam puisi esai Denny JA dalam respon metapoetik tragedi bencana banjir sedikit dapat dipahami sebagai berikut:
Suara bukit yang “menangis” bukan hanya ekspresi emosional(fungsi ekspresif), tetapi juga memanggil pembaca untuk merasakan tragedi dan menumbuhkan empati sosial.
Fakta banjir dan korban yang disebutkan di bagian esai berfungsi sebagai kontak sosial(fungsi fatik) sekaligus memperkuat Appellstruktur, karena pembaca diarahkan untuk tidak sekadar menikmati estetika, tetapi juga menyadari realitas sosial.
Dengan demikian, puisi esai menggabungkan fungsi emotif dan apelatif, menjadikan bahasa sebagai medium yang menggerakkan kesadaran kolektif.
Sementara, dalam perspektif sosiologi(pengetahuan) bahasa, sebagaimana dirumuskan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality (1966;1990), puisi esai ini bisa berfungsi sebagai fakta sosial yang mengonstruksi realitas faktual bencana.
Narasi bukit yang longsor bukan sekadar imajinasi, melainkan bagian dari konstruksi sosial atas tragedi yang dialami masyarakat.
Dengan demikian, teks ini menjadi medium yang mempertautkan bahasa, realitas, dan kesadaran kolektif.
Naratologi strukturalis, sebagaimana diacu dari Levi-Strauss dan Vladimir Propp dalam Morphology of Folktales(edisi revisi,1968), berhasil mengidentifikasi 31 fungsi naratif yang membentuk pola universal cerita rakyat.
Dengan varian identifikasi fungsi naratif(naratologi) memungkinkan kita membaca puisi esai ini sebagai kisah dengan morfologi tertentu.
Semisal, bukit sebagai tokoh utama berperan seperti figur mitologis yang membawa malapetaka.
Struktur naratifnya mengikuti pola tragedi rakyat: keseimbangan alam(hutan dan akar leluhur) terganggu, lalu terjadi bencana(longsor), yang menelan korban(satu keluarga).
Pola ini mengingatkan pada fungsi naratif Propp tentang “penderitaan” dan “kehancuran” sebagai elemen morfologis cerita rakyat, namun dihadirkan dalam bentuk modern yang bercampur dengan fakta jurnalistik.
Dengan demikian, menulis puisi dengan konteks atau teks esai bukan sekadar eksperimen bentuk, melainkan kritik sosial yang memanfaatkan struktur naratif, fungsi bahasa, dan konstruksi realitas.
Puisi esai Denny JA, sedikit dari contoh ini, memperlihatkan bagaimana sastra mutakhir mampu menggabungkan emotivitas estetis dengan dokumentasi faktual, sehingga menghadirkan teks yang berfungsi ganda: sebagai karya seni dan sebagai catatan sosial.
#coverlagu: Lagu “Berita Kepada Kawan” karya Ebiet G. Ade dirilis pada 1979 dalam album Camellia II. Ebiet G. Ade lahir 21 April 1954, sehingga pada tahun 2025 ia berusia 71 tahun.
Makna lagu ini adalah pesan duka atas bencana alam (tragedi Kawah Sinila, Dieng, 1979) sekaligus seruan empati dan kepedulian terhadap alam serta sesama manusia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






