POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Solidaritas Retak di Tengah Bencana

Awalin Ridha, S. PdOleh Awalin Ridha, S. Pd
December 11, 2025
Tags: AcehBanjirLomba MenulisLongsorSumatera
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Awalin Ridha

Banjir yang melanda Aceh akhir-akhir ini tidak hanya merendam rumah, jalan, dan sawah, tetapi juga meninggalkan genangan luas yang memantulkan kenyataan pahit tentang diri kita sebagai masyarakat. Genangan itu seperti kaca besar yang tiba-tiba diletakkan di tengah desa, memantulkan bukan hanya langit kelabu, melainkan juga bayang-bayang rapuh dari solidaritas yang selama ini kita banggakan.

Ketika relawan yang datang membawa niat baik dipaksa membayar hingga jutaan rupiah untuk menyeberang perahu, dan ketika korban bencana yang sedang mencari keluarga atau menjemput bantuan beras ikut dimintai ongkos, kita disadarkan bahwa air bah bukan lagi tantangan terbesar. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kemanusiaan bisa surut pada saat air naik.

Sementara warga sibuk menyelamatkan diri dan harta yang tersisa, harga kebutuhan pokok melesat seperti sesuatu yang kehilangan kendali. Beras yang biasanya menjadi sandaran dapur melompat menjadi Rp400.000 hingga Rp500.000 per sak, seolah-olah setiap butirnya menanggung beban kecemasan. Air galon isi ulang dijual Rp30.000, dan BBM melonjak ke Rp100.000 per liter, seperti harga yang ikut naik mengikuti tinggi banjir.

Di saat dapur-dapur tak lagi mengepul, biaya hidup justru melambung seperti asap yang tak memiliki arah pulang. Rasanya seakan setiap belanjaan bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal pertarungan antara harapan dan kenyataan pahit.

Pada situasi yang kacau seperti ini, aturan yang biasanya menjadi pegangan sehari-hari runtuh bagai pagar tua yang dihantam arus deras. Ketika jalan terputus, listrik padam, dan pemerintah kewalahan, ruang sosial tiba-tiba menjadi lapang tetapi kosong, dan kekosongan selalu mengundang pihak-pihak baru untuk mengisinya. Di tengah kebingungan itu, tampaklah mereka yang memegang akses, para pemilik perahu yang mendadak menjadi penentu nasib, penjaga jalur yang merasa berhak mengatur siapa yang boleh lewat, hingga orang-orang yang membuka jalan bagi korban pun ikut mematok harga. Perahu yang selama ini hanya alat sederhana berubah menjadi gerbang yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang mampu membayar ongkosnya.

Dalam kondisi lembap oleh ketidakpastian, oknum-oknum hidup subur seperti lumut pasca hujan. Mereka tumbuh cepat, menempel diam-diam, dan sulit dibersihkan ketika dibiarkan terlalu lama. Situasi darurat yang seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan justru berubah menjadi tanah basah tempat praktik-praktik oportunis menemukan pijakannya.

📚 Artikel Terkait

Jeritan Banjir Sumatera- Tangkap dan Hukum Cukong di Balik Itu, Bukan Pekerja yang Dibayar 100 Ribu Perhari

HABA Si PATok

Indonesia Darurat Mikroplastik: Saat Konsumsi Sehari-hari Menjadi Ancaman di Masa Depan

Pacar Baru

Kita mungkin terkejut, namun lewat perspektif psikologi sosial, fenomena seperti ini bukan hal yang ganjil. Ketika ketakutan datang tanpa jeda manusia mudah masuk ke mode bertahan hidup. Pada keadaan seperti itu, moral berubah layaknya garis tipis di pasir yang tersapu air. Ia tidak lenyap, tetapi mudah goyah, mudah berubah, dan mudah digeser oleh kebutuhan mendesak.

Melalui kondisi ekstrem tersebut, pungutan terhadap relawan dan korban tidak lagi dipandang sebagai tindakan salah, melainkan peluang kecil untuk menyambung hidup. Sebagian orang merasa wajar mengambil keuntungan dari situasi, karena di benak mereka tidak ada lagi yang pasti selain kebutuhan sendiri. Relawan yang membawa logistik dipersepsikan sebagai pihak yang “punya lebih,” sementara korban lain dipandang sebagai pesaing dalam berebut sumber daya. Ketika pikiran telah dipenuhi rasa cemas, batas antara benar dan salah menjadi kabur, seperti bayangan di permukaan air yang keruh.

Yang memperumit keadaan ialah pembiaran yang berlangsung tanpa suara. Tanpa komando tunggal, masyarakat di lapangan bergerak seperti kendaraan di jalan tanpa rambu. Tidak ada arah yang jelas, tidak ada aturan yang tegas, dan tidak ada penegasan moral yang mampu menghalangi praktik-praktik yang semestinya dihentikan.

Keluhan relawan dan korban menguap sebelum mencapai telinga yang berwenang, sementara rumor dan prasangka bertunas cepat seperti rumput setelah hujan deras. Pada kekosongan informasi resmi, cerita-cerita liar berkembang lebih cepat dari bantuan yang datang. Tindakan yang salah tampak biasa, dan yang biasa berubah menjadi kebiasaan. Di titik itulah solidaritas yang selama ini dibanggakan mulai retak, bukan lenyap sepenuhnya, tetapi terlalu lama diguncang oleh ketakutan, rasa tak aman, dan tekanan hidup yang menghimpit.

Jika kita menengok lebih dalam melalui kaca pengalaman ini, bencana tersebut bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang sistem sosial yang diuji oleh keadaan ekstrem. Ketika fasilitas runtuh, harga naik tanpa kendali, dan informasi terputus, masyarakat terpaksa bergantung pada struktur-struktur kecil yang muncul spontan di lapangan.

Masalahnya, struktur spontan itu tidak selalu tumbuh dari nilai kebersamaan. Sering kali ia tumbuh dari rasa takut, dan rasa takut jarang menghasilkan keputusan bijak. Bahkan setelah air surut nanti, sisa-sisa dari struktur sementara itu tetap tinggal, mengendap dalam bentuk kecurigaan, rasa kecewa, dan fragmen kecil dari solidaritas yang terkoyak.

Akhirnya, pungutan kepada relawan dan korban bencana bukan hanya perkara uang. Ini adalah peringatan keras bahwa ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, solidaritas bisa tergerus seperti tanah di pinggir sungai. Air banjir suatu hari akan surut, itu pasti. Tetapi lumut-lumut yang tumbuh pada permukaan retakan sosial kita tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan menunggu, apakah kita membersihkannya, atau membiarkannya tumbuh hingga menutupi wajah kemanusiaan yang seharusnya tetap bersih.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tags: AcehBanjirLomba MenulisLongsorSumatera
Awalin Ridha, S. Pd

Awalin Ridha, S. Pd

Awalin Ridha, S. Pd, pemerhati pendidikan, sosial dan politik. Penulis opini di media masa online.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Bencana Alam atau Pembiaraan Negara?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00