• Latest

Ketika Solidaritas Retak di Tengah Bencana

Desember 11, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Solidaritas Retak di Tengah Bencana

Awalin Ridha, S. Pdby Awalin Ridha, S. Pd
Desember 13, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: AcehBanjirLomba MenulisLongsorSumatera
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Awalin Ridha

Banjir yang melanda Aceh akhir-akhir ini tidak hanya merendam rumah, jalan, dan sawah, tetapi juga meninggalkan genangan luas yang memantulkan kenyataan pahit tentang diri kita sebagai masyarakat. Genangan itu seperti kaca besar yang tiba-tiba diletakkan di tengah desa, memantulkan bukan hanya langit kelabu, melainkan juga bayang-bayang rapuh dari solidaritas yang selama ini kita banggakan.

Ketika relawan yang datang membawa niat baik dipaksa membayar hingga jutaan rupiah untuk menyeberang perahu, dan ketika korban bencana yang sedang mencari keluarga atau menjemput bantuan beras ikut dimintai ongkos, kita disadarkan bahwa air bah bukan lagi tantangan terbesar. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kemanusiaan bisa surut pada saat air naik.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sementara warga sibuk menyelamatkan diri dan harta yang tersisa, harga kebutuhan pokok melesat seperti sesuatu yang kehilangan kendali. Beras yang biasanya menjadi sandaran dapur melompat menjadi Rp400.000 hingga Rp500.000 per sak, seolah-olah setiap butirnya menanggung beban kecemasan. Air galon isi ulang dijual Rp30.000, dan BBM melonjak ke Rp100.000 per liter, seperti harga yang ikut naik mengikuti tinggi banjir.

Di saat dapur-dapur tak lagi mengepul, biaya hidup justru melambung seperti asap yang tak memiliki arah pulang. Rasanya seakan setiap belanjaan bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal pertarungan antara harapan dan kenyataan pahit.

Pada situasi yang kacau seperti ini, aturan yang biasanya menjadi pegangan sehari-hari runtuh bagai pagar tua yang dihantam arus deras. Ketika jalan terputus, listrik padam, dan pemerintah kewalahan, ruang sosial tiba-tiba menjadi lapang tetapi kosong, dan kekosongan selalu mengundang pihak-pihak baru untuk mengisinya. Di tengah kebingungan itu, tampaklah mereka yang memegang akses, para pemilik perahu yang mendadak menjadi penentu nasib, penjaga jalur yang merasa berhak mengatur siapa yang boleh lewat, hingga orang-orang yang membuka jalan bagi korban pun ikut mematok harga. Perahu yang selama ini hanya alat sederhana berubah menjadi gerbang yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang mampu membayar ongkosnya.

Dalam kondisi lembap oleh ketidakpastian, oknum-oknum hidup subur seperti lumut pasca hujan. Mereka tumbuh cepat, menempel diam-diam, dan sulit dibersihkan ketika dibiarkan terlalu lama. Situasi darurat yang seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan justru berubah menjadi tanah basah tempat praktik-praktik oportunis menemukan pijakannya.

Kita mungkin terkejut, namun lewat perspektif psikologi sosial, fenomena seperti ini bukan hal yang ganjil. Ketika ketakutan datang tanpa jeda manusia mudah masuk ke mode bertahan hidup. Pada keadaan seperti itu, moral berubah layaknya garis tipis di pasir yang tersapu air. Ia tidak lenyap, tetapi mudah goyah, mudah berubah, dan mudah digeser oleh kebutuhan mendesak.

Melalui kondisi ekstrem tersebut, pungutan terhadap relawan dan korban tidak lagi dipandang sebagai tindakan salah, melainkan peluang kecil untuk menyambung hidup. Sebagian orang merasa wajar mengambil keuntungan dari situasi, karena di benak mereka tidak ada lagi yang pasti selain kebutuhan sendiri. Relawan yang membawa logistik dipersepsikan sebagai pihak yang “punya lebih,” sementara korban lain dipandang sebagai pesaing dalam berebut sumber daya. Ketika pikiran telah dipenuhi rasa cemas, batas antara benar dan salah menjadi kabur, seperti bayangan di permukaan air yang keruh.

Yang memperumit keadaan ialah pembiaran yang berlangsung tanpa suara. Tanpa komando tunggal, masyarakat di lapangan bergerak seperti kendaraan di jalan tanpa rambu. Tidak ada arah yang jelas, tidak ada aturan yang tegas, dan tidak ada penegasan moral yang mampu menghalangi praktik-praktik yang semestinya dihentikan.

Keluhan relawan dan korban menguap sebelum mencapai telinga yang berwenang, sementara rumor dan prasangka bertunas cepat seperti rumput setelah hujan deras. Pada kekosongan informasi resmi, cerita-cerita liar berkembang lebih cepat dari bantuan yang datang. Tindakan yang salah tampak biasa, dan yang biasa berubah menjadi kebiasaan. Di titik itulah solidaritas yang selama ini dibanggakan mulai retak, bukan lenyap sepenuhnya, tetapi terlalu lama diguncang oleh ketakutan, rasa tak aman, dan tekanan hidup yang menghimpit.

Jika kita menengok lebih dalam melalui kaca pengalaman ini, bencana tersebut bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang sistem sosial yang diuji oleh keadaan ekstrem. Ketika fasilitas runtuh, harga naik tanpa kendali, dan informasi terputus, masyarakat terpaksa bergantung pada struktur-struktur kecil yang muncul spontan di lapangan.

Masalahnya, struktur spontan itu tidak selalu tumbuh dari nilai kebersamaan. Sering kali ia tumbuh dari rasa takut, dan rasa takut jarang menghasilkan keputusan bijak. Bahkan setelah air surut nanti, sisa-sisa dari struktur sementara itu tetap tinggal, mengendap dalam bentuk kecurigaan, rasa kecewa, dan fragmen kecil dari solidaritas yang terkoyak.

Akhirnya, pungutan kepada relawan dan korban bencana bukan hanya perkara uang. Ini adalah peringatan keras bahwa ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, solidaritas bisa tergerus seperti tanah di pinggir sungai. Air banjir suatu hari akan surut, itu pasti. Tetapi lumut-lumut yang tumbuh pada permukaan retakan sosial kita tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan menunggu, apakah kita membersihkannya, atau membiarkannya tumbuh hingga menutupi wajah kemanusiaan yang seharusnya tetap bersih.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Bencana Alam atau Pembiaraan Negara?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com