Dengarkan Artikel
Oleh Awalin Ridha
Banjir yang melanda Aceh akhir-akhir ini tidak hanya merendam rumah, jalan, dan sawah, tetapi juga meninggalkan genangan luas yang memantulkan kenyataan pahit tentang diri kita sebagai masyarakat. Genangan itu seperti kaca besar yang tiba-tiba diletakkan di tengah desa, memantulkan bukan hanya langit kelabu, melainkan juga bayang-bayang rapuh dari solidaritas yang selama ini kita banggakan.
Ketika relawan yang datang membawa niat baik dipaksa membayar hingga jutaan rupiah untuk menyeberang perahu, dan ketika korban bencana yang sedang mencari keluarga atau menjemput bantuan beras ikut dimintai ongkos, kita disadarkan bahwa air bah bukan lagi tantangan terbesar. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana kemanusiaan bisa surut pada saat air naik.
Sementara warga sibuk menyelamatkan diri dan harta yang tersisa, harga kebutuhan pokok melesat seperti sesuatu yang kehilangan kendali. Beras yang biasanya menjadi sandaran dapur melompat menjadi Rp400.000 hingga Rp500.000 per sak, seolah-olah setiap butirnya menanggung beban kecemasan. Air galon isi ulang dijual Rp30.000, dan BBM melonjak ke Rp100.000 per liter, seperti harga yang ikut naik mengikuti tinggi banjir.
Di saat dapur-dapur tak lagi mengepul, biaya hidup justru melambung seperti asap yang tak memiliki arah pulang. Rasanya seakan setiap belanjaan bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal pertarungan antara harapan dan kenyataan pahit.
Pada situasi yang kacau seperti ini, aturan yang biasanya menjadi pegangan sehari-hari runtuh bagai pagar tua yang dihantam arus deras. Ketika jalan terputus, listrik padam, dan pemerintah kewalahan, ruang sosial tiba-tiba menjadi lapang tetapi kosong, dan kekosongan selalu mengundang pihak-pihak baru untuk mengisinya. Di tengah kebingungan itu, tampaklah mereka yang memegang akses, para pemilik perahu yang mendadak menjadi penentu nasib, penjaga jalur yang merasa berhak mengatur siapa yang boleh lewat, hingga orang-orang yang membuka jalan bagi korban pun ikut mematok harga. Perahu yang selama ini hanya alat sederhana berubah menjadi gerbang yang hanya dapat dilalui oleh mereka yang mampu membayar ongkosnya.
Dalam kondisi lembap oleh ketidakpastian, oknum-oknum hidup subur seperti lumut pasca hujan. Mereka tumbuh cepat, menempel diam-diam, dan sulit dibersihkan ketika dibiarkan terlalu lama. Situasi darurat yang seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan justru berubah menjadi tanah basah tempat praktik-praktik oportunis menemukan pijakannya.
📚 Artikel Terkait
Kita mungkin terkejut, namun lewat perspektif psikologi sosial, fenomena seperti ini bukan hal yang ganjil. Ketika ketakutan datang tanpa jeda manusia mudah masuk ke mode bertahan hidup. Pada keadaan seperti itu, moral berubah layaknya garis tipis di pasir yang tersapu air. Ia tidak lenyap, tetapi mudah goyah, mudah berubah, dan mudah digeser oleh kebutuhan mendesak.
Melalui kondisi ekstrem tersebut, pungutan terhadap relawan dan korban tidak lagi dipandang sebagai tindakan salah, melainkan peluang kecil untuk menyambung hidup. Sebagian orang merasa wajar mengambil keuntungan dari situasi, karena di benak mereka tidak ada lagi yang pasti selain kebutuhan sendiri. Relawan yang membawa logistik dipersepsikan sebagai pihak yang “punya lebih,” sementara korban lain dipandang sebagai pesaing dalam berebut sumber daya. Ketika pikiran telah dipenuhi rasa cemas, batas antara benar dan salah menjadi kabur, seperti bayangan di permukaan air yang keruh.
Yang memperumit keadaan ialah pembiaran yang berlangsung tanpa suara. Tanpa komando tunggal, masyarakat di lapangan bergerak seperti kendaraan di jalan tanpa rambu. Tidak ada arah yang jelas, tidak ada aturan yang tegas, dan tidak ada penegasan moral yang mampu menghalangi praktik-praktik yang semestinya dihentikan.
Keluhan relawan dan korban menguap sebelum mencapai telinga yang berwenang, sementara rumor dan prasangka bertunas cepat seperti rumput setelah hujan deras. Pada kekosongan informasi resmi, cerita-cerita liar berkembang lebih cepat dari bantuan yang datang. Tindakan yang salah tampak biasa, dan yang biasa berubah menjadi kebiasaan. Di titik itulah solidaritas yang selama ini dibanggakan mulai retak, bukan lenyap sepenuhnya, tetapi terlalu lama diguncang oleh ketakutan, rasa tak aman, dan tekanan hidup yang menghimpit.
Jika kita menengok lebih dalam melalui kaca pengalaman ini, bencana tersebut bukan hanya soal air yang meluap, tetapi tentang sistem sosial yang diuji oleh keadaan ekstrem. Ketika fasilitas runtuh, harga naik tanpa kendali, dan informasi terputus, masyarakat terpaksa bergantung pada struktur-struktur kecil yang muncul spontan di lapangan.
Masalahnya, struktur spontan itu tidak selalu tumbuh dari nilai kebersamaan. Sering kali ia tumbuh dari rasa takut, dan rasa takut jarang menghasilkan keputusan bijak. Bahkan setelah air surut nanti, sisa-sisa dari struktur sementara itu tetap tinggal, mengendap dalam bentuk kecurigaan, rasa kecewa, dan fragmen kecil dari solidaritas yang terkoyak.
Akhirnya, pungutan kepada relawan dan korban bencana bukan hanya perkara uang. Ini adalah peringatan keras bahwa ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, solidaritas bisa tergerus seperti tanah di pinggir sungai. Air banjir suatu hari akan surut, itu pasti. Tetapi lumut-lumut yang tumbuh pada permukaan retakan sosial kita tidak akan hilang begitu saja. Mereka akan menunggu, apakah kita membersihkannya, atau membiarkannya tumbuh hingga menutupi wajah kemanusiaan yang seharusnya tetap bersih.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






