POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Indonesia Kehilangan Arah

Saat Negara Terlalu Besar untuk Dikelola dan Terlalu Lemah untuk Menjawab Tuntutan Global

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 3, 2025
Diperlukan BRR Baru Untuk Aceh,Sumut dan Sumbar
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Indonesia hari ini berdiri di persimpangan pilihan: terus mempertahankan struktur yang ada — dengan semua kelemahan dan inefisiensinya — atau berani mempertimbangkan kembali bentuk negara dan tata kelola agar sesuai dengan tuntutan zaman.

Krisis seperti kelangkaan BBM atau gas, distribusi pangan yang tak merata, kegagalan layanan publik, dan melemahnya daya kritis masyarakat bukan hanya merupakan kegagalan teknis. Ini adalah tanda bahwa sistem politik dan struktural kita jauh tertinggal dibandingkan banyak negara di dunia.

Pelajaran dari Negara Federal dan Desentralisasi: Bukti Internasional

Banyak literatur dan studi komparatif menunjukkan bahwa sistem federal atau desentralisasi memiliki potensi meningkatkan layanan publik, responsivitas pemerintah, dan akuntabilitas lokal — terutama di negara dengan wilayah luas dan keragaman budaya seperti Indonesia.

Dalam sistem federal, pemerintah daerah (negara bagian/prinsip otonomi lokal) mendapatkan wewenang politik, administratif, dan hukum tertentu — sehingga kebijakan dapat disesuaikan menurut kondisi lokal. Keuntungan ini antara lain:

Membantu “mengakomodasi keragaman” — etnis, bahasa, agama, budaya.

Meningkatkan responsivitas dan efektivitas pelayanan publik: daerah bisa lebih cepat tanggap terhadap kebutuhan lokal.

Memungkinkan daerah menjadi “laboratorium kebijakan”: jika satu provinsi berhasil dengan suatu kebijakan lokal, bisa dijadikan model bagi provinsi lain.

Meringankan beban pemerintahan pusat, sehingga pusat bisa fokus pada isu strategis nasional, bukan hal sehari-hari yang berbeda untuk tiap daerah.

Sebagai bukti empiris bahwa desentralisasi atau otonomi lokal bisa meningkatkan efisiensi, laporan internasional tentang “fiscal federalism” menunjukkan bahwa negara-negara yang mengatur fiskal dan layanan publik melalui struktur subnasional (daerah) sering memiliki performa publik lebih baik, terutama dalam hal investasi lokal, manajemen anggaran, dan respons terhadap krisis.

Contoh: penelitian terbaru menunjukkan bahwa pendekatan pemerintahan berbasis data dan partisipasi warga dalam kebijakan publik — seperti yang dilakukan di suatu kota di Swiss — secara signifikan meningkatkan legitimasi kebijakan dan kualitas hidup warga.

Secara global, banyak negara besar dan beragam memilih model federalisme/ desentralisasi — seperti Amerika Serikat, Jerman, India, Brasil — sebagai struktur yang memungkinkan pengelolaan lebih realistis atas pluralitas wilayah dan kompleksitas sosial-ekonomi.

Kenapa Indonesia Tertinggal: Infrastruktur Institusional yang Tidak Sesuai

Indonesia, di sisi lain, tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan dengan struktur sentralistik. Konsekuensi dari bentuk ini: kebijakan sering bersifat “general”—satu kebijakan dipaksakan ke seluruh wilayah — tanpa mempertimbangkan keragaman demografis, geografi, budaya maupun kebutuhan lokal. Hasilnya adalah ketidakefisienan, ketidakadilan distribusi, serta penumpukan masalah di pusat.

Dengan populasi 280+ juta dan ribuan pulau, beban pengambilan keputusan, distribusi sumber daya, dan pemberian layanan publik menjadi sangat kompleks. Sistem yang terlalu menumpuk di pusat memperlambat layanan dasar, dan memberi ruang bagi penyimpangan seperti korupsi, pemangsaan distribusi, dan “rent-seeking” elit.

Lebih jauh, ketika masyarakat tidak dilibatkan secara aktif dalam pengambilan kebijakan — atau ketika data dan transparansi tidak menjadi basis keputusan — maka kebijakan publik mudah gagal menjawab realitas di lapangan. Global menunjukkan bahwa negara-negara yang mengadopsi pemerintahan berbasis data, partisipasi warga dan desentralisasi cenderung lebih adaptif, responsif, dan stabil.

📚 Artikel Terkait

Mengajarkan Anak Menjadi Manusia Seutuhnya

Manfaat dan Tantangan Gadget bagi Perkembangan Anak

Banjir dan Kerusakan Alam Aceh

Sindiran Terhadap Nabi Umat Islam

Tidak Cukup Sekadar Desentralisasi — Negara Kita Butuh Reformasi Struktural Fundamental

Namun, sebelum kita begitu antusias menyambut federalisme, penting diingat bahwa bentuk federal bukanlah jaminan otomatis keberhasilan. Banyak studi menunjukkan bahwa federalisme bisa mengalami “backsliding demokrasi” terutama jika tidak disertai dengan sistem checks and balances, independensi lembaga peradilan, media bebas, dan masyarakat sipil yang kuat.

Bahkan dalam sistem federal, jika korupsi daerah tinggi atau kapasitas pemerintah lokal lemah, desentralisasi bisa memperkuat ketimpangan dan ketidakadilan—sebagaimana terjadi di beberapa negara federal di dunia.

Artinya, jika Indonesia ingin mengambil jalan federalisme atau pembagian wilayah, kita harus menerapkannya secara disertai dengan:transparansi anggaran dan kebijakan publik,akuntabilitas kuat di tiap daerah, penguatan kapasitas administratif dan pemerintahan daerah, sistem checks and balances (peradilan, media, masyarakat sipil),data-driven governance & partisipasi warga dalam pengambilan keputusan.

Model seperti “open government data” dan “participatory budgeting” (anggaran partisipatif) bisa menjadi bagian dari reformasi — sehingga kebijakan benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat dan dievaluasi secara terbuka.

Alternatif Nyata: Federalisme atau Pemecahan Wilayah?

Dengan semua kelemahan sistem saat ini dan potensi keuntungan dari desentralisasi/federalisme, muncul dua alternatif nyata:

  1. Transformasi ke Negara Federal

Indonesia bisa mentransformasi struktur menjadi federal: pemerintah pusat menangani pertahanan, diplomasi, fiskal nasional, sedangkan “provinsi besar / wilayah besar” memiliki otonomi luas — dari pendidikan, energi, layanan publik, hingga kebijakan ekonomi lokal. Ini memungkinkan setiap wilayah bertindak sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan rakyat setempat.

Jika disertai mekanisme transparansi, akuntabilitas, dan pemerintahan yang bersih — federalisme bisa memberi keadilan sosial, pemerataan pembangunan, serta efisiensi administrasi.

  1. Pembagian Negara — menjadi beberapa republik regional

Ini adalah opsi paling radikal dan paling provokatif: memecah Indonesia menjadi beberapa entitas negara merdeka/negara federasi sendiri — misalnya: Republik Jawa, Republik Sumatera, Republik Sulawesi, Republik Kalimantan, Republik Papua, dan seterusnya.

Dalam skenario ini, tiap republik bisa mengelola sumber daya alam dan ekonomi sesuai potensi lokal tanpa harus berbagi dengan pusat/sistem yang pusat-sentris. Negara-negara kecil seperti itu bisa lebih responsif, lebih dekat dengan rakyat, serta lebih mudah dikelola secara demokratis.

Tentu, opsi ini penuh risiko: potensi fragmentasi, disparitas antar wilayah, persaingan sumber daya, dan konflik jika tidak ada kerangka konstitusional dan kesepakatan bersama.

Tapi jika kita terus mempertahankan status quo — dengan elit berkuasa, distribusi tidak adil, dan ketidakmampuan institusi — maka lebih banyak penderitaan yang akan muncul, bukan penyelesaian.

Apa yang Bisa Kita — Masyarakat dan Intelektual — Lakukan Sekarang

Kita harus mendorong dialog terbuka: buka wacana federalisme, desentralisasi, atau bahkan pemecahan wilayah — tanpa tabu. Bahas secara terbuka di media, akademia, dan publik sipil.

Dorong transparansi data & pemerintahan berbasis data: adopsi sistem “e-government” dan “open data”, agar distribusi sumber daya dan kebijakan bisa dipantau publik, dan tidak sekadar di tangan elite.

Perkuat partisipasi masyarakat: melalui mekanisme seperti “participatory budgeting”, konsultasi publik, forum lokal — agar kebijakan benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat, bukan dari kepentingan atas nama “nasional”.

Bangun kapasitas lokal: pendidikan, lembaga hukum, pemerintahan daerah — agar jika desentralisasi atau federalisme terjadi, daerah memiliki kapasitas mengelola secara mandiri dan efektif.

Mendorong rekonstruksi politik dan budaya sipil: membangun kesadaran kolektif bahwa keadilan, transparansi, dan akuntabilitas adalah prasyarat negara maju — bukan beban.

Penutup: Waktu untuk Berani Berubah

Indonesia tidak bisa terus melanjutkan status quo tanpa konsekuensi serius. Jika kita terus membiarkan sistem yang rapuh, pemerintahan yang lamban, distribusi yang timpang, dan elit yang terus memperkaya diri — maka kita sesungguhnya sedang membiarkan masa depan anak-cucu kita dirampas.

Mungkin wacana federalisme atau pembagian negara terdengar radikal, provokatif, dan tabu. Tapi ketika krisis sudah berkepanjangan, ketika kebutuhan dasar rakyat gagal dijamin, kita tidak punya pilihan selain berpikir ulang — secara kritis dan berani.

Sebagai intelektual, pengamat, atau warga biasa — kita punya tanggung jawab moral untuk membuka diskusi, menyodorkan alternatif, dan menggugah kesadaran kolektif. Karena perubahan besar tidak pernah lahir dari diam. Perubahan besar lahir dari keberanian untuk menuntut ulang struktur, sistem, dan logika kenegaraan.

Jika kita tidak mulai sekarang, kapan lagi? Jika kita berhenti berusaha sekarang, siapa yang akan memulai perubahan?Indonesia hanya akan bergerak maju ketika keberanian, keadilan, dan kesadaran kolektif bersatu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Harmony with Nature: A Global and Islamic Perspective

Kritik Rasio Sinis Atas Bencana dan Bunuh Diri Ekologis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00