POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Di Tengah Banjir, Deforestasi, dan Sampah Plastik

RedaksiOleh Redaksi
November 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Sarah Salsabil

Mahasiswi Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

Ada masa ketika kita bangga menyebut Indonesia sebagai negeri yang subur, kaya, dan hijau. Namun perlahan, kenyataan mengguncang kita. Setiap musim hujan, kabar banjir datang dari berbagai daerah. Tanah longsor merenggut pemukiman di lereng-lereng bukit. Sungai mengalirkan gunungan sampah menuju laut, dan hutan-hutan yang dulu menjadi nafas bumi kini menyusut menjadi statistik deforestasi.

Di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang sering menghantui banyak anak muda, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada negeri kita? Dan apa yang bisa kita lakukan, meski kecil?”

Tim kecil dari Universitas Syiah Kuala yang beranggotakan Sarah Salsabil, Cut Dhinie Decita, dan Naja Luthfia Nuha merasakan kegelisahan itu. Mereka melihat tumpukan sampah plastik yang tidak terurai, limbah agroindustri yang menumpuk di belakang pabrik, dan pasar tradisional yang bergantung pada kemasan sekali pakai. 

Semua itu terasa seperti potongan puzzle yang menunjukkan betapa kehidupan modern telah menjauh dari harmoni dengan lingkungan. Mereka duduk bersama, tidak sebagai peneliti atau mahasiswa berprestasi, tetapi sebagai manusia yang sedang refleksi, ”Jika generasi kami hanya menjadi penonton, siapa yang akan memperbaiki kerusakan ini?”

Dari pergulatan batin itu lahirlah sebuah gagasan untuk mengubah limbah yang diabaikan menjadi solusi. Sesuatu yang sederhana, namun berarti, yaitu smart packaging dari limbah agroindustri. Kemasan cerdas yang bukan hanya menggantikan plastik, tetapi juga memberikan fungsi tambahan, mendeteksi kesegaran, memberi tanda ketika makanan mulai rusak, dan terurai kembali kepada alam tanpa meninggalkan jejak berbahaya.

📚 Artikel Terkait

Mengapa Bangsa Gagal?Analisis Kritis atas Pudarnya Nalar Panjang dan Dangkalan Kesadaran dalam Masyarakat Post-Kolonial

Hegemoni Dalam Budaya Aceh – Ulasan Artikel

Negara Gagal Ketika Anak Muda Turun ke Jalan dan Mati di Jalanan

Membangun Produktivitas Remaja Perempuan Aceh dalam Bidang Fashion Islami

Solusi kecil, tapi lahir dari hati yang ingin memperbaiki.

Mereka sadar bahwa di balik kemasan yang terlihat sepele, ada isu besar di baliknya, seperti plastik yang berakhir di sungai, hewan yang tertelan sampah, petani yang tak pernah dilibatkan dalam ekonomi sirkular, dan UMKM yang kesulitan menyediakan kemasan aman dan murah.

Smart packaging ini ingin menjawab itu semua, sekaligus mendukung gerakan global 5P (People, Planet, Prosperity, Peace, Partnership), lima pilar yang menggambarkan bagaimana pembangunan seharusnya berjalan: untuk manusia, selaras dengan bumi, membawa kesejahteraan, menjaga kedamaian sosial, dan dibangun melalui kolaborasi.

Ketika tim ini membawa gagasannya ke UI SDGs Summit 2025, mereka tahu inovasi mereka bukan sekadar teknologi. Namun, ini adalah bentuk introspeksi diri, sebuah pengakuan bahwa manusia yang telah terlalu banyak mengambil dari bumi, dan kini saatnya memberi kembali.

Para juri, para ahli yang bertahun-tahun bekerja di sektor keberlanjutan, mendengarkan cerita itu dengan serius. Ada Aditya Perdana Putra, S.T., yang berkecimpung dalam energi rendah karbon dan kebijakan lingkungan. Ada pula Dr. Eng. Astryd Viandila D., yang mendedikasikan penelitiannya pada waste-to-energy dan pengelolaan limbah. Mereka bukan sekadar menilai teknisnya, tetapi memahami konteks krisis yang melatarbelakangi lahirnya ide ini.

Kemudian, di ruangan itu, tim USK mengingat kembali alasan mereka memulai, yaitu keinginan untuk tidak tinggal diam. Keinginan untuk mengubah rasa gelisah menjadi tindakan.

Di tengah bencana ekologis, deforestasi, dan tumpukan plastik yang seolah tidak ada habisnya, mereka memilih mengambil langkah kecil. Langkah yang mungkin tampak sederhana, tetapi bisa menjadi titik balik jika dilakukan bersama oleh banyak orang.

Inilah cerita tentang inovasi, tetapi lebih dari itu, cerita tentang manusia. Tentang bagaimana kita belajar mendengarkan rintihan bumi, lalu menjawabnya dengan keberanian, kreativitas, dan harapan.

Dan mungkin… dari gagasan-gagasan kecil seperti inilah masa depan Indonesia yang lebih bersih mulai dibangun.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00