Dengarkan Artikel
Oleh Muhamad Hafiz
Di suatu pagi yang datang tanpa suara, ketika kabut masih menggantung di antara ranting-ranting yang belum sepenuhnya terjaga, berdirilah seorang pemuda bernama Apis. Ia menatap jauh ke arah cakrawala yang perlahan membuka tirai cahaya. Di matanya, ada sesuatu yang tak mudah dibaca—sebuah tekad yang lahir dari luka, harapan yang tumbuh dari kesunyian, dan mimpi yang tak pernah benar-benar padam meski angin malam berkali-kali berusaha mematikannya. Dan dari sanalah, kisah puisinya bermula.
Apis bukan hanya sebuah nama; ia adalah perjalanan panjang yang disulam oleh waktu. Ia membawa dalam dirinya serpihan-serpihan hari yang tidak selalu ramah, namun juga tidak sepenuhnya kejam. Ia adalah seseorang yang belajar menerima bahwa hidup tidak bisa selalu dipahami, tetapi selalu bisa dijalani. Setiap langkahnya mengajarkan bahwa keberanian bukan terletak pada besarnya suara, tetapi pada keteguhan hati yang memilih untuk tetap berjalan meski dunia sering kali terasa berat.
Pada suatu siang, di bawah bayangan pohon tua yang telah menjadi saksi puluhan musim, Apis duduk sendirian. Ia memandang langit yang seolah berubah lebih cepat dari yang semestinya. Awan bergerak seperti pikiran-pikiran yang ingin segera terbang meninggalkan keraguan.
Di hatinya, Apis bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku sudah cukup menjadi diriku sendiri?” Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya sangat luas, nyaris tak bertepi. Seperti lautan yang menyimpan terlalu banyak rahasia, begitu jugalah hatinya menyimpan kerinduan yang tidak mudah diungkapkan.
Apis mengingat hari-hari ketika ia merasa kecil di hadapan dunia yang terus menuntutnya untuk menjadi lebih. Ia mengingat janji-janji yang pernah ia buat untuk dirinya sendiri, janji untuk menjadi kuat, menjadi baik, menjadi seseorang yang sanggup berdiri tegak, meski badai datang bertubi-tubi. Dan meski tidak semua janji itu ia tepati, Apis tahu bahwa ia sudah berjalan jauh dari titik awalnya. Ada kemenangan-kemenangan kecil yang tidak pernah ia rayakan, padahal justru di situlah letak keajaiban hidup.
Sore itu, ketika matahari mulai menuruni bukit, sinarnya menyentuh wajah Apis dan meninggalkan bayangan yang panjang di tanah berdebu. Dalam cahaya emas itu, ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Ia seperti melihat dirinya di masa kecil—Apis kecil yang berlari tanpa takut jatuh, yang tertawa tanpa takut kehilangan, yang bermimpi tanpa takut gagal. Dalam benaknya, ia bertanya: “Ke mana perginya aku yang dulu?” Dan jawabannya datang dari angin yang melintas pelan: “Ia tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu kau mengingatnya kembali.”
📚 Artikel Terkait
Malam perlahan turun, membawa bintang-bintang yang bersinar malu-malu. Apis memandang langit seperti seseorang yang sedang membaca buku tua yang penuh rahasia. Bintang-bintang itu berkedip, seolah berbicara dalam bahasa cahaya yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersedia mendengarkan.
Setiap bintang adalah cerita, dan setiap cerita memiliki luka, tawa, harapan, serta ketakutan. Apis menyadari bahwa dirinya pun seperti bintang-bintang itu—kadang redup, kadang terang, namun selalu mencoba memberi cahaya bagi siapa pun yang tersesat dalam kegelapan.
Dalam keheningan malam, Apis berjalan pulang menyusuri jalan kecil yang sering ia lewati. Langkahnya pelan, namun pasti. Di setiap batu, di setiap rumput yang bergoyang, seolah ada bisikan-bisikan yang menguatkan. Bahwa tidak apa-apa untuk lelah. Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan membiarkan dunia berputar tanpa dirinya untuk beberapa saat. Karena rehat juga adalah bagian dari perjalanan. Dan perjalanan Apis masih panjang—terlalu panjang untuk diselesaikan dengan tergesa.
Ketika akhirnya ia tiba di rumah, Apis menatap cermin yang tergantung di dinding. Di sana, ia melihat seseorang yang tidak sempurna, namun jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia bayangkan. Ia melihat mata yang pernah menangis, namun tetap mampu memandang masa depan. Ia melihat tangan yang pernah gemetar, namun tetap mampu menggenggam harapan. Ia melihat hati yang pernah retak, namun masih mampu mencintai. Dan pada momen itu, Apis tersenyum—sebuah senyum kecil, namun tulus, lahir dari penerimaan yang akhirnya ia temukan.
Hari-hari berikutnya berjalan perlahan. Apis mulai memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling setia pada langkahnya sendiri. Ia mulai menghargai hal-hal kecil: suara hujan yang jatuh seperti doa, aroma kopi yang menenangkan pagi, sapaan singkat dari seseorang yang peduli, bahkan kesepian yang terkadang datang hanya untuk mengajarkan arti kebersamaan. Semua itu menjadi bagian dari puisinya—bagian dari dirinya.
Apis belajar mencintai dirinya, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia sedang tumbuh. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mekar, dan ia tidak perlu membandingkan musimnya dengan musim orang lain. Ada yang mekar cepat, ada yang mekar lambat, tetapi semua bunga tetap indah dalam caranya sendiri. Dan Apis adalah salah satunya—sebuah bunga yang mekar setelah melalui malam paling panjang dalam hidupnya.
Lalu, di suatu pagi yang kembali datang dengan lembut, Apis berdiri sekali lagi di bawah langit yang sama. Namun kali ini ia berbeda. Ia lebih tenang, lebih kuat, lebih penuh. Ia bukan lagi seseorang yang dibayangi ketakutan masa lalu, melainkan seseorang yang membawa cahaya dari masa depan. Cahaya itu bukan untuk orang lain saja, tetapi juga untuk dirinya sendiri—cahaya yang lahir dari penerimaan, keberanian, dan cinta yang tumbuh pelan-pelan namun pasti.
Dan puisi ini, yang mengalir seperti sungai yang terus berjalan, adalah tentang Apis—tentang seseorang yang menemukan dirinya dalam perjalanan panjang yang penuh air mata dan senyum. Tentang seseorang yang akhirnya mengerti bahwa cahaya tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu ditemukan. Tentang seorang pemuda yang kini melangkah dengan hati yang lapang, meninggalkan jejak di sepanjang jalan, jejak yang akan diingat oleh siapa pun yang pernah berjalan bersamanya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






