POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Apis, Penjaga Cahaya di Jalan Sunyi

RedaksiOleh Redaksi
November 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Muhamad Hafiz

Di suatu pagi yang datang tanpa suara, ketika kabut masih menggantung di antara ranting-ranting yang belum sepenuhnya terjaga, berdirilah seorang pemuda bernama Apis. Ia menatap jauh ke arah cakrawala yang perlahan membuka tirai cahaya. Di matanya, ada sesuatu yang tak mudah dibaca—sebuah tekad yang lahir dari luka, harapan yang tumbuh dari kesunyian, dan mimpi yang tak pernah benar-benar padam meski angin malam berkali-kali berusaha mematikannya. Dan dari sanalah, kisah puisinya bermula.

Apis bukan hanya sebuah nama; ia adalah perjalanan panjang yang disulam oleh waktu. Ia membawa dalam dirinya serpihan-serpihan hari yang tidak selalu ramah, namun juga tidak sepenuhnya kejam. Ia adalah seseorang yang belajar menerima bahwa hidup tidak bisa selalu dipahami, tetapi selalu bisa dijalani. Setiap langkahnya mengajarkan bahwa keberanian bukan terletak pada besarnya suara, tetapi pada keteguhan hati yang memilih untuk tetap berjalan meski dunia sering kali terasa berat.

Pada suatu siang, di bawah bayangan pohon tua yang telah menjadi saksi puluhan musim, Apis duduk sendirian. Ia memandang langit yang seolah berubah lebih cepat dari yang semestinya. Awan bergerak seperti pikiran-pikiran yang ingin segera terbang meninggalkan keraguan.

Di hatinya, Apis bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku sudah cukup menjadi diriku sendiri?” Pertanyaan itu sederhana, namun jawabannya sangat luas, nyaris tak bertepi. Seperti lautan yang menyimpan terlalu banyak rahasia, begitu jugalah hatinya menyimpan kerinduan yang tidak mudah diungkapkan.

Apis mengingat hari-hari ketika ia merasa kecil di hadapan dunia yang terus menuntutnya untuk menjadi lebih. Ia mengingat janji-janji yang pernah ia buat untuk dirinya sendiri, janji untuk menjadi kuat, menjadi baik, menjadi seseorang yang sanggup berdiri tegak, meski badai datang bertubi-tubi. Dan meski tidak semua janji itu ia tepati, Apis tahu bahwa ia sudah berjalan jauh dari titik awalnya. Ada kemenangan-kemenangan kecil yang tidak pernah ia rayakan, padahal justru di situlah letak keajaiban hidup.

Sore itu, ketika matahari mulai menuruni bukit, sinarnya menyentuh wajah Apis dan meninggalkan bayangan yang panjang di tanah berdebu. Dalam cahaya emas itu, ia merasakan kehangatan yang sudah lama hilang. Ia seperti melihat dirinya di masa kecil—Apis kecil yang berlari tanpa takut jatuh, yang tertawa tanpa takut kehilangan, yang bermimpi tanpa takut gagal. Dalam benaknya, ia bertanya: “Ke mana perginya aku yang dulu?” Dan jawabannya datang dari angin yang melintas pelan: “Ia tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu kau mengingatnya kembali.”

📚 Artikel Terkait

Festival Dosa Di India Yang Mengagetkan

Di Bukit Jalin Lembaga Pendidikan Tinggi Seni bernama ISBI Aceh Berdiri, Membangun Kebudayaan Aceh dan Nusantara

WIRAUSAHA BURUNG PUYUH DI ACEH

BENGKEL OPINI RAKyat

Malam perlahan turun, membawa bintang-bintang yang bersinar malu-malu. Apis memandang langit seperti seseorang yang sedang membaca buku tua yang penuh rahasia. Bintang-bintang itu berkedip, seolah berbicara dalam bahasa cahaya yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersedia mendengarkan.

Setiap bintang adalah cerita, dan setiap cerita memiliki luka, tawa, harapan, serta ketakutan. Apis menyadari bahwa dirinya pun seperti bintang-bintang itu—kadang redup, kadang terang, namun selalu mencoba memberi cahaya bagi siapa pun yang tersesat dalam kegelapan.

Dalam keheningan malam, Apis berjalan pulang menyusuri jalan kecil yang sering ia lewati. Langkahnya pelan, namun pasti. Di setiap batu, di setiap rumput yang bergoyang, seolah ada bisikan-bisikan yang menguatkan. Bahwa tidak apa-apa untuk lelah. Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan membiarkan dunia berputar tanpa dirinya untuk beberapa saat. Karena rehat juga adalah bagian dari perjalanan. Dan perjalanan Apis masih panjang—terlalu panjang untuk diselesaikan dengan tergesa.

Ketika akhirnya ia tiba di rumah, Apis menatap cermin yang tergantung di dinding. Di sana, ia melihat seseorang yang tidak sempurna, namun jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia bayangkan. Ia melihat mata yang pernah menangis, namun tetap mampu memandang masa depan. Ia melihat tangan yang pernah gemetar, namun tetap mampu menggenggam harapan. Ia melihat hati yang pernah retak, namun masih mampu mencintai. Dan pada momen itu, Apis tersenyum—sebuah senyum kecil, namun tulus, lahir dari penerimaan yang akhirnya ia temukan.

Hari-hari berikutnya berjalan perlahan. Apis mulai memahami bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling setia pada langkahnya sendiri. Ia mulai menghargai hal-hal kecil: suara hujan yang jatuh seperti doa, aroma kopi yang menenangkan pagi, sapaan singkat dari seseorang yang peduli, bahkan kesepian yang terkadang datang hanya untuk mengajarkan arti kebersamaan. Semua itu menjadi bagian dari puisinya—bagian dari dirinya.

Apis belajar mencintai dirinya, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia sedang tumbuh. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mekar, dan ia tidak perlu membandingkan musimnya dengan musim orang lain. Ada yang mekar cepat, ada yang mekar lambat, tetapi semua bunga tetap indah dalam caranya sendiri. Dan Apis adalah salah satunya—sebuah bunga yang mekar setelah melalui malam paling panjang dalam hidupnya.

Lalu, di suatu pagi yang kembali datang dengan lembut, Apis berdiri sekali lagi di bawah langit yang sama. Namun kali ini ia berbeda. Ia lebih tenang, lebih kuat, lebih penuh. Ia bukan lagi seseorang yang dibayangi ketakutan masa lalu, melainkan seseorang yang membawa cahaya dari masa depan. Cahaya itu bukan untuk orang lain saja, tetapi juga untuk dirinya sendiri—cahaya yang lahir dari penerimaan, keberanian, dan cinta yang tumbuh pelan-pelan namun pasti.

Dan puisi ini, yang mengalir seperti sungai yang terus berjalan, adalah tentang Apis—tentang seseorang yang menemukan dirinya dalam perjalanan panjang yang penuh air mata dan senyum. Tentang seseorang yang akhirnya mengerti bahwa cahaya tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu ditemukan. Tentang seorang pemuda yang kini melangkah dengan hati yang lapang, meninggalkan jejak di sepanjang jalan, jejak yang akan diingat oleh siapa pun yang pernah berjalan bersamanya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Tetap Semangat Wahai Guru, Walau di Tengah Gempuran Dunia yang Tidak Menentu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00