POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Nyanyian Terakhir Cenderawasih

Ilhamdi SulaimanOleh Ilhamdi Sulaiman
November 14, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

NYANYIAN TERAKHIR CENDRAWASIH

Oleh Ilham Sulaiman 

“Tanah ini bukan milik kami saja, ini milik roh-roh yang kau injak dengan sepatu besi itu.”

Suara Yoram pecah seperti petir di atas laut tenang. Ia berdiri di tengah tanah keramat kampung Sauwandarek, dengan dada telanjang, kulit menghitam karena matahari, dan tatapan yang menyala dari luka masa lalu. Di hadapannya, para petugas berseragam tampak kikuk—ada yang menatap tanah, ada yang pura-pura membuka peta. Di belakang mereka, tercium bau solar dan cat kapal, menyeruak di antara aroma pandan dan garam.

“Hutan itu bukan ladang uang. Laut itu bukan tambang. Dan Bukit Aingge bukan bukit biasa,itu dada bumi tempat nenek moyang kami meletakkan doa.”

Seorang pria memakai helm proyek berwarna kuning berlogo pemerintah mendekat dan menempuk nepuk pundak Yoram. 

“Bapak Yoram… Kami datang bukan untuk merampas, melainkan untuk mengajak. Ini untuk pembangunan. Untuk energi masa depan. Nikel dari Raja Ampat akan menyelamatkan dunia dari krisis iklim. Ini… investasi hijau.”

Yoram menatapnya lama. Matanya, yang pernah memandu turis menyelam di Palau Arborek, kini seperti kawah gunung yang menyimpan bara.

“Kau menyebut hijau,” gumamnya, “tapi apakah kau tahu warna langit saat burung cendrawasih terakhir melompat dari dahan itu?”

Pria itu terdiam.

Yoram menunjuk bukit di kejauhan, Aingge, tempat para leluhur dikuburkan dengan upacara tifa dan nyanyian. “Di sanalah cendrawasih menari. Sekarang kalian ingin menggali jantungnya, demi pabrik mobil listrik yang bahkan tak tahu di mana Raja Ampat berada.”

Ia menoleh pada warga kampung yang berdiri di belakangnya—para lelaki tua, ibu-ibu dengan anak di gendongan, pemuda-pemuda yang baru belajar membaca dokumen hukum, dan anak-anak yang belum tahu bahwa tanah tempat mereka bermain sebentar lagi akan jadi jalan tambang.

Tak ada suara.

Yoram menunduk, lalu berkata pelan, “Kalau kalian tetap menggali, jangan salahkan jika kami menggali tubuh kami sendiri untuk mengubur nama kalian di dalamnya.”

—

Dua malam setelah itu, rumah Yoram terbakar.

Api menjalar dari dapur hingga atap, menjilat kayu sagu yang sudah rapuh. Di antara suara kobaran, terdengar tangisan istrinya, Nore, yang terseret keluar rumah dengan lengan terbakar. Anaknya, Davin, berhasil keluar lebih dulu dan lari ke semak belukar. Yoram sendiri menahan luka di lengan kanan, sambil memandangi lidah-lidah api menari seperti setan menertawakan adat.

Tetua adat datang terlambat. Polisi lebih cepat. Tapi bukan untuk menyelidiki kebakaran.

Yoram ditangkap karena dituduh “memprovokasi warga” dan “menghambat pembangunan nasional.”

Ia dijebloskan ke tahanan kecil di Sorong, tanpa surat, tanpa pengacara. Di balik terali besi, ia menyaksikan berita di TV:

“Warga Raja Ampat Dukung Proyek Tambang Nikel Demi Masa Depan Energi Hijau”

Di layar, seorang pejabat berbicara:

“Kami sudah melakukan sosialisasi. Masyarakat adat menyambut dengan antusias. Ini bukan eksploitasi, ini kolaborasi.”

Yoram tersenyum tipis. Di dalam dada, perihnya lebih dalam daripada luka bakar di lengan.

“Burung cendrawasih,” gumamnya, “kau masih bisa bernyanyi?”

Tapi pagi itu, langit terlalu sunyi.

Sebelum semuanya menjadi sunyi, Yoram adalah penjaga harmoni.

Ia tumbuh di kampung kecil yang terletak di antara karang raksasa dan gugusan pulau seperti serpih surga yang dijatuhkan Tuhan ke lautan Pasifik. Laut di sini tak hanya biru—ia berlapis warna, dari biru susu sampai hijau zamrud. Ikan-ikan kecil berenang seperti huruf-huruf rahasia. Karang tumbuh seperti lukisan yang tak pernah selesai. Dan di atas sana, langit begitu jernih hingga awan pun tampak malu-malu.

Bagi orang kota, tempat ini adalah destinasi. Bagi Yoram, tempat ini adalah tubuhnya sendiri.

Ia mengenal tiap lengkung karang, tiap suara ombak. Ia tahu di mana bayi pari akan menetas, di mana kuda laut bermain, dan di mana suara cendrawasih menggema paling jernih setiap fajar.

Hari-hari Yoramiha menghabiskan sebagai penyelam dan pemandu wisata. Ia menyambut tamu dari jauh dengan bahasa patah-patah yang ia pelajari dari turis Australia. Tapi dalam tubuhnya mengalir bahasa yang lebih tua—bahasa air, bahasa tanah, bahasa roh.

Ia membawa tamu ke spot rahasia, tempat hiu berjalan bersembunyi. Di sanalah mereka bisa menyaksikan alam berdoa tanpa suara.

Dan setiap kali cendrawasih menari, Yoram merasa dirinya kecil—seperti titik pada kulit langit.

Tapi keharmonisan tak pernah bertahan lama jika kekuasaan mencium bau emas.

📚 Artikel Terkait

DI SEBUAH RUMAH ADAT ACEH

SLBS Mutiara Louser, Juara 2 O2SN Peserta Didik Berpendidikan Khusus Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2023

Puisi Mochamad Syu’aib

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Awalnya, kabar datang sebagai bisik.

“Katanya pemerintah akan buka tambang.”

“Katanya nikel di sini banyak. Lebih murni dari di Sulawesi.”

“Katanya ada investor besar dari luar negeri.”

Yoram tidak segera percaya. Tapi kemudian, kapal-kapal besar mulai bersandar diam-diam. Di dermaga yang biasanya hanya disinggahi perahu kayu nelayan, kini ada logam dingin dan pria-pria bersepatu tinggi.

Surat-surat datang menyusul: peta wilayah, izin pelepasan, dokumen pelelangan tanah.

Beberapa kepala kampung menandatangani, entah karena iming-iming proyek air bersih, entah karena tekanan dari atasan kabupaten.

Beberapa lainnya diam karena takut.

Yoram adalah satu dari sedikit yang menolak.

Ia pergi dari rumah ke rumah, membujuk warga agar tidak menjual tanah. Ia mengingatkan tentang sumpah leluhur, tentang darah yang mengikat manusia dengan hutan dan laut.

Tapi tak semua mau mendengar.

“Kalau kau terus menentang, anak-anak kita tetap akan hidup susah,” kata seorang tetua yang dulu bersamanya menabuh tifa.

“Kita perlu sekolah, rumah sakit, jaringan internet. Itu semua butuh uang,” kata seorang pemuda yang dulu diajari menyelam oleh Yoram.

Ironi paling pahit datang dari dalam.

Saudara sepupu Yoram sendiri, yang kini menjabat sebagai staf di kantor distrik, berkata:

“Om Yoram, dunia sudah berubah. Kalau kita tidak ikut arus, kita akan ditinggal.”

Yoram menjawab pelan, “Kalau arus membawa kita ke jurang, untuk apa ikut?”

Tapi jawaban seperti itu kini terdengar seperti suara tua dari zaman yang tak lagi dianggap penting.

Di waktu yang bersamaan, laut mulai berubah.

Air menjadi keruh. Ikan-ikan kecil menghilang dari kawasan yang dulunya ramai. Tumpukan sampah muncul entah dari mana. Dan lebih menyakitkan lagi—burung cendrawasih tak lagi datang setiap pagi.

Yoram tahu, perubahan bukan hanya soal alam yang rusak. Retakan juga mulai menjalar di tubuh masyarakat sendiri. Sesama warga kampung saling curiga. Ada yang diam karena disogok. Ada yang bicara tapi tak didengar. Dan ada pula yang hanya ingin hidup tenang, tanpa memilih pihak.

“Ini bukan hanya soal tambang,” bisik Yoram pada istrinya, Nore.

“Ini soal kehilangan jiwa. Jiwa tanah ini. Jiwa kita semua.”

Nore hanya menatap jauh ke laut yang kelabu. Di matanya, samar-samar mengambang gambar masa depan: kampung yang hilang, laut yang bisu, dan anak-anak yang tak pernah tahu bagaimana suara cendrawasih terdengar

Ketika fajar belum sempat menyentuh permukaan laut, Yoram sudah dibawa pergi.

Tanpa surat. Tanpa penjelasan. Tanpa pengadilan.

Ia dilemparkan ke dalam mobil bak tertutup, seperti benda tak bernilai. Di sepanjang jalan menuju kota, ia hanya melihat pohon-pohon yang tumbang, tanah yang diaspal tanpa permisi, dan laut yang dipagari dengan beton.

Ia ingin menangis, tapi air mata seperti enggan keluar di tanah yang tak lagi mengenal kebenaran.

Di Sorong, ia ditahan sebagai “pengganggu stabilitas.”

Ia disebut anti-nasional. Ia difitnah sebagai provokator. Dan lebih menyakitkan lagi: wajahnya terpampang di koran lokal.

Di dalam sel sempit itu, Yoram mendengar burung-burung dari jendela yang terkunci. Tapi tidak ada suara cendrawasih.

Yang ada hanyalah dengung mesin dan tawa sinis dunia.

Kampung Sauwandarek perlahan hilang dari peta.

Sebagian besar warga pindah. Anak-anak dibawa ke kota. Rumah-rumah kayu dibiarkan lapuk. Hutan ditebas, laut ditimbun, dan perahu-perahu nelayan diparkir selamanya.

Kini, bukit Aingge sudah setengah menganga, dijarah dalam nama pembangunan. Dari perutnya, diangkut ribuan ton nikel, yang katanya akan jadi bagian dari mobil listrik di Eropa.

Tapi tak satu pun anak kampung mendapat pekerjaan tetap. Yang mereka dapat hanya debu, lumpur, dan janji yang meleleh seperti lilin di tengah siang bolong.

Davin, anak Yoram, tumbuh di kota. Ia bekerja sebagai kuli bongkar muat di pelabuhan. Ia sudah lupa bagaimana cara menyelam, lupa bahasa tanah, lupa tifa, lupa doa.

Dan yang paling menyesakkan—ia tak pernah mendengar suara cendrawasih.

Beberapa tahun kemudian, Yoram dibebaskan.

Tapi ia bukan orang bebas. Ia lelaki patah. Rambutnya memutih, tubuhnya meluruh seperti tanah yang terus digali.

Ia tinggal di barak kecil di pinggiran kota. Tiap sore, ia duduk di bangku bambu menghadap laut. Tapi laut tak lagi bersuara. Hanya ada kapal-kapal logistik dan pelabuhan besar seperti mulut naga yang terus mengunyah.

Angin sore menyapu pipi mereka. Jauh di ufuk, warna senja berubah abu. Dan langit tetap sunyi.

Raja Ampat dulu dikenal sebagai mutiara Pasifik.

Kini ia menjadi tambang—diperas dalam nama masa depan.

Mereka menggali bumi demi teknologi hijau, tapi melupakan manusia dan burung yang hidup di dalamnya.

Cendrawasih telah menyanyikan lagu terakhirnya.

Bukan karena waktu, tapi karena manusia tak lagi sudi mendengar.

SELESAI.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman

Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Menangguh Politik Hukum Ijazah Palsu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00