POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Puisi-Puisi S.Sigit Prasojo

RedaksiOleh Redaksi
November 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Litani di Bawah Waktu

~Untuk Putri Permatasari

Aku telah terlalu lama menanti,

hingga bayanganku hafal segala bentuk tundukku di hadapan doa.

Jam di dinding berdegup perlahan,

seperti dada mimpi yang enggan dilanjutkan malam.

Aku bersila di lantai—

tanpa kursi, tanpa takhta, tanpa arah kecuali diam di sini.

Waktu menetes dari helai rambutku,

menyusuri bahu dengan sisa-sisa hari

yang gagal menjelma temu.

Kadang aku menduga:

Tuhan sedang menyalin takdir

dengan tinta yang hampir habis.

Aku ingin percaya,

setiap kesunyian memiliki peta rahasianya sendiri—

dan langkahmu, di mana pun kini menapak,

sedang menuju celah cahaya yang sama

dengan tempat aku menunggumu:

meski di antara kita

terbentang berabad-abad bisu.

Aku tak lagi menanyai kapan;

waktu pun telah letih menjawab.

Aku hanya ingin memandangmu sekali nanti,

tanpa gentar, tanpa gigil,

seperti laut memandang langit:

tak bersentuh,

namun saling menyimpan warna satu sama lain.

Sebelum Segalanya Bersua

~Untuk Putri Permatasari

Kita tak pernah benar-benar bersua,

namun mataku mendadak tahu arah pulang.

Ada sesuatu di udara pagi itu—

mungkin getar langkahmu

yang urung melewati jarakku,

mungkin bayangmu

yang terselip di lipatan waktu.

Aku tak menyentuhmu,

namun dunia tiba-tiba bergeser warna:

langit merendah,

udara menua,

dan jantungku berdetak

seperti pintu yang diketuk dari dalam.

Barangkali kita bersinggungan

di dimensi doa—

tempat Tuhan menyimpan segala “hampir”

yang gagal menjelma kenyataan.

Mungkin di sana kau sempat menoleh,

menatapku sekejap—

📚 Artikel Terkait

KEPADA PARA PEREMPUAN, IBU KAMI

Rindu dan Cinta, Puisi -Puisi Zab Bransah

Sepatu Kiri di Kali Condet

WASPADAI BAHAYA INTERNET

cukup untuk mengubah arah seluruh hidupku.

Sejak itu, setiap langkah

menyimpan jejak samar dirimu:

hadir tanpa hadir,

hilang tanpa pernah dimiliki.

Aku berjalan dengan dada yang padat—

bukan oleh cinta,

melainkan oleh kesadaran baru

bahwa di dunia ini,

ada seseorang

yang membuatku percaya

pada yang tak terlihat.

Dan itu,

sudah cukup untuk kusebut

sebagai pertemuan.

Ponorogo, 2025

Tubuh sebagai Doa

~Untuk Putri Permatasari

Ada malam di mana napasku tersandung—

bukan oleh debu,

melainkan oleh namamu

yang tiba-tiba bersemi di tenggorokan.

Aku tak tahu dari mana asalnya;

barangkali dari sisa doa

yang tak sempat kupulangkan ke langit,

atau dari cermin

yang menampung wajah asing

namun matanya masih mengingat aku.

Sejak itu udara riuh oleh firasat.

Langkahku memantul di jalan

seperti gema yang kehilangan mula,

mencari tubuh yang dahulu menyebutnya suara.

Setiap cahaya yang pecah di kaca

menyimpan bayang yang hampir kukenal—

barangkali engkau,

atau diriku

yang belum selesai lahir dari sunyi.

Aku tak lagi dapat tidur.

Sebab di dalam gelap

ada tubuh yang tak sengaja kusebut,

bukan karena rindu,

melainkan karena separuh diriku tiba-tiba tahu:

ia pernah menjadi engkau

di masa yang telah gugur dari hitungan waktu.

Malam itu kuangkat tangan,

menyentuh udara yang menggigil,

dan berbisik:

“Jika ini cinta,

biarlah ia menyalakan aku

tanpa menjadikanku abu.”

Ponorogo, 2025

Epilog dari Sebuah Nama

Aku menulis namamu tanpa huruf,

sebab huruf selalu gagal

menampung yang suci sekaligus fana.

Setiap kali kutulis,

tinta menjelma jalan pulang ke matamu.

Lalu kuhapus perlahan,

karena aku tahu:

cinta tak diciptakan untuk kekal di kertas,

melainkan untuk dibaca di udara

sebelum pagi menggulungnya menjadi embun.

Jika suatu hari kau menemukan keheningan ini,

anggaplah ia suratku yang tersesat.

Tak perlu kau balas—

cukup sambut ia

dengan sepotong napas

dan segelas pengertian.

Ponorogo, 2025

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HIMA DIWANGKARA Pendidikan Bahasa Jawa  STKIP PGRI Ponorogo. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.

​

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Rumah Tuhan pun Dikorupsi, Kurang Brengsek Apa Korupsi di Negeri Ini

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00