POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bali Istimewa (yang) bukan Daerah Istimewa

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

RedaksiOleh Redaksi
November 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Bali sungguh istimewa, tapi bukan daerah istimewa. Pulau kecil di tengah lautan Nusantara ini seperti memiliki semesta sendiri.

Di sini, bahasa yang diucapkan disebut bahasa Bali, aksaranya pun aksara Bali, dan keyakinannya bernama gama Bali.

Manusia yang lahir dan tumbuh di tanah ini disebut suku Bali, yang hidup di pulau Bali, memelihara jalak Bali, menanam salak Bali, membajak sawah dengan sapi Bali, dan menyajikan masakan Bali.

Bali seperti menanam dirinya sendiri dalam setiap benda dan makna. Tak hanya nama, tetapi juga jiwa.

Ada tari Bali, legong Bali, gamelan Bali, gong Bali, dan setiap dentingnya adalah gema dari napas leluhur yang menjaga keseimbangan jagat.

Bahkan dalam sehelai ukiran pun, tangan-tangan Bali mampu menghidupkan kayu menjadi doa. Maka disebutlah ukiran Bali—bukan sekadar hasil karya, tapi tanda bahwa tangan manusia di sini masih berpadu dengan semesta.

Namun di sinilah paradoks itu berdiam: mengapa segalanya harus bernama Bali di tanah yang sudah Bali? Bukankah setiap pohon, setiap udara, sudah menyebut dirinya demikian tanpa perlu diberi label?

Tapi mungkin, justru di sanalah daya cipta itu tumbuh. Dalam pengulangan nama, Bali menegaskan dirinya agar tak larut, agar tak hanyut oleh ombak zaman yang ingin menyeragamkan dunia. Bali perlu identitas.

📚 Artikel Terkait

SI PENAKLUK SERIGALA JAHAT

Sastra: Nafas Panjang Kemanusiaan

Kuingin Seperti Fakultas Yang Lain

SMP Mulia Randublatung Mantapkan Pembelajaran Digital Berbasis Koding dan Kecerdasan Artifisial

Kalender pun tak luput dari kekhasan. Saka yang di Jawa berjalan dengan satu irama, di Bali menari dengan langkah berbeda. Waktu diukur dengan perasaan dan bintang, bukan hanya angka dan tanggal.

Satu hari di Bali bisa menjadi dua makna: dewasa ayu bagi yang menikah, ala ayu bagi yang bepergian.

Namun kini, pertanyaan dasarnya mengapung di antara kabut modernitas: masihkah Bali bangga dengan identitasnya sendiri?

Lihatlah nama-nama yang dulu berjaya di zamannya—Pepek, Cokot, Togog, Potlot, Jublag, Degeng, Ukir, Landep—nama-nama Bali yang khas, sederhana lahir dari bumi dan bunyi keseharian.

Kini nama-nama itu ditanggalkan, berganti dengan nama-nama nyastra keindia-indiaan, ada juga yang kebarat-baratan, bahkan menyerupai nama-nama artis dari layar kaca.

Padahal, dalam laku lama, orang Bali tak sembarangan memberi nama. Nama adalah panggilan jiwa, yang lahir setelah diketahui siapa yang tedun numadi, siapa leluhur yang numitis kembali dalam wujud baru. Nama bukan sekadar bunyi, melainkan jembatan antara dunia kini dan dunia asal.

Maka, jika nama saja telah tercerabut dari akar, bagaimana dengan yang lain? Masihkah Bali bangga dengan “Bali”-nya sendiri?

Ataukah ia perlahan menjadi penonton di panggung yang dulu ia ciptakan sendiri—panggung yang dulu bersuara gamelan Bali, kini mulai bergema dengan nada yang asing di telinga leluhur?

Bali, dalam paradoksnya, kini di persimpangan: antara setia menjadi dirinya, atau sibuk mencari dirinya di cermin orang lain.

Denpasar, 12 Nopember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Membaca Anugerah Fiksi Szalay dan Deem

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00