Dengarkan Artikel
Bali sungguh istimewa, tapi bukan daerah istimewa. Pulau kecil di tengah lautan Nusantara ini seperti memiliki semesta sendiri.
Di sini, bahasa yang diucapkan disebut bahasa Bali, aksaranya pun aksara Bali, dan keyakinannya bernama gama Bali.
Manusia yang lahir dan tumbuh di tanah ini disebut suku Bali, yang hidup di pulau Bali, memelihara jalak Bali, menanam salak Bali, membajak sawah dengan sapi Bali, dan menyajikan masakan Bali.
Bali seperti menanam dirinya sendiri dalam setiap benda dan makna. Tak hanya nama, tetapi juga jiwa.
Ada tari Bali, legong Bali, gamelan Bali, gong Bali, dan setiap dentingnya adalah gema dari napas leluhur yang menjaga keseimbangan jagat.
Bahkan dalam sehelai ukiran pun, tangan-tangan Bali mampu menghidupkan kayu menjadi doa. Maka disebutlah ukiran Bali—bukan sekadar hasil karya, tapi tanda bahwa tangan manusia di sini masih berpadu dengan semesta.
Namun di sinilah paradoks itu berdiam: mengapa segalanya harus bernama Bali di tanah yang sudah Bali? Bukankah setiap pohon, setiap udara, sudah menyebut dirinya demikian tanpa perlu diberi label?
Tapi mungkin, justru di sanalah daya cipta itu tumbuh. Dalam pengulangan nama, Bali menegaskan dirinya agar tak larut, agar tak hanyut oleh ombak zaman yang ingin menyeragamkan dunia. Bali perlu identitas.
📚 Artikel Terkait
Kalender pun tak luput dari kekhasan. Saka yang di Jawa berjalan dengan satu irama, di Bali menari dengan langkah berbeda. Waktu diukur dengan perasaan dan bintang, bukan hanya angka dan tanggal.
Satu hari di Bali bisa menjadi dua makna: dewasa ayu bagi yang menikah, ala ayu bagi yang bepergian.
Namun kini, pertanyaan dasarnya mengapung di antara kabut modernitas: masihkah Bali bangga dengan identitasnya sendiri?
Lihatlah nama-nama yang dulu berjaya di zamannya—Pepek, Cokot, Togog, Potlot, Jublag, Degeng, Ukir, Landep—nama-nama Bali yang khas, sederhana lahir dari bumi dan bunyi keseharian.
Kini nama-nama itu ditanggalkan, berganti dengan nama-nama nyastra keindia-indiaan, ada juga yang kebarat-baratan, bahkan menyerupai nama-nama artis dari layar kaca.
Padahal, dalam laku lama, orang Bali tak sembarangan memberi nama. Nama adalah panggilan jiwa, yang lahir setelah diketahui siapa yang tedun numadi, siapa leluhur yang numitis kembali dalam wujud baru. Nama bukan sekadar bunyi, melainkan jembatan antara dunia kini dan dunia asal.
Maka, jika nama saja telah tercerabut dari akar, bagaimana dengan yang lain? Masihkah Bali bangga dengan “Bali”-nya sendiri?
Ataukah ia perlahan menjadi penonton di panggung yang dulu ia ciptakan sendiri—panggung yang dulu bersuara gamelan Bali, kini mulai bergema dengan nada yang asing di telinga leluhur?
Bali, dalam paradoksnya, kini di persimpangan: antara setia menjadi dirinya, atau sibuk mencari dirinya di cermin orang lain.
Denpasar, 12 Nopember 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






