Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Kawan, setiap kali ada yang mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan, rasanya seperti ada yang menampar ingatan kolektif bangsa ini. Pahlawan? Untuk siapa? Untuk rezimnya? Untuk kroni-kroninya? Atau untuk kuburan para aktivis yang hingga hari ini belum mendapat keadilan?
Mari kita bicara tanpa tedeng aling-aling.
Soeharto membangun? Tentu. Tapi jangan lupa, ia membangun dengan cara membungkam.
Jalan raya dibuka, tapi mulut rakyat ditutup. Bendungan diresmikan, tapi ruang demokrasi disumbat. Ekonomi tumbuh, tapi keberanian rakyat dipatahkan satu per satu.
Apa gunanya gedung tinggi kalau ia berdiri di atas tumpukan ketakutan?
Mereka bilang, “Tapi Soeharto berjasa.”
Jasa apa, kawan?
Jasa membuat mahasiswa diculik dan tidak pulang?
Jasa membuat rakyat tak berani bersuara?
Jasa membuat korupsi tumbuh seperti jamur di musim hujan, tapi tak ada yang berani membasmi karena semua dikontrol dari satu meja kekuasaan?
Kalau itu definisi pahlawan, berarti kita sedang memperkosa makna kepahlawanan itu sendiri.
📚 Artikel Terkait
Selama 32 tahun ia berkuasa bukan karena rakyat mencintainya tapi karena rakyat dipaksa diam.
Dan ketika suara rakyat akhirnya pecah di tahun 1998, ia runtuh bukan karena ekonomi jatuh saja, tetapi karena bangsa ini sudah muak ditikam oleh ketidakadilan dan dicekoki propaganda stabilitas.
Kita tidak anti sejarah, kawan.
Kita hanya menolak sejarah dipoles hingga terlihat suci padahal bau darah masih jelas tercium.
Menjadikan Soeharto pahlawan sama saja seperti menempelkan plakat “teladan bangsa” pada seseorang yang membangun negara dengan tangan kanan, sambil menampar rakyat dengan tangan kirinya.
Itu bukan penghargaan tapi jelas sebuah penghinaan.
Penghinaan bagi para aktivis yang ditelan gelap.
Penghinaan bagi para keluarga korban.
Penghinaan bagi setiap orang yang pernah dibungkam hanya karena berani berkata “tidak”.
Jika bangsa ini masih punya sedikit saja keberanian moral, maka kita tahu jawabannya:
Pahlawan bukan mereka yang memerintah dengan rasa takut. Pahlawan adalah mereka yang berani mempertaruhkan hidup untuk kebebasan rakyat.
Dan Soeharto?
Ia justru mempertaruhkan kebebasan rakyat demi mempertahankan kekuasaannya.
Jadi, pahlawan? Tidak, kawan.
Jangan menginjak wajah rakyat dengan gelar yang tidak pantas disematkan.
Sejarah mungkin bisa dinegosiasi, tapi kebenaran dan luka tidak.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






