• Latest
Krisis Nurani: Mengapa di Negeri Ini Harus Viral Dulu Baru Ada Keadilan?

Soeharto Pahlawan? Jangan Hina Akal Sehat Kami, Kawan.

November 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Soeharto Pahlawan? Jangan Hina Akal Sehat Kami, Kawan.

Redaksiby Redaksi
November 9, 2025
Reading Time: 2 mins read
Krisis Nurani: Mengapa di Negeri Ini Harus Viral Dulu Baru Ada Keadilan?
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rivaldi

Kawan, setiap kali ada yang mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan, rasanya seperti ada yang menampar ingatan kolektif bangsa ini. Pahlawan? Untuk siapa? Untuk rezimnya? Untuk kroni-kroninya? Atau untuk kuburan para aktivis yang hingga hari ini belum mendapat keadilan?

Mari kita bicara tanpa tedeng aling-aling.
Soeharto membangun? Tentu. Tapi jangan lupa, ia membangun dengan cara membungkam.
Jalan raya dibuka, tapi mulut rakyat ditutup. Bendungan diresmikan, tapi ruang demokrasi disumbat. Ekonomi tumbuh, tapi keberanian rakyat dipatahkan satu per satu.

Apa gunanya gedung tinggi kalau ia berdiri di atas tumpukan ketakutan?

Mereka bilang, “Tapi Soeharto berjasa.”
Jasa apa, kawan?
Jasa membuat mahasiswa diculik dan tidak pulang?
Jasa membuat rakyat tak berani bersuara?
Jasa membuat korupsi tumbuh seperti jamur di musim hujan, tapi tak ada yang berani membasmi karena semua dikontrol dari satu meja kekuasaan?

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Kalau itu definisi pahlawan, berarti kita sedang memperkosa makna kepahlawanan itu sendiri.

Selama 32 tahun ia berkuasa bukan karena rakyat mencintainya tapi karena rakyat dipaksa diam.
Dan ketika suara rakyat akhirnya pecah di tahun 1998, ia runtuh bukan karena ekonomi jatuh saja, tetapi karena bangsa ini sudah muak ditikam oleh ketidakadilan dan dicekoki propaganda stabilitas.

Kita tidak anti sejarah, kawan.
Kita hanya menolak sejarah dipoles hingga terlihat suci padahal bau darah masih jelas tercium.

Menjadikan Soeharto pahlawan sama saja seperti menempelkan plakat “teladan bangsa” pada seseorang yang membangun negara dengan tangan kanan, sambil menampar rakyat dengan tangan kirinya.
Itu bukan penghargaan tapi jelas sebuah penghinaan.
Penghinaan bagi para aktivis yang ditelan gelap.
Penghinaan bagi para keluarga korban.
Penghinaan bagi setiap orang yang pernah dibungkam hanya karena berani berkata “tidak”.

Jika bangsa ini masih punya sedikit saja keberanian moral, maka kita tahu jawabannya:
Pahlawan bukan mereka yang memerintah dengan rasa takut. Pahlawan adalah mereka yang berani mempertaruhkan hidup untuk kebebasan rakyat.

Dan Soeharto?
Ia justru mempertaruhkan kebebasan rakyat demi mempertahankan kekuasaannya.

Jadi, pahlawan? Tidak, kawan.
Jangan menginjak wajah rakyat dengan gelar yang tidak pantas disematkan.
Sejarah mungkin bisa dinegosiasi, tapi kebenaran dan luka tidak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

NUTRISARI, Vitamin Moral bagi Gen Z

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com