Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
Banda Aceh adalah salah satu kota tertua dan paling kosmopolitan di Nusantara. Sejak masa Samudera Pasai hingga puncak kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17, wilayah ini menjadi simpul perdagangan internasional dan pusat studi Islam ternama di dunia Melayu. Jejak historis berupa hubungan diplomatik dengan Turki Utsmani, India, Persia, Portugis, dan Inggris menunjukkan bahwa Aceh telah menjalin relasi global jauh sebelum hadirnya modernitas. Dalam konteks inilah, gagasan Banda Aceh sebagai kota empat bahasa—Aceh, Indonesia, Arab, dan Inggris—bukan sekadar proyek global masa kini; ia justru merupakan kelanjutan logis dari DNA sejarah Aceh sebagai peradaban yang terbuka, religius, dan berwawasan dunia.
Sejak awal, bahasa Aceh berfungsi sebagai identitas lokal yang menata kehidupan adat dan komunitas. Di sisi lain, bahasa Melayu—yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia—menjadi bahasa penghubung perdagangan dan politik regional. Bahasa Arab hadir sebagai bahasa agama dan peradaban Islam. Manuskrip klasik Aceh, seperti karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani, ditulis dalam bahasa Arab–Melayu, menunjukkan peran sentral bahasa Arab dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan spiritualitas di Aceh. Sementara itu, hubungan dagang dengan Barat memperkenalkan bahasa Inggris, yang kelak menjadi pintu gerbang interaksi global modern. Dengan demikian, kota empat bahasa bukan aspirasi baru, melainkan kebangkitan tradisi yang telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh.
Tragedi tsunami 26 Desember 2004 adalah peristiwa yang membuka kembali jalur global Aceh secara luas. Bencana yang menewaskan lebih dari 230.000 jiwa ini membawa lebih dari 500 lembaga internasional ke Banda Aceh. Selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi, masyarakat berinteraksi dengan relawan, akademisi, serta tenaga teknis dari berbagai negara. UNICEF mencatat bahwa lebih dari 1,2 juta warga mengikuti program peningkatan kapasitas pascabencana. Interaksi ini memperkuat kehadiran bahasa Inggris dalam kerja sosial, riset, pendidikan, dan administrasi. Pada saat yang sama, program-program pemulihan berbasis Islam yang dikelola lembaga Timur Tengah turut memperkuat penggunaan bahasa Arab di pesantren dan perguruan tinggi Islam. Tak dapat dipungkiri, pengalaman traumatis ini justru melahirkan generasi baru yang akrab dengan dunia internasional.
Bahasa menjadi elemen strategis dalam transformasi ini. Data komunitas literasi Banda Aceh tahun 2023 menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Aceh dalam keluarga masih berkisar 70–75%. Bahasa Indonesia mendominasi ruang publik dan pendidikan hingga 95%. Kemampuan bahasa Arab fungsional diperkirakan sekitar 30–40%, terutama melalui pesantren, dayah, dan studi Islam. Sementara itu, kemampuan bahasa Inggris fungsional masih di bawah 20% pada masyarakat umum. Dengan demikian, strategi kota empat bahasa merupakan formula yang relevan, bukan hanya karena warisan sejarah dan keyakinan Islam, tetapi juga karena tuntutan kemajuan ekonomi berbasis pariwisata, riset, dan digitalisasi.
📚 Artikel Terkait
Dari sudut antropologi, multilingualisme bukan sekadar soal kompetensi linguistik, melainkan strategi keberlanjutan budaya. Bahasa Aceh yang mengakar pada adat, kesusastraan, dan hikmah lokal menjadi pondasi identitas. Bahasa Indonesia menjadi alat untuk membangun kesetaraan nasional. Bahasa Arab menghubungkan Aceh dengan dunia Islam yang lebih luas—ummah global. Sedangkan bahasa Inggris membuka pintu diplomasi, perdagangan, riset, dan teknologi. Kota-kota seperti Marrakesh, Istanbul, dan Kuala Lumpur telah membuktikan bahwa masyarakat yang mampu memadukan bahasa lokal, agama, dan global lebih tangguh dalam menghadapi modernitas. Banda Aceh memiliki peluang serupa.
Pendidikan menjadi instrumen strategis. Sekolah dasar dapat memulai integrasi bahasa Aceh dan Arab dalam pembelajaran nilai serta budaya; SMA dan kampus dapat memperkuat literasi Inggris untuk riset dan mobilitas akademik. Pengembangan kurikulum empat bahasa bukan berarti memaksa semua siswa menguasai seluruh bahasa pada tingkat yang sama, tetapi memberi ruang untuk memilih sesuai minat. Program Tahfiz dan studi Islam memerlukan kemampuan Arab; mahasiswa teknologi dan ilmu sosial perlu mendalami Inggris; sementara budaya lokal harus terus dirawat melalui sastra dan tradisi berbahasa Aceh. Penguatan ini bisa dilakukan bertahap melalui institusi formal, majelis taklim, komunitas, hingga media digital.
Modernisasi mempercepat peluang. Literasi digital Aceh, berdasarkan skor Kemendikbud 2024, masih 3,2/5 dan dapat ditingkatkan melalui pelatihan, konten lokal, dan platform pembelajaran daring. Jika bahasa Inggris dan Arab dikawinkan dengan teknologi, anak muda Aceh dapat menciptakan aplikasi wisata halal, platform pendidikan Islam, konten dakwah multibahasa, dan layanan digital berbasis syariah. Paduan empat bahasa ini memungkinkan Aceh membangun fondasi kuat menuju konsep Smart-Sharia City—kota cerdas berakar iman.
Dari sudut ekonomi dan pariwisata, Banda Aceh memiliki narasi yang unik. Data BPS 2023 menunjukkan sekitar 26.000 wisatawan mancanegara berkunjung ke Aceh, terutama dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Namun, lama tinggal wisatawan rata-rata hanya 2–4 hari, dengan nilai belanja masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan layanan bahasa dan profesionalisme. Jika pemandu wisata, museum, pelaku hospitality, dan UMKM dapat melayani dalam empat bahasa, potensi nilai ekonomi dapat meningkat 30–40%. Wisata tsunami, sejarah Islam, budaya Aceh, dan kuliner khas seperti kuah belangong, sie reuboh, hingga kopi khop memiliki daya tarik kuat. Kota empat bahasa dapat menjadi label pemasaran yang mengokohkan posisi Banda Aceh sebagai destinasi spiritual, edukatif, dan historis kelas dunia.
Kebijakan pemerintah menjadi kunci. Pemerintah dapat mendorong program pelatihan bahasa bagi ASN, guru, pelaku UMKM, dan pekerja pariwisata; standardisasi layanan publik multibahasa; serta insentif bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan kurikulum empat bahasa. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, dayah, dan organisasi internasional sangat diperlukan. Riset kebencanaan yang telah dikembangkan oleh TDMRC USK bekerja sama dengan UNDP dan JICA dapat diperluas melalui publikasi Arab–Inggris untuk menjangkau jaringan lebih luas.
Dalam perspektif global, Banda Aceh memiliki perangkat lengkap untuk menjadi pusat pertemuan dunia Islam dan Barat. Dari sejarah kegemilangan Kesultanan Aceh, pengalaman tsunami, hingga budaya adat yang kuat, kota ini telah membentuk karakter yang unik: religius, terbuka, dan resilien. Tantangan tetap besar—kemiskinan sekitar 14%, migrasi SDM, dan urbanisasi—tetapi peluang jauh lebih luas. Dengan strategi kota empat bahasa, Banda Aceh dapat memosisikan diri sebagai laboratorium sosial peradaban Islam modern, di mana tradisi dan teknologi bersatu.
Akhirnya, menjadi kota empat bahasa bukan sekadar strategi bahasa. Ia adalah strategi peradaban. Banda Aceh memiliki semua elemen untuk menulis babak baru: kota yang menjaga akar budaya, teguh dalam iman, tanggap pada perubahan, dan berperan sebagai gerbang Indonesia ke dunia. Dari ketel kuah belangong yang dimasak perlahan, kita belajar bahwa rasa terbaik lahir dari kesabaran, kesungguhan, dan perpaduan bumbu yang tepat. Demikian pula sebuah kota: ia akan memikat dunia ketika tradisi, ilmu, dan inovasi diracik dengan penuh cinta dan keyakinan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






