Dengarkan Artikel
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)
Terjemahan ayat di atas termasuk ayat yang sering dibacakan oleh para penceramah. Ayat ini memiliki makna yang sangat mendalam. Misalnya, Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini sebagai, “Allah menjadikan ibadah sebagai tujuan akhir penciptaan, karena ibadah adalah bentuk pengakuan atas keesaan Allah (tauhid).” Beliau juga menambahkan bahwa “sebagian makhluk tidak beribadah, bukan karena Allah mengingkari firman-Nya, melainkan karena mereka tidak memenuhi tujuan yang seharusnya.”
Sementara itu, Syaikh As-Sa‘di dalam tafsirnya, Tafsir As-Sa‘di, menjelaskan, “Ibadah mencakup segala perbuatan yang dicintai dan diridai Allah, baik ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin.” Dengan demikian, meski tidur, berjalan, makan, menulis, maupun kegiatan lainnya memiliki dimensi ibadah selama diniatkan untuk ibadah. Itulah mengapa Islam membekali doa untuk setiap aktivitas yang akan dan telah dilakukan.
Jika suatu kegiatan tidak benar, Islam tidak memberikan petunjuk doa untuknya. Misalnya membunuh manusia yang tidak bersalah, berjudi, ber-khalwat, dan lain-lain. Ini berarti sangat mudah menentukan benar dan salah dalam Islam. Meski demikian, masih banyak umat Islam yang belum menyadarinya, padahal sejak lahir mereka telah melakukan berbagai ritual yang disyariatkan.
Menjadi wajar bila kemudian umat Islam masih melakukan kesalahan, ingkar nikmat, dan melupakan kewajiban di saat yang sama. Cerita itu dianggap biasa saja. Kita kerap menganggap hal itu sepele, padahal keingkaran itu berakibat pada peradaban. Kok bisa?
Perilaku korupsi merupakan contoh nyata. Islam hanya sebatas agama yang dianut, tidak menjadi pedoman dalam menjalani aktivitas dunia. Sehingga aktivitas-aktivitas itu tidak bermakna ibadah. Misalnya, seseorang menjadi kaya bukan karena ingin menjadi pelaku zakat, tetapi demi validasi sosial di mata masyarakat. Padahal tidak semua orang memiliki peluang itu.
📚 Artikel Terkait
Contoh lainnya, ketika ilmu yang dimiliki bukan menambah keimanan kepada Yang Maha Kuasa dan tidak dibagikan kepada orang lain. Ilmu justru dijadikan alasan untuk sombong, merasa lebih pintar, lebih cerdas dari orang lain. Padahal ilmu yang bermanfaat seharusnya menumbuhkan kerendahan hati.
Jika kita kembali ke ayat di atas, semua aktivitas yang benar haruslah bermakna ibadah. Misalnya, menjadi pejabat berarti ia harus amanah agar bernilai ibadah. Dengan demikian, ia tidak akan melakukan kecurangan, korupsi, atau merugikan daerah maupun negara.
Nah, di era digitalisasi ini kita dapat memanfaatkan teknologi untuk bernilai ibadah. Misalnya, saat menggunakan media sosial, kita dapat berbagi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang senior saya biasa mengajarkan kemampuan berbahasa Inggris; ada juga yang berbagi pengetahuan tentang kopi, dan masih banyak lainnya. Dengan niat ibadah, membagikan ilmu melalui media sosial memiliki nilai dan makna tersendiri.
Bukan hanya agar penggunaan media sosial tidak sia-sia, tetapi juga agar keberadaan kita sebagai ciptaan Allah Azza Wa Jalla tidak sia-sia. Rumus sederhana ini memberi pola siapa kita sejatinya: manusia yang menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah. Bila selama ini kita lalai, maka selama masih bernyawa kita masih dapat mengubahnya. Jadikan setiap aktivitas sebagai ibadah.
Jangan malah sebaliknya—ibadah menjadi maksiat. Misalnya salat agar dianggap saleh, bersedekah atau berinfak agar dianggap dermawan, atau bagi yang memiliki ilmu, senang mempermainkan orang yang belum tahu. Katakanlah seorang guru yang mengajarkan ilmu, bukannya menambah pengetahuan siswanya, namun justru sebaliknya. Atau ketika gelar guru besar dijadikan dalih untuk membodohi publik dengan menutupi kebenaran.
Jadi, apa pun aktivitasnya, hendaklah berdimensi ibadah. Jika tidak, semua akan sia-sia belaka.Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






